efek psikologis piala dunia

Efek Psikologis Piala Dunia dan Pembentukan Harga Saham


Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Perhelatan Piala Dunia (World Cup) yang diadakan selama empat tahun sekali diadakan. Merupakan turnamen sepakbola terbesar yang dinanti-nantikan oleh ratusan juta bahkan miliaran penggemar sepakbola di seluruh dunia. Begitu kuatnya magnet dari World Cup ini. Percaya atau tidak percaya, memberikan pengaruh juga terhadap bursa saham. Bagaimana efek psikologis piala dunia ini terhadap bursa saham?.

Berhubung sebentar lagi Piala Dunia 2018 akan digelar. Pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai efek yang ditimbulkan dari Piala Dunia. Dan bagaimana pengaruhnya terhadap proses pembentukan harga saham?.

 

Efek Psikologis Piala Dunia : Efek Kemenangan dan Kekalahan Tim Nasional terhadap Pasar Saham

Goldman Sachs membuat sebuah penelitian mengenai efek yang ditimbulkan oleh Piala Dunia terhadap bursa saham. Dalam report tersebut, Goldman Sachs memberikan statistik. Bahwa dari 15 bursa saham internasional yang ditelitinya, rata-rata volume perdagangan saham sebuah negara cenderung turun 45% dari rata-rata transaksi sebelumnya ketika tim nasional nya berlaga. Volume perdagangan bursa saham di Eropa rata-rata turun 38%. Volume perdagangan bursa saham di Amerika rata-rata turun 43%. Dan volume perdagangan di Amerika Selatan turun paling drastis yaitu 75%.

Dalam report tersebut, Goldman Sachs juga meneliti bahwa pasar saham negara-negara yang menjuarai Piala Dunia cenderung mengalami kenaikan rata-rata 3.5% setelah Piala Dunia usai. Penelitian tersebut dilakukan sejak Piala Dunia 1974. Dari serangkaian hasil penelitian, hanya Brazil yang bursa sahamnya tidak mengalami kenaikan setelah menjuarai Piala Dunia 2002. Kemungkinan besar karena Brazil sedang dalam masa resesi keuangan. Namun efek dari menjuarai Piala Dunia tersebut tidak berlangsung lama. Yaitu hanya sekitar 3 bulan saja. Dan dalam beberapa kasus, bursa saham justru mengalami penurunan 4% di tahun berikutnya.

Berbanding terbalik dengan negara yang menjuarai World Cup, negara yang menjadi Runner-Up atau kalah di final, justru bursa sahamnya mengalami underperform atau turun 5.6% selama 3 bulan pasca Piala Dunia tersebut usai. Demikian pula, negara-negara yang dipastikan kalah di babak penyisihan dan tidak lolos ke babak selanjutnya, rata-rata mengalami penurunan 0.5% pada hari perdagangan keesokan harinya.

Dan jika Anda perhatikan, efek penurunan bursa saham dari negara-negara yang kalah di final lebih kuat. Dibandingkan dengan efek kenaikan bursa saham dari negara-negara yang menjuarai World Cup. Hal ini bukan dikarenakan kekalahan tersebut lantas membahayakan ekonomi negara tersebut. Namun kekalahan di final tersebut mempengaruhi mood investor. Perubahan Mood ini lebih jelas terlihat di negara-negara yang terkenal fanatik dengan tim nasional nya. Seperti Argentina, Brazil, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol.

 

Pengaruh Terhadap US Stock Market yang bukan negara Fanatik Sepakbola?

Bagaimana dengan US Stock Market yang menjadi kiblat perdagangan saham dunia?. Riset lanjutan dilakukan oleh Guy Kaplansky dan Haim Levy dengan sample US Stock Market. Meskipun US bukan termasuk negara fanatik sepakbola seperti hal nya negara-negara di atas (termasuk ketika menjadi tuan rumah di Piala Dunia 1994 pun US hanya mencapai 16 besar saja). Namun studi tersebut menunjukkan bahwa secara rata-rata, US Stock Market ikut turun sebesar 2.6% selama penyelenggaraan Piala Dunia berlangsung. Mengapa? Karena hampir satu per tiga dari total transaksi di US dilakukan oleh international investors. Setiap fase Piala Dunia berlangsung (penyisihan, 16 besar, quarter final, dsb), maka jumlah negara yang kalah pun akan serta meningkat. Sehingga setiap penyelenggaraan Piala Dunia, US Stock Market akan menghadapi “one winning country and dozens of losing countries”. Jadi US Stock Market bukan turun ketika tim nasionalnya kalah.
Melainkan turun karena dipengaruhi oleh hampir semua pertandingan.

Tidak hanya bursa saham atau indeks nya saja yang mengalami penurunan ketika tim nasional nya kalah dalam World Cup, namun individual stocks tertentu juga ikut terpengaruh. Sebuah penelitian dilakukan pada sebuah saham yaitu STMicroelectronics, sebuah perusahaan besar yang memproduksi semiconductor, yang diperdagangkan pada dua bursa saham yaitu bursa saham Italia dan Prancis. Studi menunjukkan ketika Prancis kalah 1 – 2 melawan Afrika Selatan pada penyisihan grup A Piala Dunia 2010, harga saham STMicroelectronics di bursa saham Prancis langsung drop sesaat setelah Afrika Selatan mencetak gol (yang membuat Prancis gagal lolos ke 16 besar). Namun yang menarik, harga saham STMicroelectronics di Bursa saham Italia tidak terpengaruh sama sekali. Dua hari kemudian, ketika Italia kalah 2 – 3 melawan Slovakia (yang juga membuat Italia gagal lolos ke 16 besar), harga saham STMicroelectronics drop di bursa saham Italia, namun tidak demikian di bursa saham Prancis.

Prancis ketika kalah 1 – 2 dari Afrika Selatan pada Penyisihan Grup A Piala Dunia 2010

                Dari beberapa studi di atas, kita bisa melihat bahwa sebagian besar anomaly terjadi lebih kuat saat tim nasional kalah ketimbang tim nasional menang dan menjuarai Piala Dunia. Kesimpulan tersebut juga ditulis oleh studi dari UK yang berjudul “Sports Sentiment and Stock Returns”. Yang menyebutkan bahwa kekalahan tim nasional Inggris cenderung dapat menggerakkan indeks. Namun tidak ada bukti yang kuat bahwa kemenangan tim nasional dapat menggerakkan indeks. Literatur tersebut mengatakan bahwa ada perbedaan yang besar antara reaksi para fans dalam menyikapi sebuah kemenangan dan kekalahan. Kemenangan tidak serta merta meningkatkan mood pada tingkat yang besar. Namun sebuah kekalahan langsung menurunkan mood pada tingkat yang besar.

Proses yang sama terjadi pada reaksi pada investor pasar saham. Mood menggerakan pasar, dan mood dipengaruhi lebih kuat oleh kekalahan ketimbang kemenangan.  Karena setiap supporter merasa tim nasionalnya paling kuar dan akan memenangkan Piala Dunia, maka setiap kemenangan dianggap hal yang wajar (take it for granted) dan kekalahan dianggap sebagai bencana.

 

Bagaimana Pengaruh Piala Dunia Terhadap Pasar Saham Indonesia?

Indonesia, meskipun bukan sebagai salah satu peserta turnamen Piala Dunia, memiliki basis penggemar sepakbola yang sangat besar, bahkan diakui sebagai salah satu yang terbesar di dunia. Penulis coba mengambil snapshot dari empat penyelenggaraan terakhir World Cup (2010 dan 2014) dan Euro Cup (2012 dan 2016), dan berikut adalah snapshot nya :

 

IHSG selama Penyelenggaraan World Cup dan Euro Cup

 

Jika Anda perhatikan, selama penyelenggaraan World Cup dan Euro Cup, pasar saham Indonesia lebih banyak bergerak mendatar atau sideways dengan kenaikan atau penurunan yang tidak terlalu signifikan. Pergerakan yang relative besar (+2.38%) terjadi ketika World Cup 2010, namun itu pun karena ada efek bursa saham kita masih recovery dan dalam trend bullish kuat setelah sebelumnya dihajar pada tahun 2008. Namun pada tiga penyelenggaraan terakhir, IHSG hanya menunjukkan kenaikan atau penurunan yang relative kecil yaitu +- 1% saja.

Pergerakan sideways IHSG dibarengi dengan penurunan volume perdagangan. Sebuah studi menunjukkan bahwa rata-rata volume perdagangan selama berlangsungnya Piala Dunia lebih rendah 78% (World Cup 1998), 13% (World Cup 2002), 35% (World Cup 2006) jika dibandingkan dengan rata-rata transaksi harian sepanjang tahun.

Tidak bisa dipungkiri memang magnet dari World Cup membuat perhatian para investor teralihkan sejenak ke turnamen terbesar empat tahunan ini. Bisa jadi juga karena turnamen ini dianggap lebih penting daripada trading saham yang bisa “dilakukan kapan saja”. Meskipun tidak ada studi yang valid, namun bisa jadi investor atau trader pasar saham di Indonesia juga rata-rata adalah penggemar sepakbola yang kelelahan bedagang menonton siaran langsung Piala Dunia (maklum rata-rata siaran langsung jadwalnya adalah Malam Hari dan Subuh kalau di Indonesia), dan bisa jadi sebagian dari investor / trader pasar saham tersebut memindahkan uangnya untuk dipakai taruhan sepakbola (karena katanya gak seru nonton sepakbola kalau gak pakai taruhan)

Yang tidak kalah menarik untuk diperhatikan adalah, efek yang ditimbulkan pasca Piala Dunia tersebut usai. Jika kita lihat kembali empat penyelenggaraan World Cup dan Euro Cup yang terakhir, IHSG mencatatkan trend bullish pasca penyelenggaraan Piala Dunia usai. Hal yang bisa menjelaskan ini kemungkinan besar karena kegiatan investor atau trader sudah “back to normal”. Perhatian investor kembali tertuju pada bursa saham, sehingga uang yang tadinya dipakai untuk taruhan sepakbola dikembalikan lagi kepada bursa saham. Maka bisa jadi ketika bursa saham bergerak sideways selama masa penyelenggaraan Piala Dunia, adalah masa untuk mengakumulasi saham.

 

Kesimpulan

Beberapa studi di atas menunjukkan bahwa ada peran aspek psikologis dalam pembentukan harga saham. Meskipun sebagai value investor, Anda pasti memahami bahwa tidak ada hubungan antara kekalahan sebuah tim dari kompetisi dengan fundamental sebuah perusahaan. Jadi, ungkapan bahwa stock market is influenced by investors’ psychology memang berperan namun hanya dalam jangka pendek saja. Dalam jangka yang lebih Panjang, harga saham akan senantiasa bergerak sesuai dengan fundamental perusahaan itu sendiri.

Anyway, apa team favorit Anda di Piala Dunia 2018 kali ini?

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Juni 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop Value Investing dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0896-3045-2810 (Johan)

 

Tags : | efek psikologis piala dunia | efek psikologis piala dunia | efek psikologis piala dunia | efek psikologis piala dunia | efek psikologis piala dunia |

Tags:

You may also like

1 Comment

  • augi
    March 19, 2019 at 11:34 AM

    memang benar pasar sangat sulit ditebakkk

LEAVE A COMMENT

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Share this Post

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami