SWF Indonesia Investment Authority (INA) jadi Alternatif Pembiayaan Nasional, Apa Bedanya dengan SWF di Negara Lain ?

SWF Indonesia Investment Authority (INA) jadi Alternatif Pembiayaan Nasional, Apa Bedanya dengan SWF di Negara Lain ?


Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia sudah resmi terbentuk dengan nama lembaga Indonesia Investment Authority (INA). INA akan menjadi terobosan baru dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan di Indonesia, sekaligus menyusul ketertinggalan Indonesia dari negara-negara lain yang sudah lebih dulu membentuk SWF. Lantas, apa bedanya Indonesia Investment Authority (INA) dengan Sovereign Wealth Fund di negara lain ? Dan dari mana Indonesia Investment Authority (INA) mendapatkan sumber dana ?

 

Perbedaan SWF Indonesia Investment Authority dengan SWF Negara Lain

SWF Indonesia Invesment Authority (INA) sudah genap satu bulan sejak dibentuk pada 15 Desember 2020 lalu. Keberadaan INA dinilai akan dapat mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain yang sudah lebih dulu membentuk SWF. Lantas, apa sih yang membedakan SWF Indonesia Investment Authority dengan SWF di negara lain ?

SWF Indonesia Investment Authority (INA) yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia ini, lebih cenderung menjalankan perannya untuk mengelola investasi dan mengoptimalkan nilai investasi negara dalam jangka panjang. Lebih luasnya lagi, INA juga akan berupaya meningkatkan FDI (Foreign Direct Investment atau investasi langsung); mendorong perbaikan iklim investasi; memaksimalkan modal; dan juga aktif dalam pengembangan ekonomi maupun peningkatan produktivitas domestik jangka panjang. Misalnya untuk kebutuhan investasi di infrastruktur fisik.

Dengan INA, Indonesia memiliki tambahan pembiayaan alternatif yang bisa didapatkan melalui dana investasi yang ditanamkan oleh investor, baik investor dalam maupun luar negeri. Namun yang diutamakan adalah investor dari luar. Hal ini sejalan dengan rencana pemerintah, yang memilih jenis SWF untuk kebutuhan mengelola investasi. Oleh karena itu, dari sisi penerapannya, SWF Indonesia Invesment Authority (INA) ini lebih berorientasi untuk menawarkan kegiatan investasi, terutamanya investasi di proyek-proyek infrastruktur dengan imbal hasil yang cukup baik. Investasi tersebut diterapkan, dengan pengambialihan aset infrastruktur BUMN maupun dengan memberikan pembiayaan untuk pengembangan proyek Di mana tujuannya adalah untuk mendatangkan investasi, terutamanya investasi dari luar negeri, agar bisa diinvestasikan di proyek dalam negeri.

Sedikit mengulas kembali, SWF Indonesia Invesment Authority mendapatkan modal awal senilai US$ 1 miliar (atau setara Rp 15 triliun) sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 73 Tahun 2020. Ke depannya, pemenuhan modal SWF akan dilakukan secara bertahap sebagai modal dasar yang nilainya mencapai US$ 5 miliar (setara Rp 75 triliun di tahun 2021) yang rinciannya terdiri dari :

  • Sebesar US$ 2 miliar berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021
  • Sebesar US$ 3 miliar berasal dari trasfer aset BUMN

Danuntuk ke depannya, pemerintah menargetkan sumber pendanaan untuk SWF Indonesia Invesment Authority  (INA) berasal dari pendanaan senilai US$ 15 miliar – US$ 20 miliar dari investor dalam maupun luar negeri.

Hal tersebut, tentu berbeda dengan Sovereign Wealth Fund di negara-negara lain yang sudah membentuk dan menerapkannya selama bertahun-tahun. Sovereign Wealth Fund (SWF) sebagai badan milik negara yang mengelola dana investasi, pada dasarnya memiliki berbagai macam sumber dana, namun pada umumnya SWF di negara lain lebih cenderung mengelola dana yang berasal dari cadangan surplus negara. Tapi tidak menutup kemungkinan, SWF juga mengelola cadangan devisa bank sentral, atau dana dari total surplus perdagangan maupun surplus anggaran, dana hasil privatisasi, atau bahkan pemasukan negara dari kegiatan ekspor, serta masih banyak yang lainnya.

Sebut saja, salah satu negara yang sudah membentuk SWF, yakni Norwegia yang memiliki SWF Norges Bank Investment Management/NBIM (familiar dikenal : Norwegian Oil Fund), dengan dana kelolaan sebesar NOK 10.97 triliun. Menariknya, NBIM ini bukan hanya menjalankan perannya sebagai SWF, tetapi juga berfungsi sebagai bank sentral. NBIM pun disebut sebagai salah satu lembaga investasi terbesar di dunia. Dalam menjalankan perannya sebagai SWF, NBIM ini memperoleh sumber dana yang berasal dari surplusnya ekspor minyak dan gas bumi, sehingga dinamakan Norwegian Oil Fund. Tercatat hingga saat artikel ini ditulis, NBIM mengelola dananya diberbagai instrumen yang totalnya mencapai 9.202 perusahaan di berbagai negara. Termasuk perusahaan ternama yakni Apple, Nestle, Microsoft, Samsung, dan lainnya. (Source : https://www.nbim.no/en/)

Kemudian, negara lain yang juga sudah membentuk SWF adalah Singapura, yang diberi nama GIC Private Limited dengan dana kelolaan senilai lebih dari US$ 453 miliar dan tersebar di sekitar 40 negara. GIC Private Limited berperan untuk membangun potfolio yang menghasilkan keuntungan menarik dalam jangka panjang. Adapun sumber dana yang diperoleh GIC Private Limited sepenuhnya berasal dari pengelolaan cadangan devisa Singapura. (Source : https://www.swfinstitute.org)

Berikutnya, juga ada dari SWF Malaysia yang diberi nama Khazanah Nasional Berhad di Malaysia dengan dana kelolaan sekitar USD 29 miliar. Khazanah Nasional Berhad ini mendapatkan dana untuk pembiayaan yang berasal dari internal negara, yakni kekayaan pemerintah Malaysia. Dana yang diperoleh itu, kemudian akan ditumbuh kembangkan sebesar mungkin ke sektor-sektor yang dianggap strategis. Khazanah Nasional Berhad juga melakukan diversifikasi sumber pendapatan negara. (Source : https://www.khazanah.com.my/)

Ada juga, SWF Arab Saudi yang bernama Saudi Arabian Monetary Agency, sebagai SWF milik pemerintah, Saudi Arabian Monetary Agency melakukan pengelolaan terhadap kelebihan cadangan devisa negara. Jadi, jika sewaktu-waktu harga minyak mengalami kenaikan, negara masih mempunyai dana tabungan. Bahkan, dana tersebut juga dikelola ke berbagai instrumen investasi. (Source : katadata.co.id)

Nah, dari beberapa penjelasan mengenai SWF di negara lain, setidaknya kita tahu bahwa Souvreign Wealth Fund (SWF) dari Norwegia, Singapura, ataupun Malaysia, Arab Saudi lebih mengandalkan dana yang berasal dari kekuatan negara sendiri.

Sangat berbeda dengan konsep SWF Indonesia Invesment Authority (INA) yang dibentuk pemerintah Indonesia. Di mana INA justru mengandalkan sumber dana yang berasal dari luar negeri, dengan membuka peluang partisipasi sebesar-besarnya bagi investor luar negeri. Bahkan cukup disayangkan, karena pembentukan SWF Indonesia Invesment Authority ini dibentuk ketika kondisi keuangan Indonesia sedang mengalami defisit. Lantaran Indonesia sedang tidak seimbang antara kemampuan pembiayaan domestik dengan tingginya kebutuhan pembangunan nasional yang belakangan tengah dikejar oleh pemerintah. Di tambah lagi dengan kapasitas pembiayaan BUMN yang juga terbatas, dan rasio utang pemerintah yang lebih tinggi dibanding Produk Domestik Bruto/PDB).

