Value Investing: Apakah Dapat Menghasilkan Cuan Saham yang Maksimal?

Value Investing: Apakah Dapat Menghasilkan Cuan Saham yang Maksimal?


Apa yang dimaksud dengan value investing? Apakah bisa metode value investing ini akan menghasilkan cuan yang maksimal saat berinvestasi saham? Yuk kupas tuntas di sini…

 

Artikel ini dipersembahkan oleh :

 

 

 

Memahami Value Investing

Dalam berinvestasi saham ada orang yang melakukan trading, ada juga yang melakukan investing. Biasanya kalau trading dikaitkan dengan jangka pendek. Jadi, seorang trader ingin mendapatkan profit atau keuntungan dalam waktu yang singkat.

Sedangkan investor biasanya akan berorientasi untuk jangka panjang. Sehingga, investor tidak terlalu berekspektasi yang tinggi untuk mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat. Mereka cenderung untuk ingin memiliki keuntungan di masa depan.

Jadi, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda seorang trader atau investor? Jika Anda memilih sebagai investor jangka panjang, maka ada yang namanya value investor

Apa itu value investorValue investor berarti Anda menginvestasikan saham yang saat ini memiliki harga di bawah nilai intrinsiknya atau dalam kata lain saham yang undervalue.

Percaya atau tidak, sekarang ini sudah banyak orang yang memilih menjadi value investor. Dengan menjadi value investor, maka Anda juga telah meminimalisir risiko dari investasi saham karena Anda tidak berinvestasi di saham yang sudah overvalue atau harganya sudah di atas nilai wajar/intrinsiknya.

Namun, untuk menjadi value investor, ada beberapa hal yang perlu Anda pelajari terlebih dahulu ya. Tak hanya itu, Anda juga perlu mengetahui strateginya. Jadi, untuk menjadi value investor yang sesungguhnya Anda tidak hanya sekedar mengetahui apa itu rasio dalam valuasi saham serta nilai intrinsiknya saja.

Tapi, Anda juga memahami strategi value investing yang dilakukan oleh para ahli atau pakar value investing.

 

Strategi Value Investing dalam Manajemen Risiko

Banyak sekali kejadian orang-orang membeli saham hanya karena melihat harganya yang murah. Akhirnya, hal tersebut berujung pada cut loss yang cukup menyakitkan. Apalagi, jika manajemen risiko investasi diabaikan. Tentunya, kerugian yang dialami akan lebih besar.

Seperti yang sudah diketahui bahwa tidak ada jaminan atas return yang akan didapatkan dalam investasi saham. Walaupun harga saham sudah murah atau bahkan sangat murah, bukan berarti harga saham tidak akan turun lagi ya terutama di kalangan growth investing.

Bahkan, jika faktor internal atau pun eksternalnya terlalu signifikan maka dapat mengakibatkan harga saham bisa turun lebih dalam dari sebelumnya. Oleh karena itu, banyak trader yang tidak bisa bertahan di pasar saham yang tidak menentu seperti ini.

Hal tersebut dikarenakan trader hanya menilai suatu saham dari harganya saja. Mereka tidak menilainya secara keseluruhan dari apa yang menyebabkan naik atau turunnya harga suatu saham. Bagi trader, harga merefleksikan segalanya.

Salah satu tokoh yang paling dijadikan panutan untuk tempat belajar investasi saham dengan orientasi pada nilai adalah Warren Buffett.

Warren Buffet dikenal dengan julukan Bapak Investasi Dunia khususnya untuk para value investor. Oleh karena itu, Warren Buffett dapat dijadikan role model dalam hal investasi.

Kita bisa belajar metode atau pun strategi dari Warren Buffett dalam berinvestasi saham.

 

 

Anda yang ingin atau sedang menyusun investing plan Anda, tapi memiliki waktu yang terbatas untuk mengolah banyaknya informasi yang beredar, Anda bisa menggunakan Monthly Investing Plan edisi Agustus 2021 yang akan terbit di sini…

 

 

 

8 Strategi Value Investing

Berikut 8 strategi value investing yang bisa Anda tiru.

 

  • Memilih Metode Analisa

Terdapat beberapa strategi dalam menganalisa saham. Ada yang menganalisa dari situasi ekonomi makro (global) kemudian dikerucutkan pada fundamental dari suatu saham.

Cara yang pertama disebut dengan istilah “Analisis Top-Down”. Apa itu analisis top-down? Analisis top-down atau juga disebut analisa dari atas ke bawah adalah analisis yang bersifat global menuju ke hal yang bersifat lebih spesifik.

Sebagian, ada juga yang memulai analisa disebut dengan istilah “Analisis Bottom-Up”. Analisis bottom-up merupakan suatu strategi menilai suatu saham dari bawah ke atas. Analisis ini dilakukan dengan mengecek kondisi fundamental perusahaan yang diincar terlebih dahulu. Kemudian, akan berlanjut untuk menganalisa masalah-masalah ekonomi yang diperkirakan mempengaruhi pergerakan harga saham.

Beberapa diantaranya adalah tentang inflasi, nilai tukar rupiah, suku bunga, daya beli masyarakat, dan lain-lain. Baik analisis top-down atau pun bottom-up, keduanya sama-sama baik. Anda dapat memilih metode analisa yang cocok dengan Anda.

 

  • Memantau Sektor yang Sedang Trend

Untuk strategi yang kedua ini bisa dijadikan langkah pertama atau pun langkah kedua setelah memilih metode value investing. Anda perlu mengetahui sektor mana yang saat ini sedang trend.

Sebagai contoh, ketika pemilihan presiden sebelumnya dimana Jokowi dan Prabowo berkompetisi untuk mendapatkan posisi Republik Indonesia (RI) 1. Pada waktu itu, setelah ada tanda-tanda bahwa Jokowi yang akan menang serta kampanyenya yang selalu membahas tentang ‘Tol Laut’. Maka pada periode tersebut banyak perusahaan sekuritas, private equity, serta kelompok analis lainnya yang membahas tentang efek dari tol laut tersebut.

Alhasil, dalam waktu yang cukup singkat maka saham-saham dari sektor tersebut seperti perusahaan perkapalan, jasa pengangkutan laut, dan lain sebagainya langsung mengalami kenaikan harga yang signifikan. Hal tersebutlah yang dimaksud dengan sektor yang sedang trend dimana sebagian pihak membahasnya termasuk media-media onlineNah, sektor tersebutlah yang dapat Anda jadikan incaran untuk investasi Anda.

Dengan berinvestasi pada sektor yang sedang trend maka Anda tidak hanya bisa mendapatkan capital gain yang besar (keuntungan dari jual beli saham), namun Anda juga bisa memperoleh keuntungan yang lebih cepat.

 

  • Melakukan Screening Saham yang Memiliki Fundamental Bagus

Sekarang ini sudah ada lebih dari 600 emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Oleh karena itu, untuk melakukan screening dengan lebih efektif maka Anda dapat menetapkan kriterianya.

Cara sederhana adalah mengklasifikasikan emiten yang memiliki ROE (Return on Equity) lebih dari 15%, PBV (Price to Book Value) di bawah 1x, atau PER (Price to Equity Ratio) kurang dari 10.

Jika Anda sudah mendapatkan emiten dengan kriteria seperti di atas, misalnya terpilih 10 saham saja maka setelah itu Anda bisa mengecek saham tersebut satu per satu. Jadi, Anda tidak perlu mengecek semua saham di BEI ya.

 

  • Mengetahui Valuasi dan Nilai Intrinsik Saham yang Akan Dibeli

Untuk menjadi seorang value investor sejati, cara yang satu ini wajib banget Anda lakukan. Dalam kata lain, cara ini berarti Anda harus mempelajari bagaimana cara menilai harga saham tersebut.

Dalam value investing, yang dinilai sebenarnya adalah harga wajar atau harga sebenarnya dari saham tersebut atau yang disebut dengan istilah book value.

Bapak Investasi Dunia, Warren Buffet hanya menggunakan dua rasio untuk menilai valuasi suatu saham. Kedua rasio tersebut adalah PER (Price Earning Ratio) dan PBV (Price to Book Value).

 

  • Menganalisa Faktor Fundamental Perusahaan

Untuk mengetahui fundamental perusahaan, hal wajib yang harus Anda lakukan adalah membaca laporan keuangan terbarunya. Paling tidak Anda perlu mengetahui bagian-bagian penting dalam laporan keuangan seperti laporan rugi/labanya. Pengertian dan cara baca laporan keuangan juga telah kami ulas lengkap dalam artikel Pengertian Laporan Keuangan Perusahaan.

Apa saja yang terdapat di laporan keuangan? beberapa hal yang ada di laporan keuangan adalah sebagai berikut:

  1. Pernyataan direktur ataupun yang menyajikan laporan keuangan
  2. Aset lancar dan tidak lancar
  3. Liabilitas dan ekuitas
  4. Laba/rugi
  5. Laporan arus kas
  6. Catatan-catatan keuangan

Dari bagian-bagian laporan keuangan tersebut tidak semuanya perlu Anda analisa. Untuk bagian pertama Anda tidak perlu menganalisanya. Sedangkan untuk bagian ke-2, yang perlu Anda perhatikan adalah laporan kasnya.

Untuk bagian liabilitas, bagian ini menyajikan laporan utang yang dimiliki oleh perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Sedangkan ekuitas, memberikan laporan tentang modal perusahaan dan juga investor (jumlah saham yang beredar di masyarakat). Selain itu, Anda juga perlu memperhatikan pertumbuhan labanya. Hal tersebut perlu Anda dahulukan, jika perusahaannya rugi maka Anda dapat langsung mengabaikannya.

 

  • Menentukan Waktu Membeli Saham yang Tepat

Waktu yang paling tepat untuk value investing adalah pada saat harga suatu saham murah (undervalue/di bawah nilai intrinsiknya).

Sebagai contoh, harga saham PGAS dihargai dengan PBV 1.5x (contoh) dan itu adalah PBV terendahnya. Kemudian setelah sahamnya naik cukup signifikan dalam beberapa tahun dan karena ada rumor maka harga sahamnya menjadi turun kembali. Dan kebetulan, karena saat turunnya PBV nya kembali di angka 1.5x lagi, maka waktu itulah waktu yang tepat untuk membeli saham PGAS. Jadi untuk value yang di sini bukan hanya jika PBV 1x atau kurang berarti murah ya, tapi lihat history harganya di masa lalu juga ya.

 

  • Melakukan Pemantauan

Selain menganalisa dan membeli saham, maka sebagai seorang value investor juga harus mengawasi saham yang ada di portofolionya. Bagaimana caranya? Untuk memantau kinerjanya Anda dapat membaca laporan keuangan terbarunya yang bisa langsung Anda lihat di situs IDX.co.id.

 

  • Menentukan Waktu Menjual Saham

Tidak hanya waktu membeli saham, Anda juga harus menentukan waktu menjual saham. Oleh karena itu, pentingnya untuk melakukan pemantauan adalah untuk menentukan waktu Anda menjual saham.

Misalnya, setelah Anda melakukan pemantauan dan ternyata Anda menemukan salah satu saham yang Anda beli mengalami kerugian atau masalah serius seperti manajemennya mengalami masalah hukum. Maka, itulah waktu yang tepat untuk Anda mempertimbangkan kapan waktunya Anda menjual saham.

Hal yang penting adalah Anda perlu melakukan analisis yang mendalam. Jangan sampai Anda gegabah dengan langsung menjual saham hanya karena labanya turun sedikit saja. Selain itu, salah satu caranya adalah dengan mengetahui trendline pergerakan saham apakah lagi downtrend atau uptrend. Namun, jika perusahaan tersebut memiliki fundamental yang sangat bagus maka Anda disarankan untuk tetap hold saja.

 

Sumber Referensi:

  • Finansialku.com. 22 Juni 2021. Value Investing: Cara Memilih Saham Harga Terdiskon. https://www.finansialku.com/value-investing-pis0501/.

 

###

 

I

nfo:

 

You may also like

LEAVE A COMMENT

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Share this Post

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami

Translate »