Bagaimana caranya menganalisis fundamental perusahaan? Bagaimana cara menghitung dan menyimpulkan rasio keuangan? Simak ulasan berikut ini…

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

 

Mengapa Perlu Analisa Fundamental Saham?

Ada sebuah pepatah mengatakan: “Ibarat kucing dalam karung”, yang artinya seseorang membeli sesuatu tanpa mempelajari apa yang dibelinya terlebih dahulu.

Sementara salah satu prinsip dasar dalam berinvestasi adalah: “Buy what you know, and know what you buy”, yang artinya: “Belilah yang Anda ketahui, dan ketahuilah yang Anda beli”. Artinya dalam berinvestasi, jangan pernah sekalipun membeli produk investasi yang tidak kita kenali, dan tidak kita ketahui perkiraan nilainya.

Dalam berinvestasi saham sendiri, agar terhindar dari risiko stres, maka kita harus mengetahui kondisi perusahaan yang sahamnya akan kita beli. Analisis ini penting untuk mengetahui kondisi perusahaan tersebut, yang dikenal sebagai Analisa Fundamental. Di mana analisa fundamental saham ini mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kondisi dasar (fundamental) sebuah perusahaan, baik secara kuantitatif (keuangan), maupun kualitatif (non-keuangan).

 

Analisis Fundamental Rasio Keuangan

 

Analogi untuk analisa fundamental saham ini seperti membeli sapi, kita perlu mengamati bentuk badan, bulu, bobot, kesehatan, hingga mental sapi tersebut sebelum memutuskan untuk membelinya. Dengan analisa fundamental saham ini, kita akan memperhatikan sampai ke kondisi kandang dan kesehatan sapinya. Demikian pula ketika membeli sebuah saham, kita perlu menganalisa semua aspek penting yang menentukan prospek sebuah perusahaan dan memperkirakan nilainya.

Dalam hal ini, sapi adalah analogi untuk perusahaan, dan kandang adalah kondisi pasar modal. Seorang Investor ternama Warren Buffet pun mengatakan:

“Membeli saham adalah membeli sebuah bisnis, artinya kita harus menganalisa bisnisnya, bukan sekedar pergerakan harga sahamnya”

 

Analisa Fundamental Saham: Top Down Approach

Salah satu pendekatan Analisa Fundamental Saham yang sering digunakan adalah Top Down Approach, yaitu analisa yang dimulai dari kondisi ekonomi makro, industri perusahaan, baru kemudian menganalisa kondisi perusahaannya. Berikut adalah ketiga tahap Top Down Approach tersebut:

 

#1 Kondisi Makro Dunia Usaha

Faktor ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi pemerintah, seperti kebijakan suku bunga. Jika suku bunga tinggi, investor lebih suka menanamkan uangnya di Bank, sehingga menghambat pertumbuhan bisnis perusahaan. Sebaliknya, jika suku bunga rendah, saham menjadi pilihan investor dan perusahaan juga lebih giat berbisnis.

Pertumbuhan ekonomi juga menentukan harga saham, jika ekonomi lesu, maka kinerja perusahaan ikut memburuk dan membuat harga saham turun. Jika ekonomi menguat, prospek perusahaan akan bertambah cerah, demikian pula harga sahamnya. Faktor kestabilan politik pun ikut mempengaruhi kondisi dunia usaha dan juga tentunya harga saham.

 

#2 Kondisi Sektor dan Industri

Dalam kondisi industri di mana suatu perusahaan berada juga turut mempengaruhi naik turunnya harga saham perusahaan tersebut. Hal ini karena industri yang bertumbuh pesat akan melambungkan harga saham perusahaan industri tersebut.

Ambil contoh, sektor pertambangan pada tahun 2007 harga komoditas meroket tajam akibat harga minyak dunia yang naik drastis. Harga-harga saham tambang batubara dan minyak pun ikut naik tajam karena pendapatan melambung dan laba yang dihasilkan semakin besar. Namun ketika tahun 2015 harga minyak dunia turun hingga titik terendahnya, harga saham pertambangan pun mengalami kelesuan hingga banyak yang turun drastis.

 

Analisis Fundamental Rasio Keuangan

 

#3 Kondisi Fundamental Perusahaan

Kondisi Fundamental perusahaan pastinya mempengaruhi pergerakan harga sahamnya. Apakah perusahaan memiliki manajemen yang solid dan profesional? Seperti apa kondisi keuangan perusahaan? Apakah manajemen dikelola oleh orang yang jujus dan beretika? Hal-hal tersebut sangatlah vital untuk menentukan bagus tidaknya fundamental sebuah perusahaan. Perusahaan berfundamental kokoh biasanya memiliki harga saham yang bagus.

 

Analisa Fundamental Saham: Nilai Instrinsik dan Rasio Keuangan

Setelah melakukan pendekatan analisa Top Down Approach, hal selanjutnya yang juga penting adalah menghitung nilai wajar (fair price) alias nilai intrinsik sebuah saham. Nilai wajar ini pun kemudian dibandingkan dengan harga pasar saham tersebut. keputusan transaksi beli atau jual pun nantinya didasarkan pada perbandingan nilai wajar dan harga pasar saham tersebut.

Untuk menghitung nilai wajar ini kita harus mengestimasi Arus Kas yang akan dihasilkan oleh perusahaan dari sekarang hingga seterusnya. Arus kas ini berasal dari laba bersih usaha. Arus kas ini kemudian divaluasikan dalam nilai saat ini dan dijumlah untuk mendapatkan nilai wajar. Metode ini ditemukan oleh Benjamin Graham, penulis buku The Intelligent Investor.

Perusahaan sekuritas biasanya memiliki analis saham yang menghitung nilai wajar sebuah saham. Analisa ini dilakukan secara berkala karena kondisi makro dan mikro sebuah perusahaan tentunya akan terus berubah. Para analis ini pun memiliki spesialisasi sektor industri untuk mempertajam keakuratan analisa.

 

Memilih Broker Saham

 

Secara sederhana, harga saham dapat diprediksi dengan menganalisa data keuangan yang tersedia. Untuk menganalisa kondisi keuangan perusahaan, investor dapat memanfaatkan laporan keuangannya yang merupakan gambaran kondisi keuangan perusahaan pada suatu saat atau selama periode tertentu.

Laporan keuangan perusahaan yang sering dianalisa adalah laporan neraca dan laporan laba rugi. Neraca memperlihatkan seluruh aset yang dimiliki sebuah perusahaan pada suatu titik waktu serta sumber modal untuk membeli aset tersebut. secara berkala perusahaan publik yang terdaftar di bursa wajib memublikasikan laporan keuangannya.

Ada 6 rasio keuangan penting dalam menganalisa fundamental saham yang sering digunakan para analis fundamental dalam memilih saham.

 

#1 EPS (Earning Per ShareI)

Rasio pertama adalah EPS, atau kepanjangannya adalah Earning Per Share, yang berarti laba bersih per lembar saham. Bila EPS bernilai Rp100, artinya setiap lembar saham menghasilkan laba sebesar Rp100. Cara menghitung EPS yaitu jumlah laba bersih dibagi dengan jumlah lembar saham beredar. Rumus menghitung EPS adalah:

EPS = Laba Bersih : Jumlah Lembar Saham

 

Carilah perusahaan yang memiliki EPS yang bertumbuh dari waktu ke waktu (trendpositif). EPS yang menanjak menunjukkan perusahaan bertumbuh dengan baik. Kemungkinan besar penjualan dan labanya naik. Sebaliknya, EPS yang turun menunjukkan penurunan penjualan dan laba.