
Terakhir diperbarui Pada 6 Februari 2026 at 1:54 pm
Sektor media merupakan salah satu sektor yang mengalami perubahan paling cepat dalam satu dekade terakhir. Perpindahan konsumsi konten dari media konvensional ke digital, perubahan pola belanja iklan, hingga persaingan dengan platform global membuat saham media memiliki karakter yang unik: berpotensi besar, tapi penuh tantangan. Nah di 2026, sektor ini kembali menarik untuk dikaji, terutama dari sisi strategi dan selektivitas investasi!
Daftar Isi
Daftar Saham Media yang Terdaftar di BEI
Di Bursa Efek Indonesia, terdapat beberapa emiten yang bergerak di sektor media dan hiburan, antara lain:
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK)
Fokus pada media digital, televisi, konten, dan ekosistem teknologi.
PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN)
Salah satu pemain terbesar televisi free-to-air di Indonesia.
PT Surya Citra Media Tbk (SCMA)
Memiliki stasiun televisi Nasional dengan basis pemirsa yang besar.
Vidio Dot Com (VIDI β melalui entitas grup)
Fokus pada platform streaming dan konten digital.
PT Net Visi Media Tbk (NETV)
Pemain media televisi dengan segmen audiens tertentu.
Setiap emiten media di atas memiliki model bisnis, sumber pendapatan, dan tingkat risiko yang berbeda, sehingga tidak dapat disamaratakan dalam analisis.
Ingin menyusun investing plan, tapi memiliki waktu yang terbatas untuk mengolah informasi. Segera manfaatkan Monthly Investing Plan yang telah terbit!
Bagi teman-teman investor yang ingin berlangganan Monthly Investing Plan, bisa menggunakan voucherβ¦
Faktor-faktor yang Memengaruhi Harga Saham Media
Pergerakan harga saham sektor media, akan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor utama:
Belanja Iklan (Advertising Spending)
Pendapatan utama media pada umumnya, masih sangat bergantung pada iklan. Hal ini akan menarik, ketika ekonomi bertumbuh positif, yang pada gilirannya belanja iklan akan meningkat, sehingga kinerja saham media juga cenderung membaik.
Perubahan Pola Konsumsi Konten
Peralihan dari TV konvensional ke digital dan streaming, sangat memengaruhi struktur pendapatan emiten.
Kualitas Konten, rating, dan popularitas
Konten dengan rating yang tinggi, lebih potensial dalam menarik pengiklan dan mampu meningkatkan monetisasi. Tidak hanya itu, popularitas konten turut berpengaruh besar dalam keberhasilan menjangkau audiens lebih luas lagi. Jika pada penerapannya konten unggulan ini gagal, maka dampaknya akan sangat signifikan terhadap kinerja pendapatan dan laba perusahaan.
Persaingan dengan Platform Global Lain
Kehadiran YouTube, TikTok, dan Netflix maupun lainnya, sebenarnya telah menekan margin media lokal.
Kondisi Ekonomi Makro
Ketika ekonomi melemah, maka biasanya anggaran iklan kerap kali menjadi pos yang paling pertama dipangkas.
Jenis-jenis Perusahaan Media yang Diperdagangkan di Bursa
Secara umum, perusahaan media di BEI dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis:
Media Televisi Konvensional
Mengandalkan iklan dari program TV free-to-air, dengan keunggulan audiens yang lebih stabil. Namun cukup disayangkan pertumbuhannya terbatas.
Media Digital dan Streaming
Fokus pada platform online, video on demand, dan iklan digital. Hal ini membuat potensi pertumbuhan yang lebih besar, namun membutuhkan investasi besar.
Media Terintegrasi (Omnichannel)
Menggabungkan TV, digital, konten, dan teknologi. Model ini dianggap paling adaptif dan efektif dalam menghadapi percepatan perubahan industri media.
Dari jenis-jenis di atas, investor perlu memahami bahwa perbedaan model bisnis akan sangat memengaruhi valuasi dan prospek bisnis dalam jangka panjang.
Prospek Saham Media di Tahun 2026
Memasuki 2026, prospek saham media dapat dikatakan cenderung selektif. Dengan beberapa katalis positif yang mampu mendukung sektor ini, seperti:
Pemulihan belanja iklan
Belanja iklan ini adalah sumber pendapatan utama dari perusahaan media. Dengan mulai pulihnya kestabilan ekonomi global maupun domestik, maka anggaran iklan berpotensi meningkat. Kenaikan anggaran ini yang nantinya mendongkrak peningkatan pendapatan media, baik itu tradisional maupun digital. Dan bagi perusahaan media yang berhasil melakukan alokasi iklan seoptimal mungkin, maka akan mendapatkan katalis positif.
Monetisasi konten digital
Minat terhadap konten-konten lokal masih tetap kuat, meski di tengah gempuran konten global yang kurang relevan. Nah, bagi konten unggulan dengan rating tinggi mampu menjadi magnet bagi pengiklan dan perusahaan media yang kuat dalam mengemas konten lokal secara menarik, berpeluang besar dalam mempertahankan pendapatan dalam persaingan tayangan global.
Sinergi media, teknologi, dan data
Pemanfaatan teknologi dan big data dalam pencapaian target iklan semakin dibutuhkan, terutamanya untuk integrasi sistem teknologi. Seperti halnya AI untuk data-driven advertising, rekomendasi konten, personalisasi iklan, hingga analitik akan menjadi keunggulan kompetitif yang berbeda satu sama lain. Perusahaan media yang memanfaatkan teknologi dan data secara efektif memiliki peluang pertumbuhan margin yang sehat.
Diversifikasi bisnis menekan ketergantungan iklan
Sebagian besar perusahaan media yang tercatat di BEI, sudah melakukan diversifikasi bisnis seperti ke sektor pelayanan e-commerce, layanan konten berbayar, merchandising, hingga live event. Diversifikasi tersebut membantu menekan ketergantungan sepenuhnya pada iklan, yang seringkali siklikal.
Transformasi digital perluas portofolio pendapatan
Perusahaan media dengan pemanfaatan transformasi digital akan lebih mumpuni dalam pengembangan konsumsi konten digital, baik itu OTT, streaming, hingga sosial media. Pada gilirannya ini akan membuka peluang baru bagi perusahaan media, untuk melakukan monetisasi konten digital, iklan berbasis data, hingga peningkatan pendapatan langganan. Jika perusahaan ini berhasil melakukan integrasi antara konten tradisional dengan digital, maka prospek yang lebih sustainable di 2026 lebih terbuka. Salah satu yang potensial, ialah perusahaan media yang telah mengembangkan model bisnis omnichannel/streaming.
π₯ RK Intensive Bootcamp 2026
Program kelas belajar saham intensif bersama Rivan Kurniawan & Team selama 5 bulan.
π‘ RK Intensive Bootcamp adalah solusi lengkap untuk mempelajari investasi saham secara menyeluruh. Program ini menggabungkan:
- π Stock Market Mastery
- π Stockademy
- π Valuation Class
Semua kelas tersedia dalam satu paket bundling dengan potongan lebih dari Rp 3 juta.
Peserta mendapatkan akses penuh ke materi eksklusif yang disusun langsung oleh Rivan Kurniawan dan Team. Di akhir program, Anda siap menjadi investor saham profesional yang percaya diri.
π Belajar lebih lengkap, lebih cepat, dan lebih hemat β hanya dalam satu bootcamp.

Risiko Investasi Saham Media
Di balik peluang, sektor media juga menyimpan risiko yang perlu diperhatikan:
Biaya produksi konten yang relatif tinggi
Lonjakan biaya akan seringkali terjadi, ketika perusahaan berupaya mempertahankan jumlah audiens, dengan memproduksi beragam konten yang berkualitas. Meski nantinya kualitas konten semakin menarik, namun potensi margin tergerus juga besar, terlebih lagi bila tidak diimbangi dengan monetisasi yang maksimal.
Perubahan pola konsumsi konten
Beralihnya tayangan televisi konvensional ke platform digital dan streaming, telah memukul mundur kinerja media tradisional, di mana jumlah audiens menurun dan rating yang merosot. Dengan dampaknya yang secara langsung tercermin pada penurunan pendapatan iklan.
Kompetisi yang ketat dan tekanan margin pendapatan
Khusus bagi perusahaan media yang lamban dalam beradaptasi ke arah digital, tentu akan sangat berisiko menghadapi digitalisasi media. Sebut saja beberapa platform media global dengan debut audiens yang cukup tinggi, seperti TikTok, YouTube, hingga Netflix, yang menawarkan keunggulan teknologi, kemudahan penggunaan di mana saja, hingga skala ekonomi yang lebih kuat. Tak ayal kondisi tersebut mampu menekan margin pendapatan perusahaan.
Volatilitas Kinerja Keuangan
Siklus pendapatan media cenderung tidak stabil, bahkan sangat ketergantungan pada musim liburan, event besar, atau bahkan aktivitas politik maupun ekonomi. Hal ini berdampak pada pertumbuhan laba yang fluktuatif dari tahun ke tahun.
Risiko terjadinya disrupsi teknologi
Beralihnya teknologi media secara masif ini, sangat berpengaruh pada model bisnis yang lama menjadi usang. Hal ini akan sangat memukul kinerja perusahaan media yang tidak mampu beradaptasi dan melakukan inovasi, sehingga kehilangan relevansi dan pangsa pasar.
Risiko kebijakan regulasi dan/atau konten
Industri media diatur oleh berbagai regulasi baik itu terkait dengan perizinan, penyiaran, hingga sensor tayangan. Adapun perubahan kebijakan dan/atau sanksi regulasi akan sangat memengaruhi kinerja operasional maupun reputasi perusahaan media.
Ketergantungan terhadap belanja iklan
Sumber pendapatan utama perusahaan media adalah berasal dari iklan. Jadi ketika perekonomian melemah, maka anggaran iklan akan menjadi yang pertama untuk dipangkas. Akibatnya ini akan langsung menggerus pendapatan dan laba perusahaan.
Oleh sebab itu, saham media tidak cocok untuk investor dengan pendekatan spekulatif jangka pendek, bahkan dilakukan tanpa analisis fundamental secara mendalam.
Kesimpulan
Saham sektor media di tahun 2026 masih menawarkan peluang yang menarik. Dengan catatan, investor mampu memahami perubahan industri media dan memilih emiten berdasarkan strategi adaptif. Mengingat, sektor media ini membutuhkan analisis fundamental yang lebih dalam dibandingkan sektor defensif lainnya.
Platinum Member bersama Rivan Kurniawan, sebuah akses lengkap ke layanan dan berbagai insight eksklusif yang berbasis Value Investing, serta berdasarkan analisa fundamental. Platinum Member ini layak dipertimbangkan sebagai panduan investasi saham jangka panjang. Agar Anda lebih mampu memahami sektor-sektor dinamis seperti media, dan tepat dalam membangun portfolio investasi secara rasional, serta berkelanjutan. Butuh navigasi berselancar di saham media dengan strategi yang lebih terarah? Platinum Member Rivan Kurniawan jawaban yang tepat!***
###
DISCLAIMER ON:
Tulisan ini bukan rekomendasi jual dan beli. Semua data dan pendapat pada artikel adalah bersifat informasi yang mengedukasi pembaca, berdasarkan sudut pandang penulis pribadi. Risiko investasi berada pada tanggung jawab masing-masing investor. Do Your Own Research!
Temukan Artikel Analisa dan Edukasi Saham lainnya diΒ Google News.

