pemicu perang dagang as dan meksiko

Belum Selesai Dengan China, AS Memulai Perang Dagang Dengan Meksiko


Meski perang dagang antara AS dan China masih berlangsung hingga saat ini, nampaknya hal tersebut tidak menghentikan langkah AS yang baru-baru ini justru memantik perang dagang dengan negara tetangga, yakni Meksiko. Apa penyebab munculnya perang dagang antara AS dan Meksiko ? Apakah pengaruhnya akan sebesar perang dagang AS dan China ?

 

Awal Mula Pemicu Perang Dagang AS dan Meksiko

Pada tanggal 30 Mei 2019 kemarin, Presiden AS Donald Trump kembali menabuh perang dagang dengan kembali berkicau melalui akun Twitter nya. Kali ini kicauan orang nomor satu di AS tersebut, tidak ditujukan untuk China melainkan kepada negara tetangga yakni Meksiko. Di mana AS memberitahukan mengenai kesiapannya dalam mengenakan sanksi terhadap Meksiko, dengan menaikkan tarif bea impor sebesar 5% untuk seluruh produk asal Meksiko dan akan efektif mulai per tanggal 10 Juni 2019 kemarin. Pengenaan sanksi bea impor tersebut akan dinaikkan secara bertahap yakni setiap per satu sekali. Rencananya Trump akan menerapkan kenaikan tarif bea impor untuk Meksiko dalam tiga tahap, yakni bea impor akan naik menjadi 15% pada 1 Agustus 2019, naik lagi menjadi 20% pada 1 September 2019, dan kemudian dinaikkan lagi menjadi 25% di Oktober 2019. Dengan batasan kenaikan akan dihentikan, apabila Meksiko setuju untuk bersama-sama menangani masalah masuknya imigran ilegal dari Meksiko ke AS.

Pemicu yang memantik AS menyuarakan perang dagang dengan Meksiko, adalah terkait permasalahan arus imigran ilegal yang terjadi di perbatasan kedua negara. Sebelumnya, AS telah memberikan tenggat waktu selama 10 hari kepada Meksiko untuk menghentikan imigran ilegal menuju utara ke perbatasan Amerika. Di sisi lain, pengumuman Trump terkait sanksi untuk Meksiko tersebut dikeluarkan di hari yang sama saat Meksiko memulai proses resmi meratifikasi Perjanjian AS – Meksiko – Kanada mengenai perdagangan.

 

Imigran Ilegal yang berupaya mencapai perbatasan AS, berjalan di bahu jalan di Frontera Hidalgo – Meksiko. Source : voaindonesia

 

Sebelumnya pada Oktober 2018 kemarin, Trump sendiri sudah pernah melayangkan ancaman dengan akan mengirimkan pasukan militer untuk menutup perbatasan AS dengan Meksiko. Hal tersebut guna menghalangi imigran gelap masuk ke AS. Bahkan Trump sendiri sudah mengakui, bahwa sudah siap untuk mempertaruhkan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA), yang saat itu baru dinegosiasikan ulang antara AS, Meksiko, dan Kanada. Trump yang mempermasalahkan masuknya imigran ilegal asal Meksiko tersebut, lebih dikarenakan imigran ilegal menjadi ancaman tersendiri bagi AS lantaran imigran ilegal berasal dari berbagai unsur pidana dan narkoba. Sehinggga Trump menilai perang dagang yang dilancarkannya kemarin adalah sebagai antisipasi. Antisipasi dilakukan jika ternyata Meksiko tidak mengambil tindakan untuk menangani dan mengurangi jumlah warga ilegal yang menyeberang ke AS melalui perbatasan AS dan Meksiko.

Meskipun sejauh ini jumlah imigran ilegal di AS sudah mulai menurun, namun saat ini US masih menjadi negara yang menampung jumlah imigran terbesar. Per akhir 2017, AS menampung hampir 50 juta imigran, dengan pangsa imigran terbesar adalah dari Meksiko. Pangsa imigran Meksiko di US sendiri adalah sebesar 25.3 % atau sekitar seperempat dari total imigran di US. Jika ditotal jumlah imigran Meksiko di AS ini sebanyak 10 – 12 juta imigran setiap tahunnya.

Negara dengan Jumlah Imigran Paling Banyak (2017). Source : bbc.com

 

Kesepakatan Perjanjian Perbatasan AS – Meksiko

Meskipun tabuhan perang dagang AS terhadap Mesiko sudah siap. Akan tetapi, belum lama ini Trump justru membuat keputusan yang secara spontan membatalkan sanksi atas kenaikan tarif bea impor untuk Meksiko. Perubahan keputusan tersebut, tidak lepas dari tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Meksiko pada 7 Juni 2019 kemarin. Di mana Meksiko menyetujui untuk mengurangi arus masuk imigran ilegal.

Kesepakatan damai tersebut membuat Meksiko mampu menghindari pengenaan sanksi bea impor yang ditetapkan oleh AS. Di mana Meksiko akhirnya sepakat untuk tegas menahan arus masuk imigran Amerika Tengah yang ingin menyebrang ke AS. Salah satunya dengan Meksiko akan memberlakukan perluasan atas program Migration Protection Protocols (MPP). Dalam program tersebut, nantinya warga negara Meksiko yang mencari suaka ke AS akan tetap menunggu di negaranya sampai proses suakanya selesai. Adapun pelaksanaan program MPP tersebut, sepakat untuk diterapkan di seluruh negara bagian yang berbatasan sepanjang 3.220 km. Tidak hanya itu, Meksiko juga bersedia mengambil lebih banyak imigran pencari suaka di AS. Bahkan, Meksiko juga setuju untuk meningkatkan penegakan hukum di perbatasan bagian selatan negaranya untuk menahan arus imigran ilegal. Termasuk salah satunya dengan menurunkan Garda Nasional di perbatasan bagian selatan, dan akan diturunkan pada 10 Juni 2019 kemarin.

Dengan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Meksiko, Trump pun kembali memberikan pengumumannya melalui akun Twitternya. Di mana AS mengeluarkan kebijakan pengenaan sanksi kenaikan bea impor baru ditunda. Adapun cuitan Trump adalah seperti berikut :

Namun meski sepakat untuk damai, ada hal yang perlu kita ingat bahwa masih ada kemungkinan langkah lanjutan. Lantaran AS dan Meksiko akan kembali melanjutkan pembahasan dalam waktu 90 hari ke depan, dengan adanya langkah tambahan berdasarkan deklarasi kesepakatan tersebut.

 

Bagaimana Dampak Potensi Perang Dagang AS dan Meksiko Ke Depannya ?

Meskipun skalanya tidak sebesar Perang Dagang dengan China, namun Jika perang dagang AS dan Meksiko benar jadi dilancarkan, maka AS akan menghadapi perang dagang dengan dua dari tiga mitra dagang utamanya yakni China dan Meksiko. Di mana saat ini mitra dagang terbesar AS terdiri dari China, Meksiko, dan Kanada.

Bila sampai terjadi perang dagang antara AS dengan Meksiko, maka akan semakin melemahkan posisi ekonomi di US sekaligus menimbulkan potensi perlambatan ekonomi global. Demikian pula, hal terebut juga akan mempengaruhi  pergerakan nilai tukar mata uang, yang ujung-ujungnya bisa jadi akan kembali direspon negatif oleh pasar modal secara global seperti yang terjadi pada bulan Mei 2019 lalu.

Belum lagi sentimen perang dagang antara AS dengan China yang masih berlanjut hingga saat ini, bahkan China semakin tegas dalam menghadapi segala trik yang diambil oleh AS dalam upaya memenangkan perang dagang. Salah satunya seperti yang baru-baru ini dilakukan dengan membatasi ruang gerak Huawei di AS. Tak terkecuali Indonesia yang juga akan ikut merasakan akibatnya seperti menurunnya angka eskpor yang menyebabkan defisit neraca berjalan melebar dan Rupiah melemah. Dengan semakin bertambahnya tensi perang dagang, juga akan berpotensi mengurangi ekspor dan impor Indonesia untuk produk-produk yang berpengaruh langsung. Hal tersebut pernah Penulis bahas dalam artikel sebelumnya, Anda juga bisa membaca kembali ulasannya pada artikel di bawah ini :

 

Sebaliknya jika ke depannya, AS dan Meksiko mencapai kesepakatan damai, maka dengan otomatis pengenaan kenaikan tarif bea masuk barang asal Meksiko akan ditunda sampai batas yang tidak ditentukan. Hal itu tentunya menjadi angin segar bagi para pelaku pasar.

 

Kesimpulan

Presiden AS Donald Trump baru-baru ini kembali memicu kepanikan di pasar global, lantaran tindakannya yang akan mengenakan sanksi terhadap negara tetangga sekaligus salah satu mitra dagang terbesarnya yakni Meksiko. Di mana AS mengancam akan mengenakan sanksi kenaikan tarif bea impor sebesar 5% untuk seluruh produk asal Meksiko. Sedangkan rencananya, kenaikan tarif bea impor tersebut akan dilakukan hingga tiga kali kenaikan. Dengan batasan kenaikan tarif bea impor tesebut akan diberhentikan, jika Meksiko menyetujui untuk mengatasi dan memberlakukan penegakkan hukum atas arus imigran ilegal di perbatasan AS dan Meksiko.

Meskipun keputusan Trump tersebut sempat memicu kepanikan, dan menimbulkan pertentangan. Namun, akhirnya kedua negara tersebut memilih untuk mencapai kesepakatan berdamai. AS yang pertama kali menabuhkan perang dagang meminta untuk Meksiko segera mengatasi jumlah imigran ilegal tersebut, akhirnya disambut baik oleh Meksiko yang menyetujui untuk mengatasi permasalahan imigran ilegal yang berusaha memasuki wilayah AS. Di mana Meksiko akan  memberlakukan perluasan atas program Migration Protection Protocols (MPP), yang akan diterapkan di seluruh negara bagian yang berbatasan sepanjang 3.220 km. Dan Meksiko juga setuju untuk meningkatkan penegakan hukum di perbatasan bagian selatan negaranya untuk menahan arus imigran ilegal. Dengan menurunkan Garda Nasional di perbatasan bagian selatan, dan akan diturunkan pada 10 Juni 2019 kemarin.

Kendati perang dagang AS dan Meksiko saat ini tengah mereda, namun perlu kita waspadai adanya keputusan yang berbeda dalam 90 hari ke depan.  Di mana AS dan Meksiko akan kembali melanjutkan pembahasan, apakah akan semakin membebaskan kedua negara tersebut dari potensi perang dagang atau sebaliknya.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Juni 2019 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q1 2019 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q1 2019 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Stockademy Value Investing bersama TICMI (Jakarta, 22 Juni 2019) dapat dilihat di sini.

    • Workshop & Advance Value Investing (Jogja, 6 – 7 Juli 2019) dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Surabaya, 20 – 21 Juli 2019) dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Jakarta, 3 – 4 Agustus 2019) dapat dilihat di sini.

 

Tags : Pemicu Perang Dagang AS dan Meksiko | Pemicu Perang Dagang AS dan Meksiko | Pemicu Perang Dagang AS dan Meksiko | Pemicu Perang Dagang AS dan Meksiko | Pemicu Perang Dagang AS dan Meksiko | Pemicu Perang Dagang AS dan Meksiko | Pemicu Perang Dagang AS dan Meksiko | Pemicu Perang Dagang AS dan Meksiko | Pemicu Perang Dagang AS dan Meksiko

You may also like

LEAVE A COMMENT

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Share this Post

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami