MIDI Melepas Lawson

MIDI Lepas Kepemilikan di Lawson, Bagaimana Dampak ke Depannya ?


Setelah harga saham MIDI sempat bearish di sepanjang tahun 2014 yang membuat harga saham nya merosot sampai harga terendah Rp 450-an, sepanjang tahun 2015 – 2018 harga saham MIDI kembali berada dalam tren bullish hingga mencapai Rp 1100-an per Kuartal II 2018, atau harga sahamnya telah meningkat sekitar 144% dalam 1 tahun terakhir. Namun, bagaimana dengan kondisi kinerja fundamental nya ? Terlebih setelah MIDI melepas kepemilikan di Lawson..

 

Sekilas Tentang MIDI

PT Midi Utama Indonesia Tbk didirikan pada bulan Juni 2007 dengan ruang lingkup Perseroan bergerak dalam bidang perdagangan umum, termasuk perdagangan toserba/swalayan dan minimarket dengan target segmentasi pasar nya MIDI adalah middle market.

Gerai kepemilikan MIDI

Konsep Alfamidi diciptakan untuk menyesuaikan perubahan pola belanja konsumen dari belanja bulanan menjadi belanja mingguan di toko terdekat. MIDI mengusung konsep supermarket mini dengan luas area penjualan 200 hingga 400 meter persegi. Keunikan Alfamidi yang membuat berbeda dengan gerai sejenisnya adalah menyediakan produk fresh food, daging olahan dan makanan beku yang dibutuhkan masyarakat. Di tahun 2009, MIDI mengembangkan gerai baru bernama Alfaexpress dengan konsep menyediakan makanan dan minuman siap saji. Namun, pada Maret 2015 Alfaexpress sudah tidak ada lagi.

Pada tahun 2011, MIDI menandatangani perjanjian Master Lisence Agreement (MLA) dengan Lawson Inc. Jepang, memberikan hak eksklusif bagi Perseroan untuk menggunakan dan bertindak sebagai Sub-franchisor atas trademark dan knowhow Lawson di wilayah Indonesia selama 25 tahun yang nantinya bisa diperpanjang sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Agak berbeda dengan Alfamidi, Gerai Lawson dengan konsepnya yang menyediakan makanan dan minuman siap saji (convenience store), menjual berbagai macam makanan khas Jepang dan lainnya seperti Onigiri, Bento, Nasi Goreng, Pasta. Dan aneka minuman seperti kopi, es krim, dan lainnya.

Sebagai salah satu jaringan ritel yang mudah dijangkau masyarakat luas, pada tahun 2017 jumlah gerai Perseroan mencapai 1.444 gerai. Terdiri dari 1.396 gerai Alfamidi, 11 gerai Alfamidi super dan 37 gerai Lawson yang tersebar di seluruh Indonesia, dimulai dari pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Dan per Maret 2018, MIDI membentuk PT Lancar Wiguna Sejahtera untuk membawahi Lawson.

Pada November 2010, MIDI melakukan Penawaran Umum Perdana (IPO) dari 15% Saham Perseroan dan mencatatkannya di Bursa Efek Indonesia. Pada Januari 2013, PT Amanda Cipta Persada menjual 41.82% saham ke PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (SAT) dan karena nya SAT menjadi pemegang saham mayoritas. Dan Pada Desember 2014, PT Sumber Alfaris Triyaja Tbk (SAT) membeli 30% kepemilikan saham Perseroan dari  yang Lawson Asia Pasifis holdings. Pte. Ltd Singapura sehingga kepemilikan saham SAT di perseroan menjadi 86.72 %.

Struktur Pemegang Saham MIDI (Source : Annual Report 2017)

 

Apa Alasan MIDI Melepas Lawson?

Baru-baru ini, MIDI melepas Lawson kepada anak perusahaannya PT Lancar Wiguna Sejahtera pada 1 Oktober 2018 dengan nilai transaksi Rp 50,35 miliar. Alasan MIDI melepas Lawson ini adalah untuk menekan efisiensi dalam menunjang ekspansi bisnis, dengan menjual hak sewa dan peralatan toko dengan merek dagang Lawson kepada PT Lancar Wiguna Sejahtera Pertanyaan nya, apakah dengan MIDI melepas Lawson akan memberi dampak bagi kinerja MIDI ? Penulis bisa katakan tidak.  Mengapa tidak memberi dampak besar pada kinerja nya ? Menurut Penulis, ini karena kontribusi Pendapatan Lawson yang masih tergolong minim dibandingkan Pendapatan MIDI secara keseluruhan. Secara Aset pun, aset Lawson juga masih bernilai relatif kecil.

Bersamaan dengan MIDI melepas Lawson, MIDI tetap gencar berekspansi. Terbukti sepanjang semester I 2018 MIDI telah merealisasikan tambahan gerai baru sebanyak 68 gerai dari target 100 gerai baru, yang ternyata sudah lebih dari setengah target pembangunan per tahun ini. Mayoritas ekspansi dilakukan untuk format minimarket dengan flagship Alfamidi. Ekspansi gerai baru dilakukan di wilayah-wilayah baru, dan penambahan terbanyak saat ini masih di cabang terbaru MIDI di Palu.

 

Kinerja Fundamental MIDI

Terlepas dari keputusan MIDI untuk melepas Lawson, bila kita tarik pencapaian Pendapatan dari tahun 2011 – 2018 kita bisa menemukan bahwa MIDI mampu mencatatkan konsistensi Pendapatan yang meningkat dari Rp 2.5 triliun tahun 2011 hingga Rp 9.7 triliun tahun 2017. Dan di tahun 2018 ini Pendapatan MIDI juga masih meningkat dengan total Pendapatan sebesar Rp 5.3 triliun per Kuartal II 2018 atau Rp 10.6 triliun (Annualized). Secara rata-rata, Pendapatan MIDI bertumbuh sebesar 22.5% setiap tahunnya.

Akan tetapi, jika dilihat dari pertumbuhan Laba Bersih MIDI dalam periode yang lebih panjang, kita akan menemukan bahwa pencapaian Laba Bersih MIDI tergolong tidak stabil, terutama di tahun 2017 dan 2018. Laba Bersih MIDI memang sempat meningkat secara konsisten dari Rp 32 miliar di tahun 2011 menjadi Rp 196 miliar tahun 2016. Namun memasuki tahun 2017, Laba Bersih MIDI turun menjadi Rp 103 miliar, yang berlanjut di tahun 2018 ini menjadi Rp 53 miliar per Kuartal II 2018 atau Rp 108 miliar (Annualized).

Peningkatan Pendapatan MIDI yang meningkat 4x lipat dalam 7 tahun terakhir, tidak terlepas dari ekspansi MIDI yang cukup agresif. Bersamaan dengan MIDI melepas Lawson, justru MIDI semakin gencar melakukan ekspansi. Hal ini bisa kita lihat pada Investing Cash Flow nya yang jumlah rata-ratanya mencapai sekitar Rp 800 miliar – Rp 1 triliun per tahun nya.

Namun, yang ingin Penulis soroti di sini adalah kondisi Arus Kas Investasi tersebut tidak seimbang dengan Arus Kas Operasi MIDI yang jumlahnya tercatat jauh di bawah angka Investasi. Sebagai gambaran total Arus Kas Operasi pada 2015 dan 2016 saja hanya sekitar Rp 500 hingga Rp 600 miliar. Dengan kondisi tersebut (Arus Kas Operasi tidak mampu menutupi kebutuhan investasi), MIDI membutuhkan pinjaman dana yang cukup besar. Seiring dengan bertambahnya jumlah pinjaman,  jumlah Liabilitas meningkat signifikan dari Rp 445 miliar di tahun 2011 menjadi Rp 4.1 triliun per Kuartal II 2018.

Pertumbuhan Liabilitas MIDI 2011 – 2018

ertumbuhan Ekuitas jauh Lebih rendah, yaitu dari Rp 408 miliar tahun 2011 menjadi Rp 946 miliar per Kuartal II 2018. Singkat nya, pertumbuhan liabilitas yang signifikan ini tidak dibarengi dengan pertumbuhan Ekuitas. Hal ini membuat DER nya meningkat dari 1.1x di tahun 2011 menjadi 4.3x di tahun 2018. Dengan kata lain. Liabilitas nya 4.3x lebih besar dibandingkan ekuitas nya.

Kalau kita perhatikan lebih detail, saat ini MIDI dihadapkan dengan Liabilitas Jangka Pendek nya yang sebesar Rp 3.1 triliun. Sedangkan, Aset Lancar nya “hanya” sebesar Rp 2.1 triliun. Yang cukup mengkhawatirkan adalah dari total Aset Lancar yang sebesar Rp 2.1 triliun tersebut di dalamnya terdapat Rp 1.1 triliun sebagai Persediaan yang sebenarnya kurang likuid. Sementara itu total Kas MIDI “hanya” sebesar Rp 250 miliar dikhawatirkan tidak mampu melunasi Liabilitas Jangka Pendeknya. Jadi, dengan kondisi diatas sebenarnya MIDI sedang bermasalah di Likuiditas. Terlampir adalah Aset Lancar yang dimiliki oleh MIDI :

Aset MIDI berdasarkan Laporan Keuangan Kuartal II 2018

 

Penulis melihat dengan MIDI melepas Lawson pada anak usahanya, tujuan lain nya adalah untuk menambahkan Likuiditas MIDI. Hanya saja, seperti disampaikan di atas bahwa nilai Aset Lawson tidak sebesar itu. Jumlah gerai Lawson yang hanya 37 gerai tentu tidak sebanding dengan MIDI yang sudah mencapai 1400 gerai. Dengan jumlah gerai yang ada, kontribusi total Pendapatan MIDI lebih besar daripada Lawson.

Kondisi MIDI saat ini sedikit mirip dengan kasus nya MDRN (Seven Eleven), yang mana dalam setahunnya MDRN memiliki Arus Kas Operasi sekitar Rp 30 – 40 miliar namun total Ekspansinya jauh lebih besar sekitar Rp 300 – 400 miliar sehingga MDRN cukup banyak menerbitkan hutang di tahun 2015 – 2018, dan sebagian diantaranya jatuh tempo di tahun ini. Anda bisa membaca kembali pembahasan mengenai MDRN melalui Link ini :

Seven Eleven yang sempat booming harus dinyatakan tutup di Indonesia pada tahun 2017

[Baca Lagi : Laba Bersih Tidak Menjamin Perusahaan Pasti Bagus, Ini Alasannya…]

 

Kembali ke pertanyaan di awal, apakah MIDI masih menarik di harga Rp 1100 ? Pada harga 1100, MIDI diperdagangkan pada PER 29.19x dan PBV 3.29x. Dengan harga Rp 1100, saat ini MIDI bisa dikategorikan mahal dan tidak menawarkan Margin of Safety yang menarik bagi seorang value investor.

 

Kesimpulan

Dari ulasan Penulis diatas, kita sudah bisa mendapatkan gambaran bahwa dampak dari menjual Lawson tidak terlalu besar. Namun MIDI tetap menjualnya karena butuh dana untuk dapat melunaskan hutang. MIDI melepaskan kepemilikan sahamnya di Lawson hanya semata untuk efisiensi bisnis. Namun kontribusi Lawson masih minim dari segi kepemilikan Aset dan pencapaian Laba Bersih nya. Maka keputusan tersebut tidak mempengaruhi fundamental MIDI secara keseluruhan.

Pendapatan MIDI termasuk konsisten meskipun tidak demikian dengan laba bersih nya. Adapun peningkatan pendapatan tersebut seiring dengan bertambahnya jumlah gerai baru Alfamidi. MIDI sendiri cukup agresif dalam menambah jumlah gerai nya. Di mana MIDI menganggarkan sekitar Rp 800 miliar – Rp 1 triliun per tahun nya. Jumlah Arus Kas Operasi yang diterima oleh MIDI jauh di bawah kebutuhan investasi (sekitar Rp 500 – 600 miliar per tahun). Sehingga MIDI harus terus mencari alternatif pendanaan melalui hutang.

MIDI sendiri saat ini sedang dalam kondisi neraca keuangan yang cukup mengkhawatirkan. Di mana MIDI harus membayarkan Liabilitas Jangka Pendek sebesar Rp 3.1 triliun. Sedangkan total kesediaan Kas nya hanya Rp 250 miliar.

Secara garis besar, kinerja fundamental MIDI tidak terlalu bagus. Jadi, bagi Anda yang memegang saham MIDI ini ada baiknya Anda harus lebih hati-hati, apalagi jika ingin menjadikan MIDI sebagai investasi jangka panjang.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Oktober 2018 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q3 2018 akan segera terbit, Anda dapat memperolehnya di sini
  • E-Book Quarter Outlook LK Q3 2018 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Advance Value Investing (Jakarta, 20 Oktober 2018) dapat dilihat di sini.

 

Tags: ,
1
Pastikan rekan Investor tidak ketinggalan Informasi ter-update

Subscribe sekarang untuk mendapatkan update artikel terbaru setiap minggunya

keyboard_arrow_leftPrevious
Nextkeyboard_arrow_right

2 Comments

  • Adam
    24 October 2018 at 10:58 AM

    Wah kalo mau liat pertumbuhan liabilitas 5 tahun ke belakang dimana ya? btw good read pak..

  • Eki
    1 March 2019 at 1:03 PM

    thanks for information,, jadi bisa pikir” dulu sebelum invest

Komentar

Artikel Lainnya