Resistance dan Support

Terakhir diperbarui Pada 2 Februari 2026 at 11:02 am

Support dan resistance merupakan konsep dasar yang wajib dipahami dalam analisis teknikal saham maupun trading. Hampir semua strategi teknikal, mulai dari price action, chart pattern, hingga indikator, berawal dari pemahaman area support dan resistance. Tanpa memahami dua konsep ini, pelaku pasar cenderung akan masuk pasar di waktu yang kurang tepat dan memicu emosi. Langsung saja kita bahas!

 

Mengenal Support dan Resistance

Support merupakan area harga di mana tekanan beli (buyer) cenderung lebih kuat, daripada tekanan jual. Hal ini membuat harga berpotensi berhenti turun atau memantul naik. Support sering dianggap sebagai ‘lantai’ harga.

Sebaliknya, resistance merupakan area harga di mana tekanan jual (seller) lebih dominan. Sehingga harga berpotensi tertahan atau berbalik turun. Resistance sering dianalogikan sebagai ‘atap’ harga.

Support dan resistance terbentuk bukan karena angka tertentu semata, melainkan karena psikologi pasar. Di mana banyak pelaku pasar bereaksi pada area harga yang sama, berdasarkan pengalaman sebelumnya.

 

Tujuan Memahami Support dan Resistance

Memahami support dan resistance memberikan beberapa manfaat, dalam pengambilan keputusan investasi maupun trading:

  • Menentukan timing entry dan exit

    Support sering digunakan sebagai area beli, sedangkan resistance menjadi area jual atau take profit.

  • Mengelola risiko dengan lebih terukur

    Level support dan resistance membantu menentukan area stop loss yang logis.

  • Membaca kekuatan tren

    Breakout di atas resistance atau breakdown di bawah support, seringkali menandakan adanya perubahan kekuatan pasar.

  • Menghindari keputusan emosional

    Dengan level harga yang jelas, maka keputusan tidak lagi berdasarkan rasa takut atau serakah. Melainkan keputusan yang lebih rasional dan terukur.

 

 

Metode Mengidentifikasi Support dan Resistance

Ada beberapa metode umum yang digunakan untuk mengidentifikasi area support dan resistance. Idealnya, metode-metode ini dikombinasikan, agar level yang dihasilkan lebih kuat, seperti:

  • Swing High dan Swing Low

Metode paling dasar adalah mengamati titik tertinggi (swing high) dan titik terendah (swing low) pada grafik harga.

    • Swing low berulang → area support
    • Swing high berulang → area resistance

Semakin sering harga bereaksi di area yang sama, maka akan semakin kuat level tersebut.

 

  • Garis Horizontal

Menarik garis horizontal pada area harga yang sering menjadi titik pantul atau penolakan. Metode ini sangat populer lantaran mudah digunakan, cenderung efektif di berbagai timeframe, dan relevan untuk saham dan instrumen apa pun. Oleh karena itu, support dan resistance lebih tepat dianggap sebagai area, bukan satu garis harga yang presisi.

  • Moving Average

Moving average seperti halnya MA20, MA50, atau MA200 sering berfungsi sebagai support dan resistance dinamis. Dalam tren naik, harga cenderung memantul di MA. Sedangkan dalam tren turun, MA seringkali menjadi resistance.

  • Trendline

Trendline merupakan garis diagonal yang menghubungkan titik-titik higher low (uptrend) atau lower high (downtrend). Di mana:

    • Trendline naik → support dinamis
    • Trendline turun → resistance dinamis

Trendline ini efektif digunakan untuk membaca arah tren dan potensi koreksi sehat.

  • Area Psikologis (Angka Bulat)

Harga bulat seperti 1.000, 5.000, atau 10.000 sering menjadi support atau resistance, karena faktor psikologis. Banyak pelaku pasar yang memasang order di level ini, sehingga reaksinya menjadi lebih kuat.

 

Strategi Menggunakan Support dan Resistance

Setelah level support dan resistance teridentifikasi, maka langkah berikutnya ialah menerapkannya ke dalam strategi.

  • Buy Near Support, Sell Near Resistance

Strategi klasik ini lebih cocok untuk pasar sideways atau saham yang bergerak dalam range.

    • Beli mendekati support
    • Jual mendekati resistance

Pastikan tetap menggunakan stop loss jika support ditembus.

  • Breakout Strategy

Jika harga menembus resistance dengan volume besar, maka bisa menjadi sinyal lanjutan tren naik.
Sebaliknya, breakdown di bawah support bisa menjadi sinyal bearish.

  • Support–Resistance Flip

Resistance yang berhasil ditembus seringkali berubah fungsi menjadi support, dan sebaliknya. Strategi ini umumnya digunakan untuk entry setelah breakout.

Support dan resistance akan lebih kuat, jika dikombinasikan dengan:

    • Volume
    • RSI (overbought/oversold)
    • Chart pattern (triangle, flag, dan lainnya)

 

Kesimpulan

Support dan resistance adalah fondasi utama dalam analisis teknikal. Dengan memahami cara mengenali, mengidentifikasi, dan menggunakannya secara disiplin. Maka pelaku pasar, baik itu investor maupun trader dapat mengambil keputusan yang lebih rasional dan terukur. Meski terlihat sederhana, namun efektivitas support dan resistance sangat bergantung pada konsistensi, konteks tren, dan manajemen risiko.

Dalam analisis teknikal, yang diutamakan bukan tentang seberapa banyak indikator yang digunakan. Melainkan seberapa baik kemampuan dalam memahami struktur harga. Jika dipadukan dengan disiplin dan strategi yang jelas, maka support dan resistance dapat menjadi alat yang sangat powerful dalam menghadapi dinamika pasar saham.***

 

###

 

DISCLAIMER ON:
Tulisan ini bukan rekomendasi jual dan beli. Semua data dan pendapat pada artikel adalah bersifat informasi yang mengedukasi pembaca, berdasarkan sudut pandang penulis pribadi. Risiko investasi berada pada tanggung jawab masing-masing investor. Do Your Own Research!

 

Temukan Artikel Analisa dan Edukasi Saham lainnya di Google News.

1
Pastikan rekan Investor tidak ketinggalan Informasi ter-update

Subscribe sekarang untuk mendapatkan update artikel terbaru setiap minggunya

reCaptcha v3
keyboard_arrow_leftPrevious
Nextkeyboard_arrow_right

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *