Bank Mandiri Downfall? Analisis Perpetual Bond BMRI US50 Juta

“Bank Mandiri terbitkan perpetual bond US$750 juta dengan bunga 7,35% per tahun.” Judul berita tentang perpetual bond Bank Mandiri ini sempat ramai di media sepanjang September 2026. Tak heran banyak investor langsung curiga: bank sebesar PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mau membayar bunga setinggi itu, padahal obligasi Mandiri yang terbit pada Maret 2026 hanya berbunga 5,25%.

Berita penerbitan perpetual bond Bank Mandiri US$750 juta

Source: Fortune Indonesia (12 Oktober 2026)

Kekhawatiran itu makin besar karena dokumen penawarannya menyebut bunga dapat dibatalkan dan pokoknya dapat dihapus. Di saat yang sama, harga saham BMRI sudah terkoreksi sekitar 30% sejak awal 2026 dan ditutup di Rp3.580 per 4 November 2026.

Pertanyaannya, apakah Mandiri sedang butuh uang? Apakah ini tanda Mandiri sedang tidak baik-baik saja? Mari kita bedah langsung dari dokumen penawaran setebal lebih dari 1.000 halaman, aturan OJK, dan laporan keuangan Mandiri sendiri.

Daftar Isi

  1. Bank Mandiri Terbitkan Perpetual Bond US$750 Juta
  2. Apa Itu Perpetual Bond AT1?
  3. Mengapa BMRI Menerbitkan Perpetual Bond?
  4. Apakah Kondisi BMRI Masih Aman?
  5. Kesimpulan

Bank Mandiri Terbitkan Perpetual Bond US$750 Juta

Pada 10 September 2026, Bank Mandiri resmi menerbitkan surat utang perpetual senilai US$750 juta, atau sekitar Rp13,45 triliun dengan kurs saat penerbitan. Dalam laporan publikasi per 30 September 2026, dana yang tercatat sebagai modal inti tambahan sebesar Rp13,17 triliun. Bunganya 7,35% per tahun, dibayar setiap 6 bulan sekali mulai Maret 2027.

Halaman depan offering circular AT1 Bank Mandiri US$750 juta

Source: Offering Circular Bank Mandiri AT1

Ada beberapa detail penting dari penerbitan ini:

  • Lokasi pencatatan: Bursa Singapura (SGX), bukan Bursa Efek Indonesia.
  • Target investor: hanya ditawarkan kepada investor di luar negeri.
  • Penjamin emisi: HSBC, J.P. Morgan, Standard Chartered, dan Mandiri Sekuritas.
  • Minimal pembelian: US$200 ribu, atau sekitar Rp3,5 miliar.

Artinya, investor ritel Indonesia tidak bisa membeli instrumen ini. Begitu berita keluar, sejumlah pengamat menyoroti risikonya: bunga yang tinggi, bunga yang dapat dibatalkan, pokok yang dapat hilang saat kondisi bank memburuk, hingga risiko kurs karena bunganya dibayar dalam dolar AS.

Sebelum panik, ada satu hal yang perlu dipahami lebih dulu: perpetual bond bukan obligasi biasa.

Apa Itu Perpetual Bond AT1?

Perpetual berarti abadi. Sederhananya, perpetual bond adalah obligasi yang tidak memiliki tanggal jatuh tempo.

Pada obligasi biasa bertenor 5 tahun, bank wajib mengembalikan pokok di tahun kelima. Bunganya juga wajib dibayar, dan keterlambatan sedikit saja sudah tergolong gagal bayar (default). Perpetual bond Mandiri bekerja dengan cara yang berbeda.

Aspek

Obligasi Biasa (Senior)

Perpetual Bond Mandiri (AT1)

Jatuh tempo

Ada, misalnya 5 tahun

Tidak ada, dapat ditebus mulai 2031 dengan izin OJK

Bunga

Wajib dibayar

Dapat dibatalkan, tidak dianggap gagal bayar

Bunga yang batal

Tetap menjadi utang

Hangus, tidak menumpuk

Pokok

Wajib dikembalikan penuh

Dapat dihapus atas perintah OJK

Urutan saat bank dilikuidasi

Bersama kreditur lain

Paling belakang, hanya di depan pemegang saham

Bunga Mandiri

5,25% (terbit Maret 2026)

7,35% (terbit September 2026)

Pertama, Tidak Ada Jatuh Tempo

Mandiri baru boleh menebus perpetual bond ini mulai September 2031. Itu pun harus dengan izin OJK.

Kedua, Bunga Dapat Dibatalkan dan Hangus

Bunga yang dibatalkan tidak menumpuk menjadi utang, dan pembatalan ini tidak dianggap gagal bayar.

Ketiga, Pokok Dapat Dihapus

Penghapusan pokok (write down) hanya terjadi jika bank masuk kondisi point of non-viability, yaitu saat bank tidak lagi mampu bertahan sendiri dan perlu diselamatkan, misalnya otoritas berencana menyuntikkan modal. Penghapusan ini pun hanya dapat dilakukan bila OJK memerintahkannya secara tertulis.

Definisi Loss Absorption Event dan Point of Non-Viability Event

Source: Offering Circular Bank Mandiri AT1

Bunga Disesuaikan Ulang Setelah 2031

Bunga 7,35% hanya terkunci sampai 2031. Setelah itu, bunga disesuaikan setiap 5 tahun dengan rumus: yield US Treasury tenor 5 tahun + 2,866%. Contohnya, jika yield US Treasury 5 tahun berada di 4% pada 2031, bunga untuk periode 2031 sampai 2036 menjadi 6,866%.

Dasar Aturannya

Bentuk seperti ini bukan pilihan bebas Mandiri. Dalam POJK Nomor 11/POJK.03/2016 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, sebagaimana telah diubah terakhir dengan POJK Nomor 27 Tahun 2022, instrumen ini dikategorikan sebagai modal inti tambahan (Additional Tier 1/AT1).

Secara lebih spesifik, Pasal 15 yang terakhir diubah melalui POJK Nomor 34/POJK.03/2016 menetapkan sejumlah persyaratan ketat agar suatu instrumen dapat diakui sebagai modal inti tambahan. Di antaranya, instrumen harus bersifat perpetual (tanpa jatuh tempo), memiliki karakteristik subordinasi, dapat dikonversi menjadi saham biasa atau mengalami write down apabila bank menghadapi risiko terganggunya kelangsungan usaha (point of non-viability), serta memberikan kewenangan kepada bank untuk membatalkan pembayaran imbal hasil. Instrumen tersebut juga wajib memperoleh persetujuan OJK agar dapat diperhitungkan sebagai komponen modal bank.

POJK 34/2016 Pasal 15 ayat (1) tentang syarat modal inti tambahan

Source: POJK Nomor 34/POJK.03/2016

Pasal 15 ayat (1) mensyaratkan instrumen AT1 tidak memiliki jangka waktu, wajib memiliki fitur write down saat point of non-viability, dan pada huruf g, bank harus memiliki kewenangan penuh (full access) untuk membatalkan imbal hasil. Jadi, klausul pembatalan bunga justru diwajibkan OJK. Tanpa klausul ini, dana tersebut tidak boleh dihitung sebagai modal inti.

Penjelasan Pasal 11 ayat (1) huruf b POJK 11/2016 tentang bentuk modal inti tambahan

Source: POJK Nomor 11/POJK.03/2016

Sederhananya, membeli obligasi biasa berarti meminjamkan uang ke bank. Sementara membeli perpetual bond lebih mirip ikut patungan modal: mendapat bunga tetap, tetapi siap tidak dibayar ketika bank sedang kesulitan.

Karena sifatnya mirip modal, dana ini diperhitungkan sebagai modal inti tambahan dalam rasio permodalan. Berdasarkan pemberitaan Bisnis.com pada 1 Oktober 2026, Mandiri telah mengantongi persetujuan OJK untuk itu.

Takeaway: fitur yang terdengar menakutkan pada perpetual bond adalah syarat regulasi, bukan tanda Mandiri sedang bermasalah.

Mengapa BMRI Menerbitkan Perpetual Bond?

Jawabannya ada pada satu rasio, yaitu CAR atau Capital Adequacy Ratio. CAR mengukur seberapa tebal modal bank dibandingkan aset berisikonya, terutama kredit yang disalurkan. Semakin banyak kredit, semakin besar modal yang dibutuhkan.

CAR, CET1, ATMR, dan dividend payout ratio Bank Mandiri 2020 sampai 1H26

Source: Presentasi Bank Mandiri (bank-only)

CAR Turun di Bawah Target Internal

Berdasarkan presentasi Mandiri (basis bank-only), CAR perseroan berada di 21,5% pada 2023, turun ke 20,1% pada 2024, lalu 19,4% pada 2025, dan 17,5% pada semester I 2026. Rasio modal inti utama (CET1) juga turun dari 18,9% pada 2024 menjadi 16,4%.

Sekilas 17,5% masih tinggi. Namun, Mandiri adalah bank sistemik sehingga batas minimumnya bukan 8%, melainkan 14,68%:

  • Minimum sesuai profil risiko: 9,68%
  • Capital conservation buffer: 2,5%
  • Tambahan untuk bank sistemik: 2,5%

Yang lebih penting, Mandiri memiliki target internal CAR di kisaran 18% sampai 20%. Artinya, pada semester I 2026, CAR Mandiri sudah berada di bawah target internalnya sendiri.

Dua Penyebab Utama

Laporan posisi keuangan Bank Mandiri, kredit yang diberikan per 30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025

Source: Laporan Keuangan Bank Mandiri 30 Juni 2026

  • Kredit tumbuh kencang: kredit Mandiri secara individual naik dari Rp1.497 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp1.592 triliun pada Juni 2026, atau sekitar 6,3% dalam 6 bulan. Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) juga naik dari Rp1.215 triliun pada 2024 menjadi Rp1.399 triliun pada Juni 2026, atau hampir 70% lebih tinggi dibanding Rp827 triliun pada 2020.
  • Dividen makin besar: rasio pembagian dividen naik dari 60% menjadi 78% dari laba mulai tahun buku 2025. Alhasil, laba yang ditahan untuk menambah modal makin kecil, dan modal inti justru turun dari Rp238 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp229 triliun pada Juni 2026.

Jadi, CAR turun bukan karena Mandiri merugi, melainkan karena kredit tumbuh lebih cepat daripada modal, sementara dividen dibagikan dalam porsi besar.

Dampaknya ke CAR dan Buffer CET1

Tumpukan modal Bank Mandiri: kewajiban modal, modal Juni 2026, dan estimasi setelah AT1

Source: Offering Circular BMRI AT1, POJK 11/2016 dan 34/2016, diolah penulis

Modal bank tersusun dari tiga lapis. Paling bawah adalah CET1 yang berisi saham dan laba ditahan, di atasnya AT1 tempat perpetual bond berada, lalu paling atas modal pelengkap atau Tier 2.

Dengan tambahan sekitar Rp13,17 triliun, CAR Mandiri berpotensi naik sekitar 0,9 poin ke kisaran 18,4%, kembali masuk ke rentang target internal. Ini hitungan kasar penulis dengan asumsi ATMR tidak berubah. Sebagai pembanding, presentasi kinerja kuartal III 2026 Mandiri mencatat CAR bank-only per September 2026 sebesar 18,4%, sejalan dengan estimasi tersebut.

POJK 34/2016 Pasal 3 ayat (8) dan (9)

Source: POJK Nomor 34/POJK.03/2016

Ada detail menarik di aturan OJK. Pasal 3 ayat (8) mewajibkan buffer modal diisi dengan CET1, bukan dengan perpetual bond. Lantas, di mana gunanya? Pasal 3 ayat (9) mengatur bahwa CET1 dipakai lebih dulu untuk memenuhi kewajiban minimum, baru sisanya dihitung sebagai buffer.

Karena perpetual bond ikut mengisi kewajiban minimum, sebagian CET1 menjadi bebas untuk buffer. Berdasarkan estimasi penulis, sisa CET1 Mandiri di atas seluruh kewajiban naik dari sekitar 2,79% menjadi 3,73%.

Mengapa Tidak Rights Issue?

Rights issue sebenarnya menghasilkan modal dengan kualitas terbaik, tetapi biayanya mahal. Penerbitan saham baru membuat pemegang saham lama terdilusi, termasuk negara melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), apalagi di saat harga saham BMRI sedang tertekan.

Takeaway: perpetual bond menjadi jalan tengah untuk mengembalikan CAR ke target tanpa mendilusi pemegang saham.

Apakah Kondisi BMRI Masih Aman?

Pertanyaan berikutnya, apakah bunga 7,35% dalam dolar AS ini membebani Mandiri? Mari kita hitung. US$750 juta dikali 7,35% menghasilkan sekitar US$55,1 juta per tahun, atau sekitar Rp1 triliun dengan kurs Rp18.160 per dolar AS (5 November 2026).

Beban Bunga dibandingkan Pendapatan

Laporan laba rugi Bank Mandiri semester I 2026: pendapatan bunga, beban bunga, dan pendapatan bunga bersih

Source: Laporan Keuangan Bank Mandiri 30 Juni 2026

Pada semester I 2026, pendapatan bunga Mandiri secara individual mencapai Rp63,6 triliun, naik dari Rp60,4 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan bunga bersih (NII), yaitu pendapatan bunga dikurangi beban bunga, tercatat Rp41,6 triliun atau naik sekitar 8% dari Rp38,5 triliun.

Dari sisi laba, laba bersih Mandiri secara individual (bank-only) mencapai Rp41,97 triliun hingga kuartal III 2026, sedangkan secara konsolidasi Rp45,5 triliun.

Perbandingan (disetahunkan)

Nilai per Tahun

Porsi Bunga Perpetual Bond (sekitar Rp1 triliun)

Pendapatan bunga (individual, H1 2026)

sekitar Rp127 triliun

sekitar 0,8%

Pendapatan bunga bersih/NII (H1 2026)

sekitar Rp83 triliun

sekitar 1,2%

Laba bersih (individual, 9M 2026)

sekitar Rp56 triliun

sekitar 1,8%

Sebagai ilustrasi, kondisi ini mirip seseorang bergaji Rp10 juta per bulan yang memiliki cicilan Rp120 ribu. Bebannya ada, tetapi jauh dari kata membuat goyah.

Rating Ba2: Yang Dinilai Instrumennya

Obligasi senior Mandiri memperoleh rating Baa2 dari Moody’s serta BBB dari S&P dan Fitch. Rating ini tergolong investment grade dan setara dengan rating negara Indonesia.

Sementara itu, perpetual bond ini diberi rating Ba2 oleh Moody’s, tiga tingkat lebih rendah.

Rating Ba2 dari Moody's untuk AT1 Bank Mandiri

Source: Offering Circular Bank Mandiri AT1

Penurunan rating ini mencerminkan struktur instrumennya, yaitu bunga yang dapat dibatalkan, pokok yang dapat dihapus, dan posisi paling belakang, bukan memburuknya kondisi Mandiri.

Justru karena risikonya lebih besar, bunganya lebih tinggi sebagai kompensasi. Jadi, perpetual bond ini tidak tepat dibandingkan dengan obligasi biasa, apalagi deposito.

Perbandingan dengan AT1 Bank Lain

Instrumen

Waktu Terbit

Nilai

Bunga

Obligasi senior Mandiri (5 tahun)

Maret 2026

US$750 juta

5,25%

AT1 BNI (perpetual)

April 2026

US$700 juta

7,15%

AT1 Mandiri (perpetual)

September 2026

US$750 juta

7,35%

AT1 BNI pertama (perpetual)

September 2021

US$600 juta

4,3%

Pada April 2026, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga menerbitkan AT1 senilai US$700 juta dengan bunga 7,15%, dan permintaannya mencapai 3,6 kali. Artinya, bunga 7,35% Mandiri masih sejalan dengan bank BUMN lain.

BNI juga menjadi contoh yang relevan. Pada 2021, BNI menjadi bank pertama di Indonesia yang menerbitkan AT1 senilai US$600 juta berbunga 4,3%, yang mendorong CAR-nya naik sekitar 1,4 poin, dari 18,21% menjadi 19,62%. Pada 2026, BNI membeli kembali AT1 lama melalui tender offer dan menggantinya dengan AT1 baru. Pola ini lumrah di dunia perbankan.

Dividend Stopper

Klausul distribution stopper dalam offering circular AT1 Bank Mandiri

Source: Offering Circular Bank Mandiri AT1

Perjanjian perpetual bond ini memuat klausul dividend stopper. Jika Mandiri tidak membayar bunga perpetual bond, Mandiri dilarang membagikan dividen kepada pemegang saham.

Hitungan kasarnya, dividen tunai Mandiri untuk tahun buku 2025 mencapai Rp44,47 triliun, atau 79% dari laba bersih konsolidasi, sedangkan bunga perpetual bond hanya sekitar Rp1 triliun per tahun. Sangat kecil kemungkinan Mandiri membatalkan bunga Rp1 triliun lalu kehilangan kesempatan membagi dividen Rp44,47 triliun, apalagi dividen tersebut juga dinanti oleh negara.

Takeaway: dari sisi beban bunga, rating, maupun perbandingan dengan bank lain, perpetual bond ini cenderung tidak mengganggu kesehatan Mandiri.

Kesimpulan

Jadi, apakah perpetual bond ini tanda kejatuhan Bank Mandiri? Dari data yang tersedia, jawabannya cenderung tidak. Perpetual bond adalah cara Mandiri menambah modal, karena kredit tumbuh cepat dan dividen dibagikan besar sehingga CAR sempat turun di bawah target internal 18% sampai 20%. Dengan instrumen ini, CAR berpotensi kembali ke target tanpa menerbitkan saham baru.

Bunganya memang tinggi, tetapi wajar untuk instrumen dengan risiko lebih besar, sejalan dengan AT1 bank lain, dan bebannya hanya sekitar 1,2% dari NII Mandiri setahun.

Yang justru perlu dipantau ke depan ada dua hal: apakah CAR Mandiri mampu bertahan di target internal jika kredit terus tumbuh kencang, dan bagaimana kualitas kreditnya. Dua faktor inilah yang lebih menentukan arah saham BMRI ke depan, bukan perpetual bond-nya.

Lantas, bagaimana pendapat Anda tentang langkah Bank Mandiri menerbitkan perpetual bond ini? Apakah BMRI masih menarik di mata Anda?

Teman-teman investor yang ingin belajar membedah laporan keuangan bank dan menilai saham perbankan secara lebih mendalam, simak analisis eksklusif lainnya bersama komunitas Rivan Kurniawan. Segera join Platinum Member!

DISCLAIMER ON: Tulisan ini bukan rekomendasi jual dan beli. Data dan opini dalam tulisan ini bersifat edukasi dan merupakan sudut pandang penulis pribadi. Risiko investasi berada pada tanggung jawab masing-masing investor. Do Your Own Research!

1
Pastikan rekan Investor tidak ketinggalan Informasi ter-update

Subscribe sekarang untuk mendapatkan update artikel terbaru setiap minggunya

reCaptcha v3
keyboard_arrow_leftPrevious
Nextkeyboard_arrow_right

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *