Harga Minyak Dunia Merosot Lagi

Harga Minyak Dunia Merosot Lagi, Apa Sebabnya?


Harga minyak dunia merosot lagi, bahkan sepanjang September berjalan ini harga minyak dalam tren turun. Bahkan pada perdagangan 7 September 2022, minyak jenis Brent dan WTI ditransaksikan di level rendah. Jadi apa sebab melemahnya harga minyak dunia lemah dalam beberapa waktu terakhir?

.

Kronologi Harga Minyak Dunia Merosot

Dalam dua bulan terakhir, harga minyak dunia jenis Brent dan WTI Crude Oil merosot cukup dalam. Penurunan harga minyak jenis Brent terjadi mulai 8 Juni 2022 yang saat itu berada di level US$120.10 per barel. Ketika artikel ini ditulis, harga minyak turun di kisaran US$88 per barel – US$90 per barel…

\

Harga Minyak Brent Crude Oil 7 – 16 September 2022. Source: https://tradingeconomics.com/

.

Demikian halnya dengan harga minyak jenis WTI yang juga turun sejak 8 Juni 2022 dari level US$117.14 per barel dan per September 2022 bergerak di kisaran US$80 – US$85 per barel…

Harga Minyak Brent Crude Oil 7 – 16 September 2022. Source: https://tradingeconomics.com/

Harga minyak dunia merosot ini kian ditegaskan dengan Harga Minyak Acuan AS yang kompak menurun. Tercatat untuk harga minyak mentah Brent kontrak November 2022 di ICE Futures turun di kisaran US$90.67 per barel. Demikian pula, harga minyak mentah WTI kontrak Oktober 2022 di New York Mercantile Exchange turun ke kisaran US$84.89 per barel.

Tetapi, jika dilihat dalam jangka panjang maka penurunan yang sekarang terjadi bukan yang paling rendah. Bahkan pada 20 April 2022 minyak dunia sempat menyentuh level terendahnya. Untuk jenis Brent Crude Oil level terendah di US$21.71 per barel dan WTI level terendah di US$17.04 per barel. Buruknya, penurunan harga minyak dunia pada April 2022 itu menjadi sejarah terendah harga minyak dunia dalam 21 tahun.

Harga minyak dunia tahun 2020. Source: https://tradingeconomics.com/

Penyebabnya adalah rasa khawatir terhadap tempat penyimpanan pasokan minyak yang akan berkurang, pasca pemangkasan produksi yang ternyata tidak efektif menangani merosotnya permintaan minyak yang terjadi secara tajam. Hal itu diakibatkan oleh pemberlakukan lockdown di berbagai wilayah belahan dunia yang dipicu oleh penyebaran Covid19 yang mengganas di tahun 2020.

Harga Minyak Mentah Dunia Turun

[Baca lagi: Prospek Emiten Sektor Migas, Menghadapi Turunnya Minyak Mentah Dunia]

.

Penyebab Harga Minyak Dunia Merosot

Lantas apa yang menjadi penyebab merosotnya harga minyak dunia di 2022 ini?

  • Pertama pengumuman data inflasi Amerika Serikat yang tercatat masih tinggi di 8.3% per Agustus 2022. Inflasi yang masih tinggi ini, setidaknya menimbulkan pesimisme terhadap The Fed dalam mengurangi pengetatan suku bunga. Pelaku pasar yakin The Fed masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga yang berlaku saat ini, terlebih lagi inflasi Agustus 2022 masih berada di level 8.3%.

Inflasi AS. Source: tradingeconomics

Angka inflasi Agustus 2022 ini masih berada di atas perkiraan pasar yang sebesar 8.1%. Padahal inflasi AS menjadi tolak ukur bagaimana kebijakan suku bunga The Fed ditetapkan. Jadi tidak heran apabila akhirnya pesimisme pelaku pasar muncul.

  • Kedua, China kembali menerapkan pembatasan Covid19 yang diperbarui, ekonomi anjlok. Hal ini setidaknya sangat membebani harga minyak mentah lantaran China sampai sekarang masih menjadi konsumen minyak terbesar kedua di dunia. Seperti yang kita ketahui, China masih disibukkan dengan upaya penanganan penyebaran virus Covid19 melalui kebijakan zero Covid19. Akibatnya seluruh aktivitas masyarakat dibatasi secara ketat sehingga perekonomian China kembali anjlok. Tak pelak, permintaan pasokan minyak sebagai bahan bakar industri di China turun tajam.
  • Ketiga, pergerakan nilai mata uang dolar AS yang bergerak ke level tertinggi dalam sejarahnya. Kondisi tersebut sangat mempengaruhi harga minyak mentah semakin mahal, khususnya bagi pembeli yang berasal dari luar negeri. Atau bahkan bagi pembeli minyak yang menggunakan mata uang lain. Tercatat dalam beberapa waktu terakhir dolar AS bergerak naik menyentuh level US$110.

United States Dollar. Source: tradingeconomics

  • Keempat, posisi cadangan minyak strategis di Amerika Serikat turun. Harga minyak dunia merosot ini juga dipengaruhi oleh cadangan minyak strategis (SPR) yang mengalami penurunan sebesar 8.4 juta barel, menjadi 434.1 juta barel. Penurunan ini menjadi yang paling rendah sejak Oktober 1984 silam. Sedangkan untuk stok minyak komersial AS juga diprediksikan akan mengalami penurunan hingga 200ribu barel setiap minggunya. Dalam hal ini, Joe Biden – Presiden AS berencana untuk melepaskan 1 juta barel setiap harinya dengan harapan dapat mengatasi harga bahan bakar AS yang melambung, sekaligus menekan pertumbuhan inflasi.
  • Kelima, potensi bangkitnya nuklir Iran 2015. Sekarang ini pembicaraan pemberlakukan kembali perjanjian nuklir Iran masih terus diupayakan, memungkinkan anggota OPEC dapat meningkatkan ekspor minyak. Tak pelak kondisi ini diprediksi dapat membebani harga minyak dunia. Terlebih lagi memang kekhawatiran pasokan yang tidak memadai pasca Rusia mengirimkan pasukan militer ke Ukraina. Sementara di waktu yang bersamaan OPEC tengah berupaya meningkatkan produksi minyak.

Meski dalam waktu pendek ini harga minyak bergerak turun, tidak menutup kemungkinan dalam beberapa waktu ke depan akan kembali menguat. Bahkan sebenarnya secara historikal harga minyak dunia terus mengalami kenaikan. OPEC sendiri telah mengklaim bahwa permintaan minyak dunia secara global baik di tahun ini maupun di 2023 nanti diprediksikan akan menguat, didukung dengan perekonomian yang pulih, sekalipun di tengah tantangan global seperti halnya inflasi yang melambung.

.

.

.

.

DISCLAIMER : Tulisan ini bukan bersifat rekomendasi beli atau jual. Tulisan ini bersifat untuk edukasi berdasarkan sudut pandang penulis pribadi. Do Your Own Research sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual saham.

###

Info:

 

1
Pastikan rekan Investor tidak ketinggalan Informasi ter-update

Subscribe sekarang untuk mendapatkan update artikel terbaru setiap minggunya

keyboard_arrow_leftPrevious
Nextkeyboard_arrow_right

Komentar

Artikel Lainnya