
Terakhir diperbarui Pada 12 Februari 2026 at 3:45 pm
Saham batubara merupakan salah satu sektor paling dinamis di pasar saham Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, saham batubara sempat mengalami lonjakan kinerja luar biasa seiring naiknya harga komoditas energi global. Namun memasuki 2026, investor perlu memiliki sudut pandang yang lebih selektif. Lantaran saham batubara bukan lagi sekedar ‘mesin cuan cepat’, melainkan sebagai sektor siklikal yang butuh pemahaman mendalam terhadap industri, kinerja perusahaan, dan risiko jangka panjang. Nah langsung saja kita bahas ulasannya…
Daftar Isi
Sejarah dan Perkembangan Industri Batubara
Industri batubara Indonesia berkembang secara pesat terhitung sejak awal tahun 2000-an. Hal ini didorong oleh tingginya permintaan dari negara-negara Asia seperti Tiongkok dan India. Indonesia sendiri, dalam perkembangannya menjelma menjadi salah satu eksportir batubara terbesar di dunia. Berbekal keunggulan dari sisi biaya produksi yang relatif rendah.
Terhitung dari tahun 2006, posisi Indonesia terjaga di jajaran teratas perdagangan batubara global. Bahkan di periode 2020 – 2024, volume ekspor batubara dari Indonesia tercatat yang tertinggi di dunia dengan total 1.83 miliar ton. Posisi teratas ini bagi Indonesia dapat menjadi ruang strategis yang memperkuat hilirisasi dan pengelolaan cadangan, sehingga daya saing tetap terjaga di tengah perubahan pasar energi global.
Berdasarkan urutan posisi, di bawah Indonesia terdapat Australia dengan ekspor sebesar 1.78 miliar ton, disusul Rusia yang berada di posisi ketiga sebesar 994.5 juta ton. Lalu Amerika Serikat di posisi keempat sebesar 404.9 juta ton, diikuti oleh Afrika Selatan sebesar 358 juta ton. Kemudian Kolombia, Mongolia, Kanada, Kazakhstan, dan Mozambik berurutan dalam daftar 10 besar eksportir batubara dunia.

Posisi Ekspor Batubara Indonesia. Source: nextindonesiacenter
Indonesia sendiri mengalami lonjakan ekspor batubara terbesar di tahun 2021–2023, saat krisis energi global, konflik geopolitik, dan gangguan pasokan batubara yang akhirnya mendorong harga komoditas batubara melonjak signifikan. Kondisi ini memberikan angin segar bagi perusahaan batubara, dengan mencatatkan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah, bahkan beberapa diantaranya mampu membagikan dividen jumbo. Namun terlepas itu, sejarah pernah mencatat bahwa setelah fase supercycle, industri batubara cenderung memasuki fase normalisasi.

Data ekspor batubara Indonesia. Source: data.goodstats.id
Faktor yang Memengaruhi Harga Saham Batubara
Harga saham batubara pada dasarnya sangat rentan dipengaruhi oleh kombinasi faktor global maupun domestik, seperti:
Harga Batubara Global
Harga acuan seperti Newcastle Coal menjadi faktor utama. Dengan dampak seperti kenaikan dan/atau penurunan harga batubara yang secara langsung berpengaruh pada pendapatan dan laba perusahaan.
Permintaan Energi Dunia
Kebutuhan listrik, industri baja, hingga manufaktur global secara umum sangat berperan besar dalam menjaga permintaan batubara tetap sustain.
Kebijakan Energi dan Lingkungan
Transisi menuju energi baru terbarukan (EBT), kebijakan emisi karbon, hingga regulasi lingkungan menjadi tantangan struktural bagi industri batubara.
Nilai Tukar Rupiah
Secara mayoritas penjualan batubara berbasis mata uang dolar AS (USD), sehingga pelemahan Rupiah mampu meningkatkan pendapatan dalam Rupiah.
Biaya Produksi dan Efisiensi Operasional
Perusahaan batubara dengan biaya produksi yang rendah, umumnya lebih tahan dalam menghadapi penurunan harga batubara.
Evaluasi Kinerja Emiten Batubara Sepanjang 2025
Sepanjang tahun 2025, kinerja perusahaan batubara menunjukkan normalisasi dibandingkan tahun-tahun puncak sebelumnya. Laba bersih emiten batubara dapat dikatakan cenderung relatif solid, meski tidak setinggi di periode supercycle. Hal ini tercermin dari hasil produksi batubara, seperti berikut:
Emiten | Produksi Batubara (Juta Ton) | ||
2023 | 2024 | 2025 | |
BUMI | 77.8 | 76 – 78 | 80 |
AADI | 65.9 | 65 – 67 | 65.5 |
BYAN | 49.7 | 56.9 | 69 – 72 |
| GEMS | 46.1 | 50 | 51 |
PTBA | 41.9 | 41.3 | 50 |
| INDY | 30.1 | 29 | 30.5 |
ITMG | 16.9 | 20.2 | 20.8 – 21.9 |
Jumlah produksi batubara (Juta Ton) dari 7 emiten terbesar. Source: BCAsekuritas
Dengan capaian tersebut, banyak emiten batubara yang melakukan penyesuaian kebijakan dividen menjadi lebih konservatif, seiring meningkatnya kehati-hatian menghadapi ketidakpastian harga komoditas.
Di sini investor seharusnya dapat lebih jeli dalam melihat perbedaan, antara perusahaan batubara berkualitas dan yang rentan. Emiten dengan neraca kuat, arus kas sehat, dan manajemen disiplin lebih berpotensi mencetak profit stabil. Dibandingkan emiten dengan struktur biaya yang tinggi, kinerjanya rentan tertekan.
Prospek Industri Batubara di Tahun 2026
Memasuki tahun 2026 ini, prospek industri batubara dapat dikatakan cenderung selektif. Meski komoditas batubara masih dibutuhkan sebagai sumber energi, terutamanya di negara berkembang. Namun, laju pertumbuhannya tidak lagi agresif seperti tahun-tahun sebelumnya.
Meski begitu, industri batubara di tahun 2026 ini masih memiliki sejumlah katalis positif, seperti:
Permintaan global yang berpeluang tumbuh stabil (moderat)
Sejumlah lembaga memprediksikan permintaan batubara dari negara-negara besar masih akan tumbuh moderat di kisaran 0.2% – 1% di 2026. Di mana Indonesia masih menjadi pemasok utama batubara thermal, khususnya untuk China maupun India. Jadi dari sisi permintaan global memang tidak melonjak besar (stabil), namun ini berarti komoditas batubara masih akan diperlukan, meski tidak setinggi di era pertumbuhan sebelumnya.
Produksi maupun ekspor batubara Indonesia yang berpotensi menurun
Pemerintah belum lama ini tengah mempertimbangkan pemangkasan target produksi batubara di tahun 2026 menjadi 600 juta ton, dari sebelumnya tahun 2025 yang sebesar 790 juta. Pemangkasan target produksi ini sebagai respon terhadap pasokan global yang berlebih dan harga yang tertekan. Dengan harapan, pengurangan pasokan dapat menstabilkan harga batubara.
Permintaan ekspor dan tekanan harga
Harga batubara masih menghadapi volatilitas dan tekanan, yang membuat keuntungan produsen tertekan. Permintaan ekspor Indonesia yang menurun, terutama dari pasar China dan India, yang dalam beberapa waktu terakhir melakukan impor batubara yang lebih sedikit.
Transisi energi dan perubahan kebijakan
Pemerintah Indonesia masih memposisikan komoditas batubara sebagai tulang punggung energi Nasional, namun dengan pengendalian yang lebih ketat. Beberapa kebijakan yang dijalankan pemerintah: Domestic Market Obligation (DMO), di mana produsen wajib menjual sebagian produksi untuk kebutuhan dalam negeri; Pengendalian produksi (RKAB), mengatur target produksi agar keseimbangan harga global terjaga; Hilirisasi dan/atau gasifikasi, pemanfaatan batubara menjadi produk turunan, seperti DME, metanol, dan lainnya.
Peran Strategis dan Potensi Stabilitas
Indonesia masih memiliki keunggulan kompetitif, berupa biaya produksi yang masih relatif rendah, stok pasokan yang besar, hingga lokasi strategis yang berdekatan dengan pasar utama. Serta peran dominan di wilayah pasar Asia. Hal ini menjadikan Indonesia masih sebagai pemain utama untuk pasar batubara global, yang berarti masih adanya peluang perdagangan dan pendapatan ekspor, meskipun pertumbuhannya cenderung moderat.
Secara garis besar dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa sektor saham batubara masih memiliki peluang, namun tidak cocok jika pendekatannya “beli sahamnya, lalu lupakan”.
Daftar Saham Batubara di BEI
Di Bursa Efek Indonesia, terdapat sejumlah saham batubara yang sering menjadi perhatian investor, antara lain:
| Sticker Code | Emiten | Sektor |
ADRO | Alamtri Resources Indonesia Tbk | Coal Production |
BUMI | Bumi Resources Tbk | Coal Production |
| BYAN | Bayan Resources Tbk | Coal Production |
| Dian Swastatika Sentosa Tbk | Coal Production | |
| HRUM | Harum Energy Tbk | Coal Production |
INDY | Indika Energy Tbk | Coal Production |
| ITMG | Indo Tambangraya Megah Tbk | Coal Production |
PTBA | Bukit Asam Tbk | Coal Production |
| TOBA | TBS Energi Utama Tbk | Coal Production |
| TRAM | Trada Alam Minera Tbk | Coal Production |
| Dan masih banyak emiten batubara lainnya… | ||
Dari masing-masing emiten batubara di atas memiliki karakter yang berbeda, baik itu dari sisi biaya produksi, kebijakan dividen, strategi bisnis, hingga prospek bisnis di masa mendatang.
Ingin menyusun investing plan, tapi memiliki waktu yang terbatas untuk mengolah informasi. Segera manfaatkan Monthly Investing Plan yang telah terbit!
Bagi teman-teman investor yang ingin berlangganan Monthly Investing Plan, bisa menggunakan voucher…
Risiko Investasi Saham Batubara
Saham batubara memiliki risiko yang tinggi dan tidak dapat diabaikan, seperti:
- Industri yang siklikal: Kinerja emiten batubara sangat bergantung pada pergerakan harga komoditas.
- Volatilitas tinggi: Harga saham batubara dapat naik maupun turun secara ekstrem dalam waktu singkat.
- Risiko regulasi maupun ESG: Tekanan global terhadap energi fosil berpotensi menekan valuasi.
- Ketergantungan pada dividen: Penurunan laba akan secara langsung berdampak pada kebijakan dividen.
Oleh karena itu, investor perlu disiplin dalam melakukan manajemen risiko dan alokasi portfolio.
Kesimpulan
Saham batubara di tahun 2026 masih menawarkan peluang yang layak untuk dipertimbangkan. Kendati demikian, saham batubara bukan untuk semua investor. Hanya investor dengan pendekatan yang tepat mampu berinvestasi di saham batubara, mulai dari memahami siklus industri batubara, melakukan evaluasi kinerja fundamental emiten, dan tidak mudah terjebak euforia masa lalu.
Nah untuk membantu Anda menjadi lebih selektif dan rasional dalam memilih saham-saham batubara yang potensial. Program Platinum Member bersama Rivan Kurniawan hadir sebagai solusi komprehensif, di mana Anda akan mendapatkan keuntungan akses produk: Monthly Investing Plan (12 bulan); E-Book Quarter Outlook (4 kuartal); Cheat Sheet Kuartalan, serta akses selama 1 tahun Extra Benefit eksklusif.
Platinum Member ini tidak hanya membantu Anda lebih mudah dalam memilih saham batubara yang tepat. Melainkan juga membangun kerangka berpikir investasi dalam jangka panjang, yang disiplin dan berkelanjutan. Karena dengan Anda naik kelas sebagai investor, maka setiap keputusan investasi yang dibuat tidak akan ikut-ikutan siklus pasar.***
###
DISCLAIMER ON:
Tulisan ini bukan rekomendasi jual dan beli. Semua data dan pendapat pada artikel adalah bersifat informasi yang mengedukasi pembaca, berdasarkan sudut pandang penulis pribadi. Risiko investasi berada pada tanggung jawab masing-masing investor. Do Your Own Research!
Temukan Artikel Analisa dan Edukasi Saham lainnya di Google News.

