Jenis-jenis Candlestick dan Cara Pengaplikasiannya

Jenis-jenis Candlestick dan Cara Pengaplikasiannya


Terakhir diperbarui Pada 21 March 2024 at 1:56 pm

Ketika berburu cuan di pasar saham, maka salah satu cara yang dicoba adalah penggunaan berbagai macam pola candlestick untuk menganalisis pergerakan saham. Meski candlestick banyak digunakan para trader, namun investor juga perlu mengetahui tentang jenis-jenis candlestick sebagai pengetahuan!

 

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

 

 

 

Pengertian Candlestick

Candlestick adalah jenis grafik yang menyerupai lilin, terdiri dari body dan bayangan (shadow). Proses analisis menggunakan candlestick melibatkan data harga pembukaan (open), harga tertinggi (high), harga terendah (low), dan harga penutupan (close).

Candlestick adalah salah satu alat analisis yang digunakan untuk memeriksa pasar saham dan forex, serta memberikan wawasan teknis dalam pasar. Candle menjadi landasan bagi para trader dan investor selama berabad-abad untuk mengidentifikasi pola yang menggambarkan arah pergerakan harga.

Candlestick biasanya digambarkan dalam dua warna: hijau untuk menggambarkan pasar yang sedang naik (bullish), dan merah untuk menggambarkan pasar yang sedang turun (bearish).

Pada awalnya, Candlestick diperkenalkan oleh seorang berasal dari Jepang yang bernama Munehisa Homma antara tahun 1724-1803. Pada saat itu, alat ini digunakan untuk memprediksi pergerakan harga beras di Jepang. Namun, berkat kontribusi Steven Nisson, Candlestick charting diperkenalkan ke dunia barat dan sejak saat itu telah menjadi salah satu jenis grafik yang penting dalam aktivitas trading.

 

 

 

Cara-Membaca-Candlestick-Saham

[Baca lagi: Cara Membaca Candlestick Saham, Pahami Faktor yang Memengaruhi]

 

 

 

Jenis-Jenis Pola Candlestick yang Penting untuk Diketahui

Di bawah ini, terdapat beberapa pola candlestick yang sering digunakan sebagai alat bantu oleh trader dan investor untuk menganalisis pasar secara teknikal.

1. Candle Marubozu

Marubozu adalah istilah yang merujuk kepada pola candlestick yang memiliki (body) yang padat dan praktis tidak memiliki shadow atau ekor yang terlihat. Pola ini ditandai dengan candle yang relatif panjang, dan jika pun ada shadow, shadow tersebut sangat pendek sehingga hampir tidak terlihat.

Marubozu terbagi menjadi dua jenis, yaitu bullish marubozu dan bearish marubozu. Bullish marubozu memiliki body yang panjang dan kuat, menandakan kekuatan bullish yang dominan, sehingga sering berwarna hijau.

Sementara itu, bearish marubozu memiliki body yang panjang dan kuat, berwarna merah, dan mengindikasikan kekuatan bearish yang mendominasi. Ketika pola ini muncul pada chart, ini bisa menjadi petunjuk bahwa pergerakan harga pasar akan cenderung bullish atau bearish, tergantung pada jenis Marubozu yang muncul.

 

Indikator-Teknikal-Saham-untuk-Pemula

[Baca lagi: Belajar Indikator Teknikal Saham untuk Pemula]

 

 

 

2. Candle Doji

Candlestick Doji adalah pola yang terbentuk ketika harga pembukaan dan penutupan pasar memiliki nilai yang sama atau sangat mendekati. Pola ini mengindikasikan kebingungan antara bullish dan bearish, yang sering kali mencerminkan ketidakpastian dalam pasar. Terdapat tiga tipe candlestick Doji yang sering digunakan, yaitu:

    • Gravestone Doji

Gravestone Doji memiliki bayangan (shadow) panjang di bagian atas candle dan tidak memiliki atau memiliki body yang sangat pendek. Pola ini mengindikasikan ketidakpastian pasar dan sering kali menjadi pertanda potensi pembalikan bearish jika muncul setelah tren naik.

    • Long-Legged Doji

Long-Legged Doji memiliki body yang sangat pendek dan bayangan atas dan bawah yang panjang, sehingga tampak seperti tanda “plus” atau salib. Pola ini menunjukkan ketidakpastian yang lebih kuat daripada jenis Doji lainnya, dan bisa mengindikasikan keraguan pasar tentang arah harga yang akan datang.

    • Dragonfly Doji

Dragonfly Doji adalah kebalikan dari Gravestone Doji, dengan bayangan panjang di bagian bawah candle dan body yang sangat pendek atau tidak ada body sama sekali. Pola ini juga mencerminkan ketidakpastian pasar dan bisa menjadi petunjuk potensi pembalikan bullish setelah tren turun.

 

3. Candle Hammer and Hanging Man

Candlestick Hammer adalah pola candlestick yang cenderung mengindikasikan potensi pergerakan bullish dan sering muncul saat pasar sedang dalam tren menurun. Pola ini menggambarkan situasi di mana harga jatuh, namun kemudian berbalik naik. Ciri-ciri candlestick Hammer sebagai berikut:

    • Bayangan Bawah Panjang

Hammer memiliki bayangan bawah (lower shadow) yang lebih panjang dari body-nya. Bayangan ini mencerminkan tekanan jual yang kuat awalnya, yang mendorong harga lebih rendah.

    • Body Kecil

Body Hammer relatif kecil dan terletak di bagian atas pola. Tubuh yang kecil menunjukkan bahwa pembeli dan penjual berada dalam kondisi seimbang, tetapi pembeli berhasil mengatasi tekanan penjual.

    • Harga Penutupan Dekat dengan Harga Pembukaan

Harga penutupan Hammer dekat dengan harga pembukaan, sering kali hampir sama. Hal ini menunjukkan bahwa pembeli mampu mengubah arah pergerakan harga dari penurunan menjadi kenaikan.

Candlestick Hammer sering dianggap sebagai sinyal bahwa pembalikan bullish mungkin terjadi setelah tren turun yang kuat. Namun, seperti halnya dengan semua pola candlestick, sinyal ini lebih efektif jika dikonfirmasi oleh pola-pola atau indikator lainnya sebelum mengambil keputusan trading.

Sedangkan untuk candlestick Hanging Man memiliki bentuk yang sama dengan Hammer, namun memiliki indikasi reversal ke arah bearish. Ketika harga naik, terbentuknya Hanging Man menunjukkan bahwa Sell mulai melebihi jumlah Buy.

 

4. Inverted Hammer dan Shooting Star

Inverted Hammer adalah pola yang terbentuk selama downtrend dan memberikan sinyal potensi pembalikan harga ke arah atas. Selama downtrend yang berkepanjangan, Inverted Hammer memiliki konotasi bullish, karena muncul saat harga tampak ragu-ragu dan bergerak turun sambil mengalami peningkatan volatilitas yang signifikan.

Pola candle ini memiliki body pendek dan bayangan atas yang panjang. Sementara itu, Shooting Star, yang memiliki kemiripan dengan Inverted Hammer, terjadi selama tren naik. Baik Inverted Hammer maupun Shooting Star memiliki body candle yang kecil dan bayangan atas yang panjang.

Perbedaan kunci di antara keduanya adalah Shooting Star memberikan sinyal potensi pembalikan harga ke arah bawah selama uptrend, sementara Inverted Hammer memberikan sinyal pembalikan ke arah atas selama downtrend. Penting untuk selalu mengkonfirmasi sinyal-sinyal ini dengan faktor teknis lainnya sebelum mengambil keputusan trading.

 

5. Spinning top

Spinning top adalah sebuah pola candlestick yang memiliki dua shadow panjang, satu di bagian atas dan satu di bagian bawah, dengan body yang cenderung kecil. Pola candle ini mencerminkan adanya ketegangan antara pembeli (Buy) dan penjual (Sell) yang seimbang, dan tidak jelas siapa yang akan mendominasi pasar.

Ketika Spinning top terbentuk selama tren naik (bullish), ini dapat menjadi peringatan bahwa perubahan tren atau konsolidasi mungkin akan terjadi, dan trader perlu berhati-hati.

Begitu pula, jika pola ini muncul selama tren turun, hal tersebut juga dapat menandakan potensi pembalikan atau periode konsolidasi di pasar. Sebagai trader, penting untuk mempertimbangkan pola ini dalam konteks tren yang ada dan mengkonfirmasinya dengan alat analisis lainnya sebelum mengambil keputusan trading.

 

 

 

E-Book Quarter Outlook Q3 2023 telah terbit, Anda bisa mengetahui saham apa saja yang memiliki fundamental bagus dan harganya masih terdiskon (undervalued). Yuk, dapatkan segera!!!

 

 

 

Cara Menginterpretasikan Candlestick

Membaca candlestick menjadi lebih sederhana setelah memahaminya. Candlestick terdiri dari dua komponen utama: body dan bayangan (shadow).

Tubuh candlestick menyerupai body lilin, sedangkan bayangan adalah bagian yang mirip dengan sumbu, dan seringkali membentang ke atas dan ke bawah.

Panjang body memberikan tiga informasi penting:

  • Harga Pembukaan

Body candlestick mengindikasikan apakah harga pembukaan lebih tinggi atau lebih rendah dari harga penutupan.

  • Harga Penutupan

Panjang body candlestick juga menunjukkan apakah harga penutupan berada di posisi lebih tinggi atau lebih rendah.

  • Arah Pergerakan Harga

Warna candlestick, baik hijau atau putih, menunjukkan apakah harga bergerak naik, yang dikenal sebagai bullish, atau turun, yang disebut bearish. Sebaliknya, candlestick merah atau hitam menandakan arah pergerakan harga yang berlawanan.

[Baca juga: Cara Membaca Grafik Saham untuk Pemula, Mudah dan Efektif!]

 

 

Cara-Screening-Saham-untuk-Swing-Trader

[Baca lagi: Kamu yang Trader, Begini Cara Screening Saham untuk Swing Trading!]

 

Bagian bawah body candlestick menentukan harga pembukaan atau penutupan, tergantung pada warna candlestick. Untuk candlestick merah atau hitam, harga pembukaan berada di bagian atas body, sedangkan harga penutupan berada di bagian bawah.

Untuk candlestick hijau atau putih, harga pembukaan terletak di bagian bawah body, sedangkan harga penutupan berada di bagian atas.

Sementara itu, bayangan (shadow) memberikan informasi tentang level harga tertinggi dan terendah selama periode tertentu. Bayangan atas mencerminkan level tertinggi, tidak peduli apakah candle bearish atau bullish. Bayangan bawah menggambarkan level terendah dalam periode tersebut.

[Baca juga: Cara Membaca Candlestick Saham, Ini Komponen dan Strateginya! ]

Kesimpulan

Ini adalah dasar dalam memahami jenis-jenis candlestick dan bagaimana membacanya. Penting untuk diingat bahwa candlestick bukanlah sinyal beli atau jual secara tunggal. Mereka merupakan alat analisis pasar yang digunakan bersama dengan teknik analisis lainnya untuk membuat keputusan trading yang lebih baik.

Jadi, mengenal jenis-jenis candlestick adalah langkah penting dalam perjalanan menjadi seorang investor atau trader. Meskipun tidak selalu diterapkan dalam strategi trading, pemahaman ini tetap berguna.***

 

###

 

1
Pastikan rekan Investor tidak ketinggalan Informasi ter-update

Subscribe sekarang untuk mendapatkan update artikel terbaru setiap minggunya

keyboard_arrow_leftPrevious
Nextkeyboard_arrow_right

Komentar

Artikel Lainnya

Youtube Update

Our Social Media

Arsip Artikel