Tiga-Faktor-Makro

Umumnya investor cenderung terlalu fokus pada grafik harga saham dan mengandalkan rekomendasi tertentu. Sehingga seringkali mengabaikan faktor makroekonomi yang sebenarnya, justru berpengaruh besar terhadap kinerja portfolio investasi. Adapun tiga faktor makro yang dapat menentukan arah pasar saham ialah suku bunga, inflasi, dan kebijakan pemerintah. Ketiganya saling berkaitan dan memengaruhi sentimen pasar, valuasi saham, hingga keputusan investasi. Untuk itu, mari kita bahas tiga faktor makro yang diam-diam dapat menentukan nasib portfolio!

 

Memahami Tiga Faktor Makro yang Utama

Aktivitas investasi tidak pernah lepas dari ragam dinamika makroekonomi, yang dalam perubahannya mampu memengaruhi pergerakan pasar. Mengacu pernyataan Investopedia, bahwa investor yang memiliki pemahaman yang baik terhadap faktor-faktor makro, akan lebih mudah menyusun strategi investasi secara rasional dan mampu menghadapi fluktuasi pasar.

Nah berikut ini, tiga faktor makro yang utama:

  • Suku Bunga

Suku bunga ini merupakan biaya penggunaan uang yang berupa persentase dari jumlah pokok pinjaman dan/atau imbalan atas dana yang disimpan. Suku bunga berlaku sebagai bentuk biaya bagi si peminjam, seperti kredit maupun KPR. Atau dengan kata lain, suku bunga merupakan bagian “harga” dari uang, yang harus dibayarkan oleh peminjam.

Di lain sisi, suku bunga menjadi pendapatan bagi si penyimpan dana, yakni deposito atau tabungan. Ketetapan level suku bunga ini akan berubah-ubah, tetap (flat) maupun mengambang, sesuai dengan kebijakan Bank Indonesia, situasi pasar dan faktor risiko.

Pengaruh Suku Bunga terhadap Investasi Saham

Jadi, ketika suku bunga tinggi (naik), maka biaya pinjaman bagi si peminjam akan ikut meningkat. Dengan dampaknya, laba perusahaan yang melakukan pinjaman semakin tertekan, terutamanya bagi yang bergerak di sektor-sektor padat utang seperti properti, konstruksi, bahkan konsumsi siklikal. Nantinya, juga akan berdampak pada valuasi saham yang cenderung menurun. Bahkan kenaikan suku bunga yang tinggi, dapat memicu instrumen berbunga tetap, seperti halnya deposito dan obligasi semakin menarik. Tak ayal, banyak dana investor di pasar saham berpotensi keluar.

Sebaliknya, ketika level suku bunga rendah (turun), maka likuiditas di pasar akan meningkat. Hal ini akan mendorong biaya pendanaan perusahaan menjadi lebih murah, memungkinkan perusahaan leluasa untuk ekpansi dan pada gilirannya harga saham juga akan mengalami penguatan. Tidak hanya itu, konsumsi masyarakat juga lebih bergairah, dan mendorong investor untuk kembali ke aset berisiko seperti saham. Oleh karena itu, tidak heran jika fase penurunan suku bunga seringkali dijadikan sebagai katalis positif bagi pasar saham.

Investor yang memahami siklus suku bunga, tentu menjadi lebih adaptif dalam melakukan penyesuaian komposisi portfolio. Mengingat suku bunga ini merupakan alat kebijakan moneter milik Bank Indonesia, dalam mengendalikan inflasi dan juga pertumbuhan ekonomi. Dengan begitu, investor lebih mampu memprediksikan potensi keuntungan dari investasi sahamnya. Tentunya dengan mengacu pada saham-saham berfundamental kuat dan arus kas yang sehat, sehingga tahan terhadap perubahan suku bunga dibandingkan saham spekulatif.

 

  • Inflasi

Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum, di dalam periode waktu tertentu secara terus-menerus, yang pada gilirannya menyebabkan penurunan nilai uang, sehingga melemahkan daya beli masyarakat. Sederhananya, inflasi ini membuat jumlah uang yang sama, namun masyarakat tidak bisa membeli barang maupun jasa sebanyak sebelumnya, lantaran telah terjadi kenaikan harga.

Ketika inflasi terjadi dalam waktu yang berlanjut, maka akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Di situasi ini, masyarakat cenderung bersikap hemat, bahkan berpotensi mengurangi investasi dan konsumsi.

Dampak Inflasi terhadap Kinerja Portofolio

Inflasi yang terkendali mencerminkan bahwa perekonomian sedang tumbuh positif. Sebaliknya inflasi yang terlalu tinggi akan menggerus daya beli masyarakat dan semakin tipisnya margin keuntungan perusahaan. Terlebih lagi, ketika biaya bahan baku dan operasional naik, maka perusahaan yang tidak memiliki pricing power akan kesulitan menjaga profitabilitasnya.

Dalam kondisi inflasi yang tinggi, investor perlu lebih selektif dalam memilih saham. Di mana, untuk perusahaan dengan brand yang kuat, dominasi posisi pasar, dan kemampuan menaikkan harga jual biasanya cenderung mampu bertahan. Sebagai contohnya, sektor consumer goods, energi, dan perbankan sering dianggap lebih resilien terhadap tekanan inflasi.

Setiap lonjakan inflasi akan sangat berpengaruh terhadap kebijakan suku bunga. Jadi, ketika inflasi mengalami lonjakan, maka Bank Indonesia akan merespons dengan kenaikan suku bunga, dan akhirnya berdampak pada pasar saham. Ini mengapa inflasi harus dianalisis sebagai bagian dari ekosistem makroekonomi.

  • Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah merupakan serangkaian tindakan, keputusan, maupun rencana pemerintah untuk mengarahkan, memengaruhi, dan mengatur perilaku masyarakat maupun organisasi. Kebijakan ini mencakup apa yang akan pemerintah piliih untuk dilakukan maupun tidak dilakukan, sebagai respon terhadap isu-isu masyarakat. Adapun bentuk dari kebijakan pemerintah ini adalah hukum, peraturan, dan/atau program yang mengikat.

Kebijakan Pemerintah menjadi Penentu Arah Sektor

Selain suku bunga dan inflasi, kebijakan pemerintah turut memegang peranan besar dalam menentukan sektor saham mana yang akan diuntungkan atau sebaliknya tertekan. Beragam kebijakan pemerintah, mulai dari fiskal, regulasi industri, insentif pajak, hingga belanja negara mampu menciptakan peluang maupun risiko bagi investor saham.

Misalnya:

Kebijakan pembangunan infrastruktur masih menjadi agenda utama di masa Pemerintahan Presiden Prabowo saat ini. Dengan lima prioritas strategis infrastruktur Nasional, yang mencakup: Infrastructure for Food and Water Security, Clean Energy Infrastructure, Seamless and Equitable Connectivity, Livable and Resilient Cities, serta Financing Reform for Sustainable Infrastructure.

Tentunya kelima prioritas tersebut menjadi katalis positif bagi banyak sektor saham, mulai dari sektor konstruksi dan material, sektor energi baru terbarukan (EBT), sektor perbankan, sektor teknologi, sektor konsumsi, sektor ritel, hingga sektor kesehatan – seluruhnya dapat terdampak secara signifikan, terutamanya pada valuasi saham.

Jadi, akan sangat riskan bagi investor yang tidak paham arah kebijakan pemerintah, alih-alih untung justru berisiko salah menempatkan portfolio. Beda hal, dengan investor yang mampu membaca kebijakan pemerintah secara strategis, sehingga mudah memposisikan diri lebih awal di sektor-sektor saham potensial.

 

Pengelolaan Portfolio Investasi Saham di Tengah Dinamika Makroekonomi

Untuk bisa berhasil menghadapi dinamika suku bunga, inflasi, dan kebijakan pemerintah, tentu Anda memerlukan pendekatan secara disiplin dan berbasis analisis, antara lain:

  • Paham Situasi Makroekonomi

Sebelum mengelola portfolio, langkah pertama yang harus dipenuhi adalah memahami konteks makroekonomi secara menyeluruh dengan keterkaitannya, antara suku bunga, inflasi, dan kebijakan pemerintah. Agar tidak mudah panik, sewaktu-waktu pasar bergejolak dan pengambilan keputusan lebih rasional.

Misalnya: Ketika suku bunga naik, maka saham-saham berbasis utang tinggi cenderung tertekan. Sedangkan inflasi yang tinggi, berpotensi menguntungkan perusahaan yang memiliki pricing power.

  • Diversifikasi yang Seimbang

Anda perlu menjalankan strategi diversifikasi portfolio secara cerdas, dengan menyebarkan investasi pada sejumlah sektor saham potensial yang memiliki karakter berbeda terhadap siklus ekonomi. Agar tercipta keseimbangan sebaran risiko dalam portfolio. Dalam prosesnya, diversifikasi perlu memerhatikan kinerja fundamental saham, agar portfolio bertumbuh – bukan hanya “ramai”.

  • Fokus terhadap Kualitas Fundamental

Perlu diketahui, bahwa saham yang memiliki kinerja fundamental yang kuat seringkali menjadi jangkar portfolio, untuk itu perhatikan fundamentalnya: Pendapatan dan laba yang tumbuh konsisten; Model bisnis mudah dipahami dan berkelanjutan; Struktur utang terkendali; dan Arus Kas sehat. Sehingga perusahaan cenderun tahan terhadap tekanan ekonomi.

  • Evaluasi Berkala

Portfolio investasi perlu di evaluasi secara berkala, untuk mengetahui adanya perubahan kondisi makroekonomi yang dapat membuat bobot portfolio bergeser tanpa disadari. Jika ternyata benar ada perubahan, maka keputusan rebalancing portfolio dapat dilkukan, untuk mengurangi eksposur yang berlebih di sektor yang sudah mahal (overvalued) dan/atau menambah porsi pada saham atau sektor yang masih mura (undervalued). Dengan begitu, portfolio tetap terjaga selaras dengan tujuan investasi.

  • Perhatikan Margin of Safety (MoS) dan Valuasi

Tidak semua saham berkualitas itu menarik untuk dibeli, jika harganya sudah overvalued. Di tengah dinamika makroekonomi seperti sekarang, valuasi saham menjadi hal penting untuk mengelola risiko. Begitu juga dengan Margin of Safety (MoS) yang memadai, maka akan memberi ruang perlindungan yang cukup, di saat perekonomian memburuk.

  • Tetapkan Timeframe Investasi

Makroekonomi memiliki pergerakan yang fluktuatif dalam jangka pendek. Sedangkan pasar saham mampu menghargai kinerja bisnis, terutamanya dalam jangka panjang. Untuk itu, ketika pilihan Anda adalah berinvestasi saham jangka panjang, maka tetapkan timeframe sepanjang 10 tahun atau lebih. Dengan horizon waktu yang jelar, maka Anda tidak akan mudah tergoda untuk sering melakukan transaksi jual beli saham, apalagi hanya karena sentimen sementara.

  • Disiplin pada Strategi dan Konsisten

Pengelolaan portfolio investasi saham membutuhkan kedisiplinan. Oleh sebab itu, penting untuk Anda menetapkan aturan investasi, seperti dari kriteria membeli saham maupun alasan untuk menjual saham. Dengan begitu, Anda akan lebih konsisten, sekalipun kondisi pasar berubah-ubah.

 

Belajar Mengelola Risiko melalui RK Intensive Bootcamp 2026

BOOTCAMP 2026 BLOG

Untuk bisa memahami pengaruh suku bunga, inflasi, dan kebijakan pemerintah tidak cukup hanya belajar dari teori atau sekedar membaca berita. Anda membutuhkan pembelajaran secara langsung, kerangka berpikir yang tepat, studi kasus nyata pada emiten tertentu, hingga bimbingan dari praktisi berpengalaman, sehingga mendukung pengambilan keputusan secara rasional.

Program RK Intensive Bootcamp 2026, diselenggarakan dan didampingi oleh Rivan Kurniawan bersama Team, siap membimbing Anda untuk memahami keterkaitan antara faktor makroekonomi dan strategi investasi saham dalam jangka panjang. Program ini dirancang untuk membantu Anda membangun portfolio investasi saham yang berbasis fundamental, valuasi wajar, dan memiliki manajemen risiko yang terukur.

Di bootcamp ini, Anda bukan hanya belajar tentang “saham apa yang dibeli”, tetapi juga memahami alasan mengapa saham tersebut layak dimiliki di tengah perubahan suku bunga, inflasi, dan kebijakan pemerintah. Dibekali pendekatan yang sistematis dan disiplin, Anda akan lebih siap menghadapi dinamika pasar di tahun 2026!

Jika Anda ingin naik kelas dari investor yang ‘reaktif’, menjadi investor yang strategis dan percaya diri, maka RK Intensive Bootcamp 2026 adalah jawabannya! Sebagai langkah awal yang tepat untuk membangun portfolio saham yang lebih kuat dan berkelanjutan. Yuk gabung ke RK Intensive Bootcamp 2026, upgrade skill investasi Anda!***

 

###

 

DISCLAIMER ON:
Tulisan ini bukan rekomendasi jual dan beli. Semua data dan pendapat pada artikel adalah bersifat informasi yang mengedukasi pembaca, berdasarkan sudut pandang penulis pribadi. Risiko investasi berada pada tanggung jawab masing-masing investor. Do Your Own Research!

 

Temukan Artikel Analisa dan Edukasi Saham lainnya di Google News.

1
Pastikan rekan Investor tidak ketinggalan Informasi ter-update

Subscribe sekarang untuk mendapatkan update artikel terbaru setiap minggunya

reCaptcha v3
keyboard_arrow_leftPrevious
Nextkeyboard_arrow_right

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *