Cara Menghitung Harga Wajar Saham dan Valuasinya, Yuk Simak!

Cara Menghitung Harga Wajar Saham dan Valuasinya, Yuk Simak!


Terakhir diperbarui Pada 5 September 2023 at 5:36 pm

Menghitung harga wajar saham dan valuasinya, merupakan hal penting dalam menganalisa kondisi fundamental perusahaan, dan mengetahui berapa harga wajar saham dari suatu emiten/perusahaan. Ini mengapa cara menghitung harga wajar saham perlu dipelajari, ditambah ada faktor-faktor yang berpengaruh didalamnya, nah apa saja itu? Yuk simak bahasanya…

 

Cara-cara Menghitung Harga Wajar Saham

Dalam melakukan analisa saham, ada beberapa faktor yang dapat dianalisa yang antara lain adalah: kondisi neraca keuangan, laba bersih, kondisi arus kas dan seberapa sering perusahaan tersebut membagikan dividend. Termasuk dengan kesehatan GCG perusahaan.

Nah, untuk harga wajar saham sendiri dapat dijadikan sebagai acuan bagi teman-teman investor untuk menentukan entry point maupun exit point dari suatu emiten. Di mana tujuannya memang untuk mendapatkan keuntungan yang optimal.

Berikut ini beberapa cara untuk menghitung harga wajar saham:

  1. Price to Earning (PER)

Price to Earning (PER) merupakan harga wajar per saham, dapat diperoleh dengan cara membagi harga saham dengan laba bersih per lembar. Dengan menghitung PER, teman-teman investor bisa mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang dapat digunakan untuk memprediksi Margin of Safety dari investor.

Umumnya investor menyukai perusahaan dengan PER yang rendah.

Berikut ini rumus menetukan harga wajar saham dari PER:

PER = Harga saham / EPS disetahunkan

Contoh: Pada 31 Juli 2023, saham PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) diperdagangkan pada level 278 per lembar dan memiliki EPS tahun berjalan sebesar 60.

Maka dapat diperoleh PER sebesar 278 / 60 = 4.63x.

Maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa harga saham ISSP sebesar 4.63x laba per lembar saham. Jadi teman-teman investor harus membandingkan PER ISSP dengan PER emiten lain di industri yang sama. Tujuannya, jelas untuk memperoleh kesimpulan apakah harga saham ISSP masih wajar atau tidak.

 

  1. Dividend Yield (DY)

Pendekatan dividen yield ini dapat digunakan untuk menghitung rasio antara dividend per lembar saham, dibandingkan dengan harga per lembar saham.

Dividend sendiri merupakan imbal hasil pasti yang diterima oleh investor setiap tahunnya. Sehingga pendekatan ini cocok digunakan untuk mengetahui harga wajar dari emiten yang rutin membagikan dividend.

Berikut ini rumus menetukan harga wajar dari Dividen yield:

Harga Wajar DY = Dividend per lembar / (harga saham per lembar x 100%)

Contoh: Pada 31 Juli 2023, saham ISSP diperdagangkan pada level 278 per lembar dan memiliki dividend per lembarnya Rp 6. Maka DY:

DY = 6 / (278 x 100%)

DY = 2.12%

Maka dapat diperoleh kesimpulan, jika teman-teman investor berencana membeli saham ISSP pada level 278. Artinya ISSP berpotensi memberikan proyeksi keuntungan dari dividend sebesar 2.12%.

 

  1. Price to Book Value (PBV)

Pendekatan PBV merupakan salah satu pendekatan yang banyak digunakan oleh investor untuk mendapatkan bagger, karena saham yang turnaround atau belum menghasilkan laba. Dan dengan memperhitungkan PBV ini, teman-teman investor tidak perlu menunggu perusahaan tersebut menghasilkan laba.

Namun dengan memiliki nilai buku yang wajar terhadap harga sahamnya saja, maka kita sudah bisa mengetahui potensi perusahaan dalam memberikan keuntungan.

Adapun acuan nilai PBV yang rendah atau di bawah 1x, menunjukkan bahwa harga saham perusahaan murah.

Berikut ini rumus menghitung harga wajar saham melalui PBV:

Price to book value (PBV) = Harga saham per lembar / nilai buku per lembar

Contoh: Pada 31 Juli 2023, saham ISSP diperdagangkan pada level 278 per lembar dan berdasarkan laporan keuangan Q1 2023 memiliki nilai buku per lembarnya Rp 591.63. Maka PBV:

PBV = 278 / 591.63

PBV = 0.46x

Maka, dapat diperoleh kesimpulan bahwa harga saham ISSP masih dibawah nilai buku per lembarnya dan masih tergolong murah.

Meski sudah diketahui murah, tidak ada salahnya jika teman-teman investor membandingkan PBV ISSP dengan PBV emiten lain di industri yang sama.

 

  1. Price Earning to Growth Ratio (PEG)

Price Earning to Growth Ratio merupakan pendekatan dengan membandingkan harga saham terhadap pertumbuhan laba, dengan kata lain pendekatan PEG ialah membandingkan Price to Earning Ratio (PER) dengan pertumbuhan EPS yang disetahunkan. Nilai PEG yang rendah dapat memperlihatkan bahwa harga saham perusahaan murah.

Berikut rumus menghitung harga wajar saham melalui PEG:

PEG = PER / EPS Growth

Contoh: Pada 31 Juli 2023, saham ISSP memiliki PER sebesar 4.8x (perhitungan lihat di rumus PER no 1) dan memiliki EPS Growth sebesar 60%. Maka PEG:

PEG = 4.8 / 60%

PEG = 0.08

Dalam contoh diatas terlihat bahwa PEG di bawah 1, menandakan valuasi yang cukup murah. Beberapa investor menyukai perhitungan harga wajar menggunakan PEG karena dapat menandakan apakah harga saham masih wajar terhadap EPS growth.

 

Faktor-faktor yang Perlu di Perhatikan dalam Menentukan Harga Wajar Saham

Setelah mengetahui bagaimana cara menghitung harga wajar saham melalui empat pendekatan di atas. Langkah berikut yang perlu dilakukan adalah menganalisa faktor-faktor apa saja yang menjadi driven harga wajar saham

  1. Fundamental atau Kondisi Perusahaan

Fundamental merupakan faktor penentu harga saham itu wajar atau tidak. Sekaligus sebagai faktor penentu utama layak atau tidaknya perusahaan untuk diinvestasikan. Mengapa demikian?

Jawabannya, karena melalui fundamental perusahaan kita dapat mengukur kondisi perusahaan, apakah sejalan dengan kondisi yang terdapat pada laporan keuangan.

Adapun komponen laporan keuangan yang perlu investor perhatikan antara lain: laporan neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas perusahaan.

Tidak hanya itu, investor bahkan dapat melakukan analisa rasio keuangan seperti Return on Equity Ratio, Return on Asset Ratio, Current Ratio dan analisa rasio lainnya berbasiskan laporan keuangan.

 

  1. Kondisi industri

Kondisi industri juga menjadi faktor penentu, apakah saham yang berada dalam industri tersebut masih memiliki harga wajar atau tidak.

Untuk mengetahu faktor ini, maka teman-teman investor dapat membandingkan performa harga saham yang dimiliki perusahaan, terhadap positioning perusahaan dalam industri tertentu. Oleh karena itu, penting bagi investor untuk melakukan analisa industri dan analisa fundamental dalam waktu bersamaan.

 

  1. Sentimen pasar

Sentimen pasar terhadap isu atau berita tertentu yang belum terjadi selalu menjadi penggerak harga saham. Contohnya:

Saham konstruksi yang booming di tahun 2014, disebabkan oleh adanya sentimen pembangunan yang masif pada saat itu, dikarenakan terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden. Sebab lainnya juga terdorong oleh naiknya harga saham emiten farmasi, akibat pandemi Covid-19 di tahun 2020 hingga 2021.

Itu mengapa, pasar saham memang sangat sensitif terhadap isu yang beredar.

 

  1. Corporate Action

Aksi korporasi merupakan penggerak harga saham yang cukup sensitif. Harga suatu saham dapat bergerak “liar”, terutama ketika menanggapi beberapa aksi korporasi yang terjadi seperti right issue, stock split, reverse stock split, pembagian dividend hingga private placement. Termasuk juga dengan ekspansi bisnis.

Umumnya, aksi korporasi akan membuat para “big player” menaruh perhatiannya pada saham yang akan melakukan aksi korporasi. Sehingga harga akan bergerak mengikuti sentimen dari aksi korporasi.

 

  1. Kepemilikan Investor Tertentu

Pergerakan harga saham tidak jarang mengikuti kepemilikan investor terhadap saham tertentu. Walaupun secara fundamental bisa jadi tidak ada perubahan. Contoh terkininya adalah kenaikan harga saham BRMS dan DEWA yang terjadi dalam waktu cepat.

Source: RTI Business

Kenaikan harga saham kedua emiten tersebut, dipicu oleh rumor bahwa keluarga Salim membeli saham DEWA dan BRMS.

 

  1. Kondisi Makro Ekonomi

Kondisi ekonomi makro turut menjadi faktor yang memengaruhi gerak harga saham. Hal ini dikarenakan kondisi makro seperti tingkat inflasi, tingkat pengangguran, GDP negara dan kondisi makro lainnya dapat merefleksikan growth dari suatu perusahaan.

 

Manfaat Mengetahui Harga Wajar Saham

Jika teman-teman investor sudah mengetahui bagaimana cara menghitung harga wajar saham, hingga faktor-faktor apakah yang memengaruhi harga wajar saham. Maka teman-teman investor, perlu tahu manfaat menghitung harga wajar saham, yang antara lain:

  1. Dapat membantu dalam memitigasi risiko kerugian terhadap suatu saham tertentu.
  2. Dapat mengetahui margin of safety dari suatu perusahaan, sebelum memutuskan membeli saham tertentu.
  3. Dapat mengetahui kapan harga target taking profit.
  4. Untuk mendapatkan gambaran yang luas mengenai kondisi perusahaan hingga industri.
  5. Agar tidak terjebak oleh influencer saham yang sengaja “menggoreng” saham tertentu.

 

Kesimpulan

Dari beberapa poin di atas, tentunya teman-teman investor sudah lebih memahami bagaimana cara menghitung harga wajar saham dan valuasinya. Di mana hal ini sangat berperan penting dalam menentukan keberhasilan investasi kita, mengingat harga saham yang bersifat fluktuatif. Bahkan dalam beberapa momen, harga saham bisa bergerak “liar”. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa ada faktor-faktor yang mampu memengaruhi pergerakan harga saham di pasar. Terutama ketika terjadi suatu aksi korporasi seperti right issue, stock split, reverse stock split, pembagian dividend, private placement, atau bahkan aktifitas ekspansi secara besar-besaran.

Dengan mengetahui cara menghitung harga wajar saham, kita sebagai investor juga akan jauh lebih optimis atas keputusan investasi yang diambil. Bahwa investasi yang dilakukan pada saham tertentu akan menghasilkan keuntungan, dan menghindarkan diri dari potensi kerugian. Happy investing!***

1
Pastikan rekan Investor tidak ketinggalan Informasi ter-update

Subscribe sekarang untuk mendapatkan update artikel terbaru setiap minggunya

keyboard_arrow_leftPrevious
Nextkeyboard_arrow_right

Komentar

Artikel Lainnya