Cara Mencari Saham Undervalue Berdasarkan Fundamental dan Valuasi

Kebanyakan investor hanya fokus mencari saham undervalued, semata-mata bisa membeli saham dengan harga di bawah nilai wajarnya (intrinsik). Sayangnya, untuk menemukan saham undervalued tidak cukup hanya dengan melihat harga saham yang rendah. Lantaran saham seharga Rp500, belum tentu lebih murah daripada saham yang seharga Rp5.000. Maka untuk bisa menemukan saham undervalued, investor perlu memahami cara mencari saham undervalued berdasarkan fundamental dan valuasi! So mari kita ulas bahasannya…

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

Cara Memilih Saham Undervalued

Untuk bisa mengetahui apakah sebuah saham benar-benar murah secara fundamental, atau tidak. Maka investor perlu memahami kondisi bisnis, kinerja keuangan, prospek perusahaan, dan memperhitungkan valuasi saham. Dengan pendekatan fundamental tersebut, investor lebih mudah dalam memperhitungkan harga wajar saham dan membandingkannya dengan harga pasar saat ini. Nah berikut ini beberapa panduan praktis bagi investor dalam cara mencari saham undervalued:

  • Pertama, Pengertian Saham Undervalued

Saham undervalued merupakan saham dengan harga pasar yang dinilai lebih rendah, daripada nilai wajarnya (intrinsik), namun dengan kualitas fundamental yang sehat dan prospek bisnis yang baik. Cara sederhana membandingkan nilai intrinsik dengan harga pasar:

    • Jika harga pasar kurang dari nilai intrinsik (<), maka saham berpotensi undervalued.
    • Jika harga pasar lebih dari nilai intrinsik (>), maka saham berpotensi overvalued.

Konsep saham undervalued ini, berbeda konsep dengan ‘sekedar mencari saham murah’ yang harga per lembarnya rendah. Misalnya:

Saham A

Saham B

Diperdagangkan pada harga Rp500

Diperdagangkan pada harga Rp5.000

Kedua harga tersebut, secara nominal memang sama-sama murah, namun tidak serta merta dapat digunakan untuk menentukan saham mana yang undervalued.

Dalam memperhitungkan saham undervalued, investor perlu menghitung valuasi saham, dan melihat hubungan antara harga saham, dengan kemampuan perusahaan dalam mencetak laba, aset, ekuitas, yang tercermin ke dalam arus kas, dan memiliki prospek pertumbuhan bisnis yang baik di masa depan. Dari penjelasan tersebut, nampak jelas bahwa harga saham dan nilai perusahaan adalah dua hal berbeda.

Ketika hasil analisa, menunjukkan bahwa nilai wajar perusahaan lebih tinggi dari harga pasar saat ini, maka saham tersebut masuk kategori relatif undervalued. Tetapi investor perlu memahami, bahwa estimasi nilai wajar bukanlah angka mutlak. Lantaran hasil valuasi dapat bergantung pada metode analisa, kondisi bisnis, data yang digunakan, dan asumsi investor itu sendiri.

  • Kedua, Indikator yang Dapat Digunakan untuk Menemukan Saham Undervalued

Beberapa indikator saham undervalued yang populer:

    • PER (Price to Earning Ratio)

PER adalah rasio yang menghitung harga saham dibandingkan laba bersih per lembar sahamnya. Rasio ini digunakan untuk menilai apakah harga saham suatu perusahaan termasuk murah atau mahal. PER juga diartikan sebagai variabel yang menggambarkan psikologis pasar, yang berupa ekspektasi dan persepsi pasar terhadap saham tertentu. Acuannya, semakin tinggi nilai PER, maka semakin tinggi ekspektasi pasar terhadap kinerja perusahaan, begitu juga sebaliknya.

Rumus PER:

PER = Harga Saham per Lembar : Laba Bersih per Lembar Saham

 

    • PBV (Price to Book Value)

PBV adalah rasio yang menghitung harga saham dibandingkan nilai buku per lembar sahamnya. Nilai buku per lembar saham adalah nilai aset bersih perusahaan yang dibagi dengan jumlah saham yang beredar. PBV ini digunakan untuk menilai apakah harga saham perusahaan sudah undervalued atau overvalued. PBV juga diartikan sebagai variabel yang menggambarkan nilai intrinsik dari suatu saham. Acuannya, semakin rendah nilai PBV, maka semakin murah harga saham dibandingkan nilai asetnya, begitu juga sebaliknya.

Pada umumnya, saham dengan nilai PBV di atas 1, dianggap mahal (overvalued), lantaran mencerminkan harga saham yang melebihi nilai buku perusahaan. Demikian halnya, saham dengan nilai PBV di bawah 1, maka dianggap murah (undervalued).

Rumus PBV:

PBV = Harga Saham saat ini : Nilai Buku per Lembar Saham

 

    • ROE (Return On Equity)

ROE adalah rasio yang mengukur laba bersih perusahaan dibandingkan modal atau ekuitasnya. Indikator ini banyak digunakan untuk menilai seberapa efisiennya manajemen perusahaan dalam mencetak keuntungan dan menghasilkan pertumbuhan positif dari modal yang disediakan pemegang saham.

ROE juga dapat diartikan sebagai variabel yang menunjukkan tingkat pengembalian atau keuntungan yang akan diterima pemegang saham atas investasinya. Semakin tinggi nilai ROE, maka semakin tinggi laba yang dicetak perusahaan dari setiap modal yang diinvestasikan para pemegang saham.

Rumus ROE:

(Laba Bersih / Total Ekuitas) x 100% 

 

    • Analisa Fundamental

Proses analisa fundamental menjadi faktor sakral yang sebaiknya tidak dilewatkan investor. Periksa kondisi fundamentalnya pada aspek ini:

      •   Pendapatan dan Laba

Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang cenderung konsisten, ini berarti perusahaan memiliki perkembangan bisnis yang baik dalam industrinya.

Namun jika ternyata valuasi saham sangat murah, tetapi pendapatan dan laba terus menyusut, maka investor perlu menganalisis lebih deep. Untuk mencari tahu penyebabnya, sebelum benar-benar menyimpulkan bahwa saham tersebut undervalued.

Acuannya:

Pendapatan, tumbuh konsisten setiap tahun?

Laba bersih, apakah meningkat atau menurun?

      • Posisi Utang dan Arus Kas

Investor juga perlu memperhatikan tingkat utang perusahaan, karena beban utang sangat mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam bertumbuh. Selain itu, laba yang dicetak perusahaan juga perlu dibandingkan dengan arus kas perusahaan. Mengingat laba tidak menjamin kesehatan perusahaan. Dari arus kas perusahaan, investor dapat mengetahui adanya kesenjangan antara kinerja keuangan yang dilaporkan dan dengan kemampuan perusahaan secara riil dalam memenuhi kewajibannya.

Acuannya:

Utang, apakah semakin kecil bebannya?

Arus Kas, apakah konsisten dan positif?

Perusahaan dengan kinerja fundamental yang sehat, dengan pertumbuhan laba positif dan struktur keuangan yang solid, biasanya menawarkan potensi saham undervalued.

 

    • Margin of Safety (MoS)

Konsep Margin of Safety, yakni selisih yang cukup antara nilai intrinsik saham dengan harga pasar saham saat ini (market price). Margin of Safety yang tinggi umumnya, dianggap sebagai indikator yang baik, lantaran menunjukkan bahwa perusahaan memiliki ruang yang cukup besar sebelum mencapai titik impas. Idealnya MoS yang dibutuhkan investor berkisar 20% – 40% di bawah nilai wajar, sehingga ada ruang yang aman – jika terjadi fluktuasi pasar.

Rumus MoS:

(Nilai Intrinsik Saham – Harga Pasar Saham) : Nilai Intrinsik Saham x 100%

Kelima indikator dapat digunakan secara kombinasi bersamaan, sehingga setiap hasil analisa dapat saling mendukung dalam proses screening saham undervalue.

 

  • Ketiga, Pentingnya Melihat Valuasi dan Fundamental Secara Bersamaan

Kesalahan umum yang seringkali terjadi saat mencari saham undervalued ialah hanya fokus pada angka valuasi. Seperti saham dengan PER 5x dan PBV 0.3x, terkesan saham undervalued. Padahal belum tentu demikian, karena investor perlu menganalisis kembali, benarkah pasar sedang mendiskon harga sahamnya? Atau karena fundamentalnya sedang bermasalah? 

Itulah pentingnya, menganalisa saham berdasarkan fundamental dan valuasinya. Analisa fundamental akan membantu investor dalam menilai kualitas bisnis dan kinerja secara akurat, dibalik angka dalam laporan keuangannya. Investor dapat melakukan breakdown analisis terhadap profitabilitas, likuiditas, kualitas manajemen, keunggulan kompetitif, hingga bagaimana tren industrinya. Sementara valuasi memberi gambaran seberapa mahal atau murahnya harga saham saat itu, dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan dalam meningkatkan potensi keuntungan di masa depan dan bagaimana cara menumbuhkan nilai bagi para pemegang saham.

 

  • Keempat, Perbedaan Saham Undervalued dengan Saham Murah atau Value Trap

Banyak investor yang keliru dalam cara memilih saham undervalued. Padahal saham yang murah secara fundamental, belum tentu itu adalah saham undervalued, melainkan value trap saham – yang terlihat murah berdasarkan rasio tertentu. Padahal kinerja fundamentalnya sedang bermasalah dan berpotensi mengurangi nilai perusahaan. Misalnya: PER perusahaan tertentu turun karena harga sahamnya turun dan di waktu yang sama, laba merosot. Di kondisi tersebut, PER yang rendah bukan berarti saham sedang terdiskon.

Begitu juga dengan PBV yang rendah, terkesan menarik. Namun justru investor perlu menganalisa lebih lanjut pada kemampuan aset, profitabilitas, utang hingga prospek bisnisnya. 

Indikasi

Saham Undervalued

Saham Value Trap

DefinisiHarga pasar berada di bawah nilai intrinsiknyaDihargai murah karena kinerja fundamental ‘berdarah-darah’
LabaCenderung tumbuh positif dan stabilMenurun secara konsisten, hingga merugi
UtangSehat dan terkendaliBengkak dan berisiko baik jangka pendek maupun panjang
Potensi BisnisTerdapat ekspansi bisnis dan menunjukkan pemulihanTidak ada prospek dan cenderung tertekan

 

  • Kelima, Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli Saham Undervalued

Investor yang bijak akan memperhatikan hal-hal berikut:

    • Memahami Bisnis Perusahaan

Investor harus paham tentang bagaimana perusahaan menjalankan bisnisnya, cara menghasilkan pendapatan, siklus bisnis dari waktu ke waktu, hingga faktor apa saja yang memengaruhi siklus bisnisnya.

    • Analisa Laporan Keuangannya

Selalu perhatikan pertumbuhan kinerja perusahaan dari Laporan Keuangan yang diterbitkan secara kuartalan. Bagaimana tren pendapatan, laba, aset, ekuitas, liabilitas, hingga arus kasnya.

    • Perhitungkan Valuasi

Kombinasikan PER dan PBV untuk membandingkan kinerja perusahaan sejenis dalam satu industri atau berdasarkan histori valuasi perusahaan itu sendiri.

    • Cari Tahu Prospek di Masa Depan

Hati-hati jika saham dengan harga murah, ternyata berada dalam industri yang tertekan – tentu ini membutuhkan analisa lebih deep.

    • Perhatikan Risiko

Jangan abai terhadap potensi risiko, mulai dari risiko bisnis, risiko industri, utang, kompetitor, siklus komoditas, regulasi, hingga situasi ekonomi. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi estimasi nilai wajar saham.

 

Analisa Saham Mudah dengan Ajaib

Mencari saham undervalued membutuhkan data-data yang cukup, menjaga keputusan investasi dibuat secara terukur dan terinformasi, bukan berdasarkan asumsi semata.

Ajaib – platform investasi andal yang mempermudah investor dalam memperoleh informasi dan data saham untuk dianalisa. Ajaib menyediakan berbagai informasi valid mengenai emiten, update kinerja fundamental, hingga performa keuangan dalam periode tertentu. Sebuah langkah yang mempermudah investor dalam memahami kondisi perusahaan.

Study Case: Saham ADRO

Sebagai contoh cara menganalisa harga wajar saham ADRO, di Ajaib analisa fundamental dibantu menjadi lebih mudah melalui data:

ADRO Analisis Keuangan. Source: ajaib.co.id

Terlihat bahwa secara fundamental diperkirakan pendapatan ADRO berpotensi mengalami penurunan di tahun 2026E dan 2027E. Turunnya pendapatan ADRO juga diikuti dengan potensi menurunnya laba bersih di tahun 2026E dan 2027E. Potensi tersebut merupakan hasil perkiraan analis untuk tahun 2026 dan 2027.

Namun, di tahun 2025 ADRO mencatatkan pendapatan yang relatif besar mencapai Rp31.44 triliun, dengan capaian Laba Bersih hingga Rp7.51 triliun. Di bagian ini, investor sebaiknya melanjutkan analisis fundamentalnya. Lantaran perlu dipahami, bahwa ADRO saat ini adalah Alamtri Resources Indonesia – pasca berubahnya struktur bisnis dan pemisahan lini bisnis batubara termal yang kini ditangani oleh AADI (Adaro Andalan Indonesia). 

Dari data perkiraan yang disajikan Ajaib, investor dapat menjadikannya sebagai bahan analisa fundamental yang di breakdown secara rinci dan terukur. Terutamanya dalam memahami siklus bisnis ADRO pasca terjadinya perubahan struktur.

Bagaimana pun data dan fitur dalam platform adalah alat bantu yang mempermudah proses analisa. Oleh karenanya, setiap keputusan investasi sebaiknya tetap disesuaikan dengan profil risiko, hasil analisa dan tujuan investasi.

 

Kesimpulan

Membahas tentang cara mencari saham undervalued, sejatinya bukan hanya sekedar menemukan saham dengan harga per lembar yang murah. Namun investor dituntut untuk memiliki kemampuan analisa yang mumpuni, dalam menganalisa apakah harga saham sudah masuk akal dengan kinerja fundamentalnya, prospek bisnisnya di masa depan, hingga berapa estimasi nilai wajarnya (intrinsik).

Indikator penting, mulai dari PER, PBV, ROE, Pendapatan, Laba, Utang dan Arus Kas merupakan kombinasi yang melengkapi proses analisa. Termasuk dengan menggunakan Margin of Safety. Selain indikator, investor juga harus pandai dalam membedakan mana saham undervalued vs value trap saham. Mengingat valuasi yang rendah bisa jadi peluang, jika didukung dengan fundamental perusahaan yang sehat. Tapi justru menjadi risiko, jika ternyata fundamentalnya berdarah-darah yang artinya memang terjadi permasalahan pada kualitas bisnisnya.

Ajaib siap dukung kemudahan akses investasi saham yang cepat, mudah dan praktis dalam mencari saham undervalued. Keputusan investasi jadi tepat dan terukur. Download aplikasinya dan siap beli saham di Ajaib!***

 

###

 

DISCLAIMER ON:
Tulisan ini bukan rekomendasi jual dan beli. Semua data dan pendapat pada artikel adalah bersifat informasi yang mengedukasi pembaca, berdasarkan sudut pandang penulis pribadi. Risiko investasi berada pada tanggung jawab masing-masing investor. Do Your Own Research!

 

Temukan Artikel Analisa dan Edukasi Saham lainnya di Google News. 

1
Pastikan rekan Investor tidak ketinggalan Informasi ter-update

Subscribe sekarang untuk mendapatkan update artikel terbaru setiap minggunya

reCaptcha v3
keyboard_arrow_leftPrevious
Nextkeyboard_arrow_right

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *