Hadapi Resesi dengan Investasi

Cara Hadapi Resesi dengan Paham Investasi


Sinyal resesi dunia kian menguat, beberapa yang paling parah adalah negara-negara maju seperti di Eropa, Amerika, hingga China.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Menurut presiden Jokowi, munculnya sinyal resesi di negara tersebut tentu memberatkan Indonesia, khususnya dari sisi ekspor, karena Indonesia banyak melakukan ekspor ke Amerika dan China. Meski demikian, porsi sumbangan dari ekspor ke PDB bukan pengaruh besar, hanya 16% saja.

.

.

Artikel ini dipersembahkan oleh :

.

.

Pendorong terbesar ekonomi Indonesia adalah konsumsi masyarakat. Sehingga pemerintah berusaha menstabilkan harga pangan dan energi agar daya beli masyarakat terjaga.

Presiden Jokowi juga menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua 2022 akan cenderung positif di angka 5.1%. Hal ini sejalan dengan perkiraan Bank Dunia yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh hingga 5.1%, bahkan terus tumbuh hingga 5.3% pada tahun 2023-2024.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia ini, diprediksi lebih tinggi dari rata-rata negara berkembang lainnya yaitu sebesar 3.4% pada 2022, turun sekitar 50% dari pertumbuhan rata-rata tahun 2011-2019 yaitu di sekitar 6.6%.

Tingkat inflasi Indonesia dinilai peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) terbilang rendah yaitu 4.35 YoY, dibanding inflasi negara-negara G20 seperti Amerika 9.1%, Inggris 9%, atau negara ASEAN lainnya seperti Malaysia di angka 5.44%, Thailand 5.84%. Bahkan yang terparah seperti Argentina 60.7% dan Turki 73.5%.

.

.

.

RK Team dalam waktu dekat ini akan mengadakan Stockademy yang membahas secara komprehensif kondisi market, beserta dengan sektor yang memiliki prospek dan valuasi terdiskon. Segera ikuti Stockademy di sini

.

.

.

Kondisi pertumbuhan ekonomi yang melambat dan tingkat inflasi yang meningkat disebut sebagai stagflasi.

Lalu apa yang bisa dilakukan masyarakat, jika resesi, inflasi, hingga stagflasi terjadi di Indonesia?

  1. Lunasi Hutang

Atur proporsi hutang sekecil mungkin, berkisar 20-30 persen dari pengeluaran bulanan. Pastikan membayar hutang dahulukan yang berbunga besar.

.

  1. Hemat dan Atur Ulang Pengeluaran

Jangan boros, kurangi pos pengeluaran yang merupakan keinginan, gunakan uang seefektif mungkin, utamakan kebutuhan pokok, sehingga dana yang tersisa bisa digunakan untuk pos lainnya seperti memenuhi dana darurat, asuransi, hingga investasi.

.

  1. Siapkan Dana Darurat

Siapkan dana sekitar 3-6 kali pengeluaran bulanan. Tujuannya, jika sewaktu-waktu kita tidak memiliki sumber pendapatan, namun kita bisa bertahan beberapa bulan hingga mendapatkan sumber pendapatan lainnya.

.

  1. Cari Pendapatan Tambahan

Kumpulkan dana lain diluar pendapatan utama, sehingga bisa memperkuat pertahanan finansial di tengah ketidakpastian dunia.

.

  1. Miliki Asuransi

Gunakan asuransi sebagai bantalan untuk membiayai kemungkinan tidak baik di masa depan, seperti mengalami sakit atau kendaraan yang dimiliki mengalami kerusakan atau hilang. Dengan demikian, kita tidak perlu menggunakan uang tabungan.

.

  1. Menabung dan Investasi

Dana dari pendapatan ditabung sesuai porsinya, lebih baik jika disisihkan di awal ketika menerimanya. Lalu dana tersebut ditabung atau diinvestasikan.

.

Salah satu instrumen investasi yang cenderung aman di tengah resesi adalah investasi saham.

Belajar dari resesi yang terjadi pada tahun 2020 akibat pandemi Covid-19, beberapa saham terdampak signifikan, namun tidak jarang pula saham-saham malah naik fantastis bahkan hingga ratusan persen.

Salah satu trik memilih saham adalah memilih saham-saham yang membagikan dividen ketika resesi terjadi. Meski pembagian dividen bukanlah kewajiban perusahaan, namun dengan memberikan dividen akan menjadi perisai atau hedging perusahaan dari turunnya harga saham.

Beberapa perusahaan yang masih membagikan dividen di tengah resesi tahun 2020 adalah BBCA (Rp. 530/saham), BBRI (Rp. 99/saham), BMRI (Rp. 220/saham), BBNI (Rp. 44/saham), INDF (Rp. 278/saham), ICBP (Rp. 215/saham), ASII (Rp. 45/saham).

Jangan lupa, investasi leher ke atas. Tambah kemampuan atau skill dalam menganalisa saham di pasar modal. Mulai dari analisis fundamental hingga teknikal. Dengan belajar sambil mempraktekkannya maka investor akan semakin beradaptasi dengan pasar modal, semakin mengenali diri mulai dari profil risiko hingga style berinvestasi.

.

.

.

.

DISCLAIMER : Tulisan ini bukan bersifat rekomendasi beli atau jual. Tulisan ini bersifat untuk edukasi berdasarkan sudut pandang penulis pribadi. Do Your Own Research sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual saham.

###

Info:

1
Pastikan rekan Investor tidak ketinggalan Informasi ter-update

Subscribe sekarang untuk mendapatkan update artikel terbaru setiap minggunya

keyboard_arrow_leftPrevious
Nextkeyboard_arrow_right

1 Comment

  • value-added
    July 25, 2022 at 3:43 PM

    Isi Pesan

Komentar

Artikel Lainnya