Saham Energi Terbarukan, Mulai dari Jenis sampai Tantangannya!

Saham Energi Terbarukan, Mulai dari Jenis sampai Tantangannya!


Energi terbarukan adalah sektor yang diklaim memiliki prospek cukup menarik kedepannya. Hal ini menyusul beberapa regulasi yang memangkas penggunaan energi fossil dalam industri. Lantas benarkah? Apa saja jenis energi terbarukan dan tantangannya?

 

 

Investasi Dalam Saham Energi Terbarukan

Prospek Energi Terbarukan yang diklaim menarik, sebenarnya tidak lepas dari komitmen pemerintah, untuk mengejar Net Zero Emission (karbon netral) pada tahun 2060.

Beberapa waktu lalu Menteri BUMN – Erik Tohir telah menyatakan komitmennya bahwa pemerintah akan mendorong penghentian operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mencapai 15 Giga Watt hingga tahun 2040 mendatang.

Lalu apa saja jenis-jenis dari energi baru terbarukan? Dan siapa sajakah emitennya?

 

 

 

Untuk Anda yang ingin atau sedang menyusun investing plan Anda, tapi memiliki waktu yang terbatas untuk mengolah banyaknya informasi yang beredar, Anda bisa menggunakan Monthly Investing Plan edisi Desember 2023 yang telah terbit…

 

 

 

Jenis-Jenis Energi Terbarukan

Terdapat beberapa jenis energi terbarukan antara lain:

  1. Air

Air merupakan energi terbarukan yang paling banyak ditemui di Indonesia. Situasi tersebut tidak lepas dari Indonesia yang memiliki alam sangat mendukung untuk memanfaatkan air menjadi energi terbarukan. Ya, Indonesia memiliki banyak ungai dengan arus deras dan kontur alam yang luar biasa.

Air merupakan EBT, karena air dapat dikonversi menjadi energi listrik dengan menggunakan kincir air. Sehingga dapat menghasilkan energi kinetik yang kemudian diolah menjadi energi listrik.

Hingga saat ini Indonesia telah memiliki beberapa PLTA untuk mengelola energi air. Salah satunya masuk dalam jajaran 10 besar PLTA terbesar di Asia, yakni PLTA Cirata yang terletak di Jawa Barat.

 

 

  1. Geothermal (Panas Bumi)

Geothermal atau panas bumi merupakan energi yang dihasilkan dari panas yang ditimbulkan dari inti bumi, dengan perkiraan suhu sebesar 5.500 derajat celcius.

Geothermal diperoleh dengan melakukan pengeboran hingga mencapai titik panas di dalam bumi. Kemudian dihubungkan dengan turbin untuk menggerakan panas.

Berbeda dengan PLTA yang akan sulit memproduksi listrik saat musim kemarau. Geothermal justru akan dapat beroperasi secara normal tanpa gangguan cuaca dan musim, karena letaknya yang berada di dalam bumi.

 

  1. Biomass

Biomass merupakan energi yang dihasilkan dari organisme yang membusuk seperti kayu, sawit, kotoran hewan, limbah sampah dan limbah pertanian.

Berbeda dengan geothermal dan air, untuk memanfaatkan biomass diperlukan pengolahan biomass terlebih dulu, Sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai bahan bakar seperti biodiesel, bioethanol, dan bioavtur.

 

  1. Surya

Surya atau cahaya matahari adalah energi terbarukan. Indonesia sendiri saat ini menjadi salah satu negara yang paling beruntung, karena dapat menerima cahaya matahari dengan stabil dan hampir sepanjang tahun.

Energi surya ini dapat dikonversi menjadi energi listrik, dengan cara memasang panel surya. Bahkan cara tersebut sudah banyak juga dimanfaatkan untuk mengkonversi tenaga surya menjadi energi listrik.

 

  1. Angin

Angin merupakan salah satu energi terbarukan, yakni dengan cara memanfaatkan angin menjadi energi menggunakan kincir angin.

Di Indonesia tenaga angin dikenal dengan tenaga bayu, sehingga pembangkitnya disebut PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu). Salah satu PLTB terbesar di Indonesia adalah PLTB Sidrap yang ada di Sulawesi Selatan.

Nah itu tadi kelima energi terbarukan, cukup banyak bukan yang terdapat di Indonesia dan bahkan dapat kamu temui didaerah kamu. Lalu apa sajakah emiten-emitennya

 

 

Daftar Saham Energi Terbarukan di BEI

Di bawah adalah beberapa saham energi terbarukan yang sudah ada di BEI:

  1. KEEN (PT Kencana Energi Lestari Tbk)

KEEN merupakan perusahaaan yang bergerak dalam bidang energi terbarukan yakni air. KEEN memiliki dua anak perusahaan, yaitu PT Bangun Tirta Lestari dan PT Energi Sakti Sentosa, yang menyediakan listrik menggunakan energi air untuk keperluan industrial dan rumah tangga.

Saat ini KEEN mengoperasikan dua Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yaitu PLTA Pakkat di Sumatra Utara dan PLTA Air Putih di Bengkulu. Dari kedua PLTA tersebut menghasilkan listrik sebesar 18 MW and 21 MW.

 

  1. PGEO (PT Pertamina Geothermal Energy Tbk)

PGEO merupakan salah satu perusahaan tertua yang ada di Indonesia yang mengembangkan pembangkit listrik tenaga panas bumi. PGEO telah memulai bisnisnya pada tahun 1974, di mana pada saat itu Pertamina menemukan 70 situs panas bumi di Indonesia. Adapun panas bumi pertama ditemukan di Kamojang, Garut.

PGEO sendiri berdiri di tahun 2006 dan merupakan spin off dari bisnis Pertamina. Hingga saat ini terdapat 13 PLTP dengan total kapasitas 1.877 MW di seluruh Indonesia.

 

  1. ARKO (PT Arkora Hydro Tbk)

ARKO adalah perusahaan yang memanfaatkan air sebagai sumber energi terbarukan. Perusahaan ini didirikan tahun 2007 dan baru beroperasi secara komersial pada tahun 2010.

Jasa yang ditawarkan oleh ARKO antara lain Pembangunan PLTA dan pengoperasian PLTA milik pemerintah. Hingga saat ini ARKO memiliki beberapa PLTA yang sudah dioperasikan di berbagai provinsi seperti Jawa Barat, Sulawesi Tengah dan Lampung.

 

  1. BREN (PT Barito Renewables Energy Tbk)

BREN merupakan perusahaan milik Prajogo Pangestu yang baru IPO pada Oktober 2023. Perusahaan ini mengoperasikan beberapa pembangkit listrik tenaga panas bumi.

BREN memiliki anak perusahaan bernama PT Star Energy, salah satu perusahaan dengan penghasil listrik tenaga panas bumi terbesar di Dunia. PT Star Energy memiliki tiga pembangkit panas bumi, yakni Wayang Windu (Bandung), Salak (Bogor), dan Darajat (Garut) dengan total kapasitas 886 MW.

 

Selain keempat emiten diatas ada juga beberapa emiten yang melakukan transisi dari bisnis batubara menuju bisnis energi terbarukan, antara lain:

  1. ADRO (PT Adaro Energy Tbk)

ADRO mulai melakukan diversifikasi bisnis ke bisnis EBT. Jadi perusahaan batubara milik Boy Tohir ini mulai melakukan diversifikasi dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), di Kalimantan Selatan dengan kapasitas 70 MW.

Proyek PLTB di Kalimantan Selatan ini juga telah disepakati harga pembelian listriknya oleh PLN. Dan dioperasikan oleh anak perusahaan Adaro yakni PT. Adaro Power.

 

  1. INDY (PT Indika Energy Tbk)

INDY memiliki komitmen akan menghapus anak usaha non EBT sebelum tahun 2050. Salah satu anak perusahaan INDY yang telah dijual adalah PTRO (PT Petrosea, Tbk).

INDY sendiri memiliki rencana di tahun 2025 nanti,  pendapatan dari anak usaha non batubara dapat berkontribusi hingga 50% terhadap pendapatan keseluruhan dari INDY.

Saat ini INDY memiliki beberapa lini bisnis pada EBT, yakni penjualan motor listrik melalui PT Foxconn Indika Motor dan mendirikan site untuk energi tenaga surya terbesar di Indonesia. Untuk pendirian site energi tersebut dilakukan INDY melalui anak usaha, yakni PT Empat Mitra Indika Solar Energy. Selain itu INDY juga mengembangkan bisnis biomass melalui anak usaha PT Indika Multi Property.

Emiten manakah yang tertarik teman-teman investor koleksi?

 

 

Manfaat Investasi dalam Saham Energi Terbarukan

Investasi pada saham energi terbarukan dapat memberi manfaat yang baik tidak hanya untuk lingkungan. Namun juga baik bagi perusahaan energi terbarukan dan bagi investor selaku penanam modal. Berikut manfaatnya:

  1. Potensi imbal hasil yang besar

Investasi pada sektor bisnis energi terbarukan diperhitungkan mampu memberi imbal hasil yang besar. Di mana hal ini juga sangat baik bagi pertumbuhan ekonomi ke depannya. Sejalan dengan terus naiknya permintaan dan penawaran, serta adanya berbagai dukungan yang mendorong sektor energi terbarukan.

Berdasarkan data terbaru yang dirilis International Renewable Energy, transformasi energi yang massif belakangan telah menekan kenaikan suhu global, yakni di bawah 2 derajat celcius. Dengan perhitungan menelan biaya sekitar $19 triliun business as usual. Namun ke depannya dapat menghasilkan $50 – $142 triliun di tahun 2050. Angka tersebut ditaksir dapat mendorong PDB dunia hingga 2.4%.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh ‘Perspektif Dekarbonisasi Mendalam’ yang memiliki target emisi nol bersih atau net zero emission. Diperhitungkan secara global di tahun 2050 – 2060 akan membutuhkan biaya $35 – $45 triliun. Namun dapat menghemat sebesar $62 – $169 triliun dari penurunan biaya kesehatan dan juga sosial, sejalan turunnya polusi udara.

Source: wri-indonesia.org

Perkiraan di atas, menjadi kabar baik untuk sektor industri karena akan menawarkan peluang bisnis baru dan berbagai lapangan pekerjaan baru yang meluas. Di mana energi terbarukan ini mampu melibatkan berbagai sektor bisnis, mulai dari teknologi, manufaktur, konstruksi, perdagangan, hingga jasa, dan lain sebagainya.

  1. Berdampak baik bagi kesehatan lingkungan dan sosial

Dengan berkembangnya sektor industri energi terbarukan, maka akan tercipta energi yang bersih dan juga efisien. Pada akhirnya akan melahirkan manfaat sosial yang luas karena sektor energi terbarukan mampu memberi kontribusi pada pembangunan, kesejahteraan, pelestarian, hingga perlindungan lingkungan yang berkelanjutan.

 

 

 

Risiko Saham-Saham EBT

Berinvestasi di saham energi terbarukan juga memiliki risiko yang antara lain:

  • Bisnis belum sepenuhnya teruji

Sampai dengan saat ini sektor industri energi terbaru (EBT) masih menjadi hype. Namun dalam pelaksanaan dan implementasinya, tentu tidak lepas dari masalah seperti emiten-emiten konstruksi yang beberapa tahun lalu juga “hype”.

 

  • Tantangan menggantikan batubara

Hingga kini sekitar 70% pembangkit listrik yang ada di Indonesia masih menggunakan batubara. Adapun sebagai tantangannya, jika itu digantikan dengan EBT apakah dapat sepenuhnya tergantikan? Atau justru akan lebih mahal jika menggantikan batubara?

Berkenaan dengan hal in, tentu akan ada gesekan dengan PLN. Di mana PLN akan memilik cost efficiency, sebagaimana posisi perusahaan yang sudah lebih dulu menjamin hajat hidup orang banyak dan harga jual yang juga diatur pemerintah.

 

  • Risiko finansial yang relatif besar

Sejalan dengan tingginya biaya yang diperlukan untuk membeli dan memiliki saham energi terbarukan. Tentu sebanding dengan risiko finansial yang akan diterima. Pasalnya sektor industri energi terbarukan ini memiliki risiko yang tinggi, mulai dari gagalnya proyek, persaingan pasar yang kian ketat, regulasi yang belum ditetapkan, hingga berbagai faktor lain tak terduga.

 

 

 

Ada lebih dari 800 emiten yang terdaftar di BEI. Maka untuk mempermudah pemantauan kinerja laporan keuangan dan rasio-rasionya, bisa memanfaatkan Cheat Sheet Kuartal III-2023.

 

 

 

 

Kesimpulan

Berinvestasi saham energi terbarukan dalam beberapa waktu ke depan dapat menjadi alternatif portfolio yang layak dipertimbangkan. Hal ini menimbang prospek bisnis yang masih terbuka lebar dengan berbagai dukungan dan juga permintaan yang juga tumbuh positif.

Dalam hal ini metode value investing juga dapat dipergunakan sebagai strategi mengelola investasi saham energi terbarukan. Di mana kita dapat memilih saham dengan fundamental yang baik dan sehat, prospek yang menarik, valuasi yang masih rendah, pertumbuhan bisnis yang tinggi, hingga potensi dividen yang ditawarkan.

Nah menurut teman-teman investor sendiri, bagaimana? Apakah dengan manfaat dan risiko seperti di atas sudah membuat teman-teman melirik saham energi terbarukan?***

 

###

 

1
Pastikan rekan Investor tidak ketinggalan Informasi ter-update

Subscribe sekarang untuk mendapatkan update artikel terbaru setiap minggunya

keyboard_arrow_leftPrevious
Nextkeyboard_arrow_right

Komentar

Artikel Lainnya

Youtube Update

Our Social Media

Arsip Artikel