 

Sumber Dana SWF Indonesia Invesment Authority (INA)

Setelah kita tahu, perbedaan SWF Indonesia Invesment Authority (INA) dengan beberapa SWF di negara lain. Tentu yang jadi pertanyaan seterusnya, adalah dari mana SWF Indonesia Investment Authority (INA) mendapatkan dana ?

Jika, Anda ingat pada beberapa hari lalu kita juga sudah pernah membahas mengenai pembentukan SWF Indonesia Invesment Authority (INA) dalam artikel terpisah lainnya…

SWF Indonesia Siap Beroperasi

[Baca lagi : SWF Indonesia Siap Beroperasi Tahun 2021. Seperti Apa Realisasinya ?]

 

Dalam artikel tersebut, nampaknya awal tahun ini bisa dikatakan menjadi momentum penting bagi bangkitnya ekonomi dan investasi Indonesia. Lantaran, kini Indonesia memiliki tambahan alternatif pembiayaan nasional, selain dari bantuan pinjaman dan APBN yang cukup terbatas. Secara tidak langsung, hal ini memang menguntungkan bagi Indonesia. Karena ke depannya, Indonesia tak perlu lagi merasa khawatir tentang biaya pembangunan negara.

Dan per artikel ini ditulis, rupanya pemerintah tengah mempersiapkan Standard Operating Procedure (SOP), yang ditargetkan pada Kuartal II-2021 nanti akan siap menyalurkan dana investasi yang ditanamkan oleh investor. Sementara untuk dana yang akan kelola oleh SWF Indonesia Invesment Authority (INA), akan diperoleh dari sejumlah negara yang komitmen untuk menanamkan modalnya ke Indonesia. Hingga sejauh ini, tercatat ada beberapa negara besar yang sudah komitmen untuk berinvestasi di Indonesia, antara lain :

Uni Emirat Arab (UEA), berdasarkan pertemuan presiden PakDe Jokowi dengan Presiden dan Putra Mahkota UEA – Sheikh Mohammed Bin Zayed pada Januari 2020 lalu. Bahwa UEA setidaknya menyanggupi dana investasi ke Indonesia senilai USD 22.8 miliar, yang akan disalurkan melalui Abu Dhabi Investment Authority (ADIA).

Source : https://maritim.go.id

Kemudian, Amerika Serikat juga menyatakan kesiapannya berpartisipasi ke dalam pendanaan Indonesia Investment Authority (INA). Partisipasi AS akan dilakukan melalui perusahaan pembiayaan AS yakni International Development Finance Corporation (IDFC), untuk menggelontorkan dana invetasi senilai USD 2 miliar atau setara Rp 28 triliun kepada Indonesia Invesment Authority (INA). Keikutsertaan AS ini dicapai melalui penandatanganan Letter of Interest pada November 2020, dan turut disaksikan oleh Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi – Luhut B. Pandjaitan yang bertemu dengan Presiden AS – Donald Trump, Penasihat Gedung Putih As – Ivanka Trump dan Jared Kushner, serta CEO IDFC – Adam Boehler.

Source : https://maritim.go.id/idfc-tanda-tangani-loi-untuk-investasi-usd-2/

Berikutnya, Jepang juga akan menanamkan modalnya ke Indonesia, komitmen investasi ini dinyatakan oleh Gubernur Japan Bank of International Cooperation (JBIC) – Maeda Tadashi. Dana investasi tersebut senilai USD 4 miliar atau setara Rp 57 triliun. Komitmen ini dicapai setelah adanya pertemuan antara Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi – Luhut B. Pandjaitan dan Gubernur JBIC bertemu pada Desember 2020 lalu. Bahkan sejumlah kalangan pebisnis Jepang, turut tertarik untuk berpartisipasi dalam pembangunan, misalnya seperti pembangunan health tourism di Bali, dan penyelesaian manajemen operator pelabuhan serta investasi di Kawasan Industri Batang.

https://kemlu.go.id/menko-luhut-jepang-akan-investasi-57-triliun-rupiah-dukung-swf-indonesia

Disusul kemudian dengan beberapa negara yang dinyatakan oleh Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi – Luhut B. Pandjaitan, juga akan dibidik untuk menjadi investor melalui SWF Indonesia Invesment Authority. Antara lain : Kanada yang juga berminat menanamkan modalnya sekitar USD 2 miliar atau setara Rp 28 triliun ke SWF Indonesia Investment Authority (INA). Lalu, Macquarie Group Limited milik Australia yang disebut juga akan menanamkan modal ke indonesia.

Dari beberapa negara di atas, pemerintah pun masih membuka peluang urunan pembiayaan SWF Indonesia Invesment Authority (INA) dari negara-negara lainnya. Adapun secara keseluruhan, target total nilai investasi yang akan dikelola oleh Indonesia Investment Authority (INA) adalah sebesar USD 6 miliar – USD 7 miliar atau setara Rp 84.6 triliun – Rp 70 triliun.

Kesimpulan

SWF Indonesia Invesment Authority (INA) yang dibentuk pemerintah Indonesia baru-baru ini, memang dinilai akan membangkitkan kembali prospek ekonomi sekaligus investasi di Indonesia. Kendati demikian, dalam penerapannya SWF Indonesia Invesment Authority (INA) ini memiliki perbedaan dengan SWF di negara-negara lain. Adapun perbedaan yang paling mendominasi adalah dari sisi bagaimana INA memperoleh dana kelolaan. Lantaran INA dalam jangka panjang ke depan akan memperoleh dana yang bersumber dari dana investasi yang ditanamkan oleh investor luar. Sehingga dari sisi penerapannya, SWF Indonesia Invesment Authority (INA) ini lebih berorientasi untuk menawarkan kegiatan investasi, terutamanya investasi di proyek-proyek infrastruktur dengan imbal hasil yang cukup baik. Tercatat yang hingga kini sudah bersedia menyuntikkan dana investasinya ke Indonesia melalui INA, adalah Uni Emirat Arab (UEA), Amerika Serikat, dan Jepang. Serta negara lain yang masih akan dibidik oleh Indonesia.

Tentu hal tersebut berbeda dengan SWF di negara lain, seperti Norwegia, Singapura dan/atau Malaysia yang perolehan dana nya berasal dari internal negara, dengan mengelola sebaik mungkin potensi kekayaan negara.

Meski demikian, akan terlalu dini jika kita menilai hasil kinerja SWF Indonesia Invesment Authority (INA). Mengingat akan ada banyak aspek-aspek yang harus diperhatikan oleh pemerintah, apalagi pemerintah perlu menyiapkan pedoman yang jelas dalam menguji kalayakan calon investor, terutama investor asing tadi. Terlepas dari itu, tentu kita berharap dengan adanya SWF Indonesia Invesment Authority ini, kondisi ekonomi dan investasi kembali bangkit…

 

Bagi Anda yang ingin mengetahui saham apa saja yang memiliki fundamental bagus dan harganya masih terdiskon (undervalued). Anda bisa menggunakan E-Book Quarter Outlook Q3 2020 yang telah terbit.

https://member.rivankurniawan.com/ebook-quarter-outlook

 

###

 

Info:

Tags : SWF Indonesia Invesment Authority | SWF Indonesia Invesment Authority | SWF Indonesia Invesment Authority | SWF Indonesia Invesment Authority | SWF Indonesia Invesment Authority | SWF Indonesia Invesment Authority | SWF Indonesia Invesment Authority

You may also like

1 Comment

LEAVE A COMMENT

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Share this Post

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami