Saham Bank di BEI

Terakhir diperbarui Pada 7 Januari 2026 at 3:57 pm

Sektor perbankan merupakan salah satu pilar utama di Bursa Efek Indonesia (BEI), yang sekaligus sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia. Hampir seluruh aktivitas ekonomi, seperti konsumsi, investasi hingga ekspansi bisnis sangat bergantung terhadap peran bank. Bahkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun tidak lepas dari kontribusi saham-saham perbankan. Tidak heran, jika saham bank selalu menarik perhatian investor dan kerap menjadi fondasi dalam portfolio investasi jangka panjang. Untuk itu, sebelum berinvestasi pada saham bank, ada baiknya untuk memahami faktor-faktor apa saja yang memengaruhi kinerjanya! Langsung saja kita bahas…

 

Industri Perbankan di Indonesia

Industri perbankan Indonesia memiliki struktur yang relatif kuat dan stabil, didukung pengawasan ketat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI). Perbankan di Indonesia memegang peran sebagai intermediary, yang menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit.

Dalam beberapa tahun ke belakang, industri perbankan di Indonesia juga telah mengalami transformasi besar melalui digitalisasi layanan, peningkatan efisiensi operasional, hingga adaptasi sistem terhadap perubahan regulasi dan kondisi makroekonomi. Faktor transformasi inilah yang membuat kinerja saham bank sangat menarik untuk dianalisis dari sisi fundamental.

 

Ingin menyusun investing plan, tapi memiliki waktu yang terbatas untuk mengolah informasi. Segera manfaatkan Monthly Investing Plan yang telah terbit!

Banner Monthly Investing Plan 2024

Bagi teman-teman investor yang ingin berlangganan Monthly Investing Plan, bisa menggunakan voucher…

Voucher Monthly Investing Plan RK

 

Daftar Saham Bank di BEI

Saham bank di BEI dapat diklasifikasikan berdasarkan ukuran dan segmentasi pasar, beberapa contoh diantaranya:

Bank BUMN

  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
  • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
  • PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)
  • PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)

Bank Swasta Besar

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
  • PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA)
  • PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN)

Bank Digital dan Bank Menengah

  • PT Bank Jago Tbk (ARTO)
  • PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB)
  • PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS)

Dari sejumlah bank di atas, masing-masing memiliki karakteristik bisnis, target pasar, dan profil risiko yang berbeda, sehingga tidak dapat disamaratakan dalam penerapan strategi investasinya.

 

Faktor-faktor yang Memengaruhi Kinerja Saham Bank

Kinerja saham bank sangat rentan dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal maupun eksternal, yang di antaranya:

  • Suku Bunga Acuan

    Perubahan suku bunga BI akan sangat memengaruhi margin bunga bersih (NIM) bank. Kenaikan suku bunga dapat mendorong kenaikan pendapatan bunga. Namun di waktu yang sama, juga berisiko menekan permintaan kredit bank.

Suku bunga merupakan faktor paling krusial bagi sektor perbankan. Di mana ketika suku bunga naik, maka margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) bank berpotensi tertekan, karena biaya dana akan meningkat. Sebaliknya, saat suku bunga turun, maka permintaan kredit cenderung akan naik, yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan laba bank.

Untuk itu, sebagai investor sebelum memutuskan membeli saham perbankan, pastikan sudah memahami bahwa perubahan suku bunga tidak selalu berdampak instan, melainkan akan secara bertahap sesuai dengan struktur kredit dan dana pihak ketiga bank.

 

  • Kualitas Kredit (NPL)

    Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) menjadi indikator utama kesehatan bank. Apabila, semakin rendah tingkat NPL, maka akan semakin baik kualitas aset bank tersebut dan manajemen risiko yang juga efektif.

Begitu pula sebaliknya, ketika semakin tinggi tingkat NPL, maka kondisi bank berada dalam situasi buruk. Di situasi ini, bank harus membentuk cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang dapat menekan laba bersih. Dan biasanya kondisi ini akan langsung tercermin pada pergerakan harga saham bank di pasar.

Bank Indonesia (BI) sendiri menetapkan NPL wajar di bawah 5%, yang mengindikasikan bahwa bank dalam kondisi sehat. Sedangkan NPL di atas 5% dapat dikategorikan ‘tidak sehat’, yang berarti bank menghadapi masalah serius.

 

  • Pertumbuhan Penyaluran Kredit

    Bank yang mampu mendorong penyaluran kredit secara sehat, cenderung akan mencatatkan pertumbuhan laba yang berkelanjutan. Itu mengapa, baik buruknya kinerja saham bank sangat ditentukan oleh kemampuan bank dalam menyalurkan kredit.

Apabila penyaluran kredit berhasil tumbuh dengan baik, ini berarti mencerminkan ekspansi bisnis dan potensi peningkatan pendapatan bunga bank di kemudian hari. Tetapi penyaluran kredit yang terlalu agresif dan tanpa manajemen risiko, justru berpotensi meningkatkan risiko kredit bermasalah. Oleh sebab itu, investor perlu melihat kualitas pertumbuhan kredit, bukan hanya pada angka semata.

 

  • Efisiensi Operasional

    Rasio BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional) mencerminkan efisiensi manajemen bank. Ketika tingkat BOPO semakin rendah, maka semakin efisien operasional bank dalam menghasilkan laba.

BOPO ini menunjukkan kemampuan Bank dalam mengendalikan biaya operasional, mengoptimalkan digitalisasi, dan meningkatkan produktivitas jaringan. Dengan begitu, biasanya sebuah bank memiliki daya saing yang kuat dalam jangka panjang.

 

  • Permodalan dan Rasio CAR

Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) menunjukkan kemampuan bank dalam menyerap risiko. Bank dengan CAR yang kuat akan memiliki ruang yang lebih besar untuk ekspansi kredit. Sekaligus daya tahan yang baik ketika terjadi tekanan ekonomi.

Ketahanan struktur permodalan yang kuat dan solid tersebut, memberikan rasa aman terhadap keberlanjutan bisnisnya di masa mendatang. Dan faktor ini yang banyak dicari oleh investor jangka panjang.

 

  • Kondisi Makroekonomi dan Regulasi

    Inflasi, pertumbuhan ekonomi, kebijakan pemerintah dan regulator, nilai tukar maupun stabilitas politik akan sangat memengaruhi kinerja sektor perbankan. Ketika perekonomian tumbuh positif, maka permintaan kredit akan ikut meningkat dan kualitas aset membaik.

Namun sebaliknya, ketika terjadi perlambatan ekonomi maka kinerja bank akan tertekan secara keseluruhan. Ini sebabnya, mengapa saham bank seringkali menjadi barometer kondisi ekonomi Nasional.

 

Alasan Mengapa Saham Bank Menarik Perhatian Investor

Saham bank sering menjadi pilihan utama investor, salah satu alasan utamanya karena model bisnis perbankan yang relatif mudah dipahami dan memiliki peran vital dalam kelangsungan sistem keuangan. Bukan hanya itu, perbankan besar pada umumnya memiliki moat atau keunggulan kompetitif yang kuat, baik itu dari sisi jaringan, skala bisnis, maupun kepercayaan nasabah. Dan bagi para investor jangka panjang, saham perbankan kerap dianggap sebagai “core holding” dalam portfolio investasi.

 

Keuntungan dan Risiko Saham Bank

Di bawah ini adalah beberapa potensi keuntungan dan risiko yang mungkin terjadi, ketika berinvestasi di saham-saham bank.

Keuntungan Investasi Saham Bank

  • Fundamental bisnis yang relatif stabil
  • Likuiditas saham tinggi, terutama bank besar alias BUKU IV
  • Potensi pembagian dividen yang rutin
  • Pertumbuhan kinerja, yang sejalan dengan ekonomi nasional
  • Cocok untuk strategi investasi jangka panjang

Risiko Investasi Saham Bank

  • Risiko kredit macet, akibat perlambatan ekonomi
  • Tekanan margin, akibat perubahan suku bunga
  • Risiko regulasi dan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada perbankan
  • Volatilitas harga saham, akibat sentimen pasar

Tanpa pemahaman fundamental yang memadai, investor bisa salah menilai risiko yang ada.

 

Strategi Investasi Saham Bank

Terdapat beberapa strategi berinvestasi saham bank, yang harusnya tidak diabaikan investor, yakni berdasarkan:

  • Analisis laporan keuangan (CAR, NPL, ROA dan ROE, LDR, LCR, BOPO, NIM, CASA, pertumbuhan kredit dan DPK)
  • Memilih bank dengan manajemen dan tata kelola yang baik.
  • Memperhatikan valuasi saham, bukan hanya popularitas bank.
  • Menyesuaikan tujuan dan profil risiko investor.
  • Diversifikasi antar bank dan/atau ke sektor lain

Investor yang disiplin tidak hanya membeli saham bank karena “besar”, tetapi karena memahami kualitas bisnis di baliknya.

 

RK Intensive Bootcamp 2026: Belajar Saham Bank Secara Terstruktur

Memahami saham bank di BEI sebaiknya, bukan hanya dari permukaan saja. Di mana sebaiknya, investor benar-benar memahami kualitas kinerja dan kesehatan perbankan dari rasio-rasio bank. Sehingga dibutuhkan kemampuan untuk membaca laporan keuangan, memahami siklus ekonomi, dan menilai valuasi saham bank secara objektif.

Semua hal tersebut dapat Anda pelajari secara komprehensif dalam program RK Intensive Bootcamp 2026, sebuah program edukasi investasi saham yang dirancang secara langsung oleh Rivan Kurniawan.

Melalui RK Intensive Bootcamp 2026, Anda akan belajar menganalisis saham perbankan secara mendalam, menyusun tesis investasi yang kuat, hingga bagaimana cara membangun portfolio saham yang lebih terukur dan berkelanjutan. Program bootcamp ini tidak hanya mengajarkan “apa yang dibeli”, tetapi juga mengapa dan kapan membeli saham.

Jika Anda ingin naik kelas dari sekadar ikut-ikutan menjadi investor yang benar-benar paham saham bank dan sektor lainnya, RK Intensive Bootcamp 2026 menjadi jawaban tepat bagi Anda. Segera gabung di sini!***

 

###

 

DISCLAIMER ON:
Tulisan ini bukan rekomendasi jual dan beli. Semua data dan pendapat pada artikel adalah bersifat informasi yang mengedukasi pembaca, berdasarkan sudut pandang penulis pribadi. Risiko investasi berada pada tanggung jawab masing-masing investor. Do Your Own Research!

 

Temukan Artikel Analisa dan Edukasi Saham lainnya di Google News.

1
Pastikan rekan Investor tidak ketinggalan Informasi ter-update

Subscribe sekarang untuk mendapatkan update artikel terbaru setiap minggunya

reCaptcha v3
keyboard_arrow_leftPrevious
Nextkeyboard_arrow_right

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *