Strategi Investasi Saham di Tengah Perang

Artikel telah ditinjau oleh: Stock Market Analyst RK Team  

Perang di wilayah Timur Tengah yang melibatkan Israel, Amerika Serikat (US), Iran saat ini sedang berlangsung sengit, hingga menjadi faktor geopolitik utama dunia dan memengaruhi market global. Pasalnya konflik yang melibatkan tiga Negara ini telah meningkatkan risiko ekonomi global, seperti halnya lonjakan harga minyak hingga berdampak pada supply chain. Di lain sisi turut menimbulkan volatilitas di pasar saham Indonesia, dengan IHSG bergerak di kisaran 7.900an – 8.200an. Di situasi ini, investor perlu melakukan penyesuaian strategi investasi saham, terutamanya dalam menghadapi risiko dan mendapatkan peluang yang tersedia, serta melindungi modal dari dampak turbulensi market. Langsung saja kita bahas…

 

Kronologi Perang Israel – US dan Iran

Perang Israel – US dan Iran Bukan Pertama Kali Terjadi

Konflik di Timur Tengah saat ini, bukan yang pertama kali terjadi, apalagi dengan keterlibatan Amerika Serikat. Adapun yang membedakan konflik ini adalah skalanya. Di mana sejak revolusi Iran tahun 1979, Isreal dan Iran ini sudah tidak memiliki hubungan diplomatik, bahkan keduanya saling menganggap masing-masing adalah ancaman eksistensial. Dan selama puluhan tahun, konflik keduanya lebih banyak berupa perang bayangan (proxy war) hingga serangan siber.

Dalam hal serangan langsung antara Israel dan Iran, pernah terjadi di April 2024. Dan sebelumnya, di 13 April 2024 Iran secara langsung melakukan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel, sebagai bentuk balasan atas serangan Israel di wilayah Suriah. Serangan langsung ini cukup berskala besar yang pertama kali dari Iran terhadap Israel, yang turut menandai eskalasi signifikan dari konflik yang sebelumnya lebih banyak proxy war dan serangan siber.

Berikutnya di 1 Oktober 2024, Iran kembali melancarkan sekitar 200 rudal balistik ke Israel, termasuk pangkalan militer. Hal yang sama, Israel turut melakukan serangan balasan ke wilayah Iran. Kendati perang Israel – Iran sudah terjadi dari tahun sebelumnya, namun konflik yang terjadi masih berupa klasifikasi benturan langsung yang cukup intens dan sporadis, di mana hanya serangan rudal dan saling balasan udara. Yang berarti tingkatnya masih di bawah level perang penuh yang melibatkan banyak serangan besar ke infrastruktur penting dan operasi militer jangka panjang.

Sementara yang terjadi dari Februari 2026, perang langsung sudah mulai mengarah pada mobilisasi besar-besaran, hingga rilisnya pengumuman perang resmi di seluruh front. Perang kali ini erat kaitannya dengan program nuklir Iran, program rudal balistik, hingga dukungan Iran terhadap milisi di kawasan. Untuk negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran sendiri berkaitan dengan pembatasan nuklir baru berlangsung sampai akhir Februari 2026 kemarin, sayangnya hal tersebut justru berakhir tanpa kesepakatan. Dan untuk operasi militer besar yang direncanakan Israel dan Amerika Serikat selama beberapa minggu sebelumnya adalah bentuk respon atas ancaman yang ditafsirkan dari program Iran.

 

Tiba Hari Serangan: 28 Februari 2026

Tertanggal 28 Februari 2026, Israel dan Amerika Serikat akhirnya memulai serangan militer besar melalui udara secara bersamaan ke wilayah Iran. operasi serangan ini dinamai  Operation Epic Fury oleh AS dan Roaring Lion oleh Israel.

Israel dan Amerika Serikat mengklaim bahwa serangan ini adalah pre-emptive strike (operasi awal) terhadap sasaran militer, termasuk pertahanan udara, pangkalan rudal, fasilitas intelijen, hingga infrastruktur yang dinilai sebagai ancaman. Dengan target utama untuk menghancurkan program nuklir Iran, melumpuhkan kemampuan rudal balistik, melemahkan kekuatan angkatan laut, serta menggoyang stabilitas rezim Republik Islam Iran.

Serangan terjadi setelah perundingan nuklir di Jenewa gagal total, menyusul penolakan Iran untuk membongkar fasilitas nuklir utama dan menghentikan pengayaan uranium. Dengan ledakan terbesar di Teheran, menyusul beberapa kota lainnya di Iran.

Dampak serangan udara tersebut, membuat sekolah dasar perempuan di kota Minab – Provinsi Hormozgan – Iran terkena serangan misil, hingga menewaskan puluhan anak dan korban luka-luka. Dari laporan awal, tercatat ratusan korban jiwa dan cidera. Tidak hanya itu, imbas serangan udara tersebut Menteri Pertahanan Iran – Amir Hatami dan Komandan Garda Revolusi Iran – Mohammed Pakpour dinyatakan menjadi korban.

Selepas itu, Iran pun melancarkan serangan balasan dengan menargetkan pangkalan militer US yang berada di beberapa negara Timur Tengah. Serangan ini pun sudah diperingatkan oleh pejabat Iran, bahwa mereka akan memberi serangan kepada negara-negara di Timur Tengah yang memberi fasilitas penampungan bagi pasukan militer US.

Sayangnya, serangan balasan dari Iran ini justru menuai kritik keras dari kerajaan Arab Saudi yang mengungkapkan tindakan Iran telah melanggar kedaulatan sebuah negara, sekaligus akan mendukung penuh negara-negara Timur Tengah yang ingin membalas tindakan tersebut.

 

Dampak Perang Israel – US dan Iran

Dampak global

Dari serangan yang saling balas antara Israel – US dan Iran tersebut, tentu menimbulkan sejumlah dampak besar yang terjadi secara global, antara lain:

  • Pertama, gangguan pasokan minyak

Dampak dari perang Israel – US dan Iran adalah banyaknya kapal pengangkut minyak yang menghindari untuk melewati Selat Hormuz di dekat Iran. Selat Hormuz ini merupakan jalur sempit sekitar ±33 km di titik tersempit, yang menghubungkan Teluk Persia ke Laut Arab. Selat ini menjadi akses bagi negara produsen besar seperti Iran, Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab dalam menyalurkan ekspor minyak dan LNG milik mereka.

Ini berarti, ketika terjadi konflik langsung dengan Israel – US seperti sekarang, Iran memiliki kemampuan untuk membuat ranjau laut, menggunakan kapal cepat maupun drone, atau bahkan meluncurkan rudal anti kapal dari darat, maupun mengganggu navigasi tanker.

Bahkan tanpa harus menutup total, baru-baru ini perusahaan asuransi maritim internasional telah mengeluarkan peringatan keras dan mulai mencabut dan/atau membatalkan jaminan risiko perang (war risk coverage) bagi kapal-kapal tanker minyak yang melintasi maupun beroperasi di sekitar Selat Hormuz dan Teluk Persia. Tentunya hal ini akan membuat perusahaan produsen minyak menghentikan pengiriman.

Sebagai tambahan informasi saja, meski Arab Saudi dan UEA memiliki pipa darat ke Laut Merah (Fujairah). Namun memang kapasitasnya tidak cukup besar menggantikan seluruh volume yang biasa melalui Hormuz. Jika sampai terjadi Selat Hormuz ditutup, besar kemungkinan akan memaksa kapal-kapal untuk memutar melewati Afrika, artinya ini akan terjadi keterlambatan hingga berminggu-minggu.

  • Kedua, lonjakan harga minyak

Jika risiko penutupan Selat Hormuz meningkat, maka dampaknya bukan hanya keterlambatan pengiriman. Namun juga akan mendorong lonjakan harga minyak global secara signifikan. Hal ini tercermin dari pergerakan harga Brent dan WTI minyak mentah global yang melonjak tajam, dampak dari kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Gambarannya berikut ini:

Pergerakan harga minyak Brent dan WTI. Source: tradingeconomics.com

Selain dari Selat Hormuz, lonjakan harga minyak juga dipicu oleh penyerangan Iran yang menargetkan negara-negara dengan produksi minyak terbesar di dunia. Adapun yang terbaru yang saat ini, adalah salah satu kilang minyak terbesar yakni Kilang Ras Tanura milik perusahaan migas Saudi Arabia, Aramco yang akhirnya ditutup usai terkena serangan drone pada 2 Maret 2026 kemarin. Kilang minyak yang berada di pesisir Teluk Saudi ini merupakan salah satu yang terbesar di Timur Tengah dengan kapasitas 550.000 barrel per day (bph) dan berfungsi sebagai terminal ekspor utama minyak mentah Saudi.

  • Ketiga, lonjakan harga emas secara signifikan

Secara historical, konflik besar bahkan melibatkan tiga negara secara sekaligus, antara Israel – US dan Iran, mampu mendorong lonjakan harga emas secara signifikan, terutamanya dalam jangka pendek. Seperti kita tahu, emas dianggap sebagai aset lindung nilai (safe haven) paling aman terhadap lonjakan inflasi, bahkan ketika risiko geopolitik meningkat. Dan jika konflik mengganggu Selat Hormuz, hingga menyebabkan harga minyak melonjak, sudah tentu biaya energi akan ikut mengalami kenaikan, dan inflasi global juga berpotensi terjadi. Tidak heran, ketika inflasi naik, maka permintaan emas juga ikut naik. Berikut ini pergerakan harga emas:

Historical harga emas dalam satu tahun terakhir. Source: tradingeconomics.com

  • Keempat, efek domino pada harga batubara

Selain berdampak pada harga minyak mental, perang Israel – US dan Iran berpotensi memberikan efek domino pada kenaikan harga komoditas batubara. Pasalnya ketika harga minyak mentah mengalami kenaikan harga, maka setiap negara akan mencari alternatif yang lebih murah, salah satunya batubara. Jika kondisi ini terjadi, maka harga batubara berpotensi mengalami kenaikan. Sebagai gambaran harga batubara saat ini hampir mendekati $120 per ton, level tertinggi sejak Desember 2024 dengan ekspektasi permintaan global yang lebih besar dibandingkan transisi menuju sumber energi bersih.

Historical harga batubara dalam satu tahun terakhir. Source: tradingeconomics.com

Dampak ke Indonesia

Sedangkan dampak terhadap pasar saham Indonesia, yakni:

  • Pertama, koreksi IHSG

Bercermin dari konflik serangan langsung antara Israel dan Iran pada 13 April 2024 yang lalu, ketika IHSG dibuka per 16 April 2024, justru mengalami penurunan sekitar -1.68%. Bahkan IHSG masih melanjutkan penurunan dari level 7100an ke 6700an di Juni 2024, gambarannya berikut ini:

Namun di tahun 2024 tersebut, penurunan IHSG juga dipengaruhi faktor lain, mulai dari penguatan US Dollar dan The Fed yang saat itu Hawkish. Sebagai hasilnya di periode tersebut, ekspektasi bahwa The Fed menunda pemangkasan suku bunga, sama dengan imbal hasil (yield) US Treasury meningkat, yang berarti US Dollar mengalami penguatan terhadap banyak mata uang, termasuk Rupiah. Kondisi tersebut membuat Rupiah tertekan dan investor asing lebih memilih aset dolar, yang pada gilirannya pasar saham terkoreksi.

Namun untuk di tahun 2026 ini, justru dalam satu tahun terakhir Dollar Index (DXY) terus menurun. Demikian pula dengan US 10 Year Note Bond Yield yang juga menurun, dengan gambaran berikut:

Pergerakan dollar index. Source: tradingeconomics.com

Dari gambaran di atas, dapat diprediksikan besar kemungkinan di bulan Maret 2026 IHSG berpotensi terkoreksi sebagai dampak dari perang Israel – US dan Iran. Hanya saja koreksi ini bersifat sementara. Adapun sebab terlibatnya Amerika Serikat dalam perang antara Israel dan Iran ini, adalah bagian dari strategi Amerika Serikat untuk dapat menguasai supply oil di Iran. Tidak hanya itu saja, tujuan besar lainnya adalah untuk membuat supply minyak ke China terhambat, terlebih lagi China membeli minyak langsung dari Iran yang dilakukan tanpa menggunakan mata uang USD.

  • Kedua, potensi sentimen risk off

Perang Israel – US dan Iran dapat memicu kekhawatiran di market global, tak terkecuali dengan pasar saham Indonesia yang pergerakannya ikut melemah, mengikuti tren global. Di kondisi ini, umumnya investor global akan cenderung keluar dari aset berisiko, seperti halnya sahamnya untuk kemudian beralih ke aset safe haven, seperti emas maupun obligasi. Ketika hal ini terjadi, maka permintaan terhadap saham Indonesia akan mengalami pengurangan sementara.

  • Ketiga, lonjakan harga minyak dan menekan emiten energi

Konflik yang masih terjadi, setidaknya akan mendorong harga minyak dunia naik signifikan, sebagai bentuk kekhawatiran terganggunya pasokan lantaran akses pengiriman melalui Selat Hormuz. Adapun jika harga minyak terus tinggi, maka biaya energi dan bahan bakar di Indonesia juga ikut melonjak. Pada gilirannya ini akan memengaruhi margin laba perusahaan energi. Bukan itu saja, harga minyak yang melonjak mencerminkan adanya potensi inflasi domestik yang meningkat dan dapat menekan kinerja saham sektor yang sangat sensitif terhadap kenaikan biaya produksi.

  • Keempat, risiko pelemahan Rupiah

Hingga per artikel ini ditulis nilai tukar Rupiah masih berada dalam zona pelemahan di kisaran Rp 16.700an – Rp 17.020an di berbagai bank di Indonesia. Pergerakan Rupiah sendiri sampai hari ini masih dipengaruhi oleh reaksi pasar berkaitan dengan eskalasi yang belum pernah terjadi di wilayah Timur Tengah. Belum lagi dengan pembunuhan tokoh paling berpengaruh di Iran, kian meningkatkan kekawatiran konflik regional yang lebih luas, disusul potensi gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz.

 

Lantas, Strategi Investasi Saham Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Terdapat beberapa strategi investasi saham yang sebaiknya dilakukan di tengah perang Israel – US dan Iran, di mana setidaknya ini dapat menjaga keamanan aset di kondisi pasar yang volatil, antara lain:

  • Pertama, hindari panic selling mengikuti arus market

Situasi market merah sebagai dampak dari kekhawatiran perang Israel – US dan Iran, sebenarnya dapat dikatakan wajar. Untuk itu sebaiknya hindari sikap panic selling. Perlu diingat, ketika saham-saham yang ada dalam portfolio tidak memiliki relevansi dengan perang yang terjadi, maka koreksi harga saham yang terjadi hanya bersifat sementara. Sedikit flashback, dari berbagai turbulensi yang terjadi dalam 5 – 6 tahun terakhir, hasil akhirnya selalu sama yakni market dan harga saham akan kembali ke titik rebound higher.

  • Kedua, tetap berinvestasi, namun siapkan juga uang tunai

Ubah cara pandang untuk tidak mengikuti arus market, yang berujung pada panic selling. Adapun sebaiknya, memandang situasi market saat ini sebagai sebuah kesempatan (opportunity). Perlu diingat, bahwa di tengah pesimisme market, justru di saat itu opportunity lahir. Demikian pula, ketika banyak investor panic selling, maka di saat itu harga saham akan diperdagangkan lebih murah. Oleh sebab itu, pegangan uang tunai (cash) sangat penting, lantaran hal ini dapat menjaga psikologis kita tetap tenang.

  • Ketiga, buy on weakness

Ya, untuk memanfaatkan kesempatan yang ada, kita dapat melakukan buy on weakness. Salah satunya dengan memanfaatkan GTC Order Harga Bawah. Jadi di tengah kondisi panic selling, kita dapat memanfaatkan untuk membeli saham di harga termurahnya. Umumnya, kita dapat memasang GTC order di 5% – 10% di bawah harga saham saat ini (besaran order sebaiknya sesuaikan dengan kondisi market secara realtime). Jadi dengan begini, kita tidak secara sekaligus menghabiskan sisa cash yang ada. Karena pembelian saham kita lakukan secara berkala.

  • Keempat, utamakan rasionalitas dan fundamental saham

Bursa sendiri mengimbau para pelaku pasar, untuk tidak tergesa-gesa dalam membuat keputusan yang seringkali melibatkan emosional tak terukur. Adapun yang sebaiknya dilakukan adalah tetap fokus pada kinerja fundamental emiten, mengingat penurunan saham yang terjadi saat ini bukan semata-mata karena kinerja bisnisnnya. Melainkan karena adanya sentimen geopolitik dan konflik yang belum pasti. Untuk itu alangkah baiknya, untuk selalu melakukan analisis fundamental secara cermat dan perhatikan prospek bisnis jangka panjang emiten.

 

Kesimpulan

Pada dasarnya perang Israel – US dan Iran kali ini tentu akan memberikan dampak psikologis yang ‘cukup negatif’ terutamanya ke market, namun ini terjadi hanya dalam jangka pendek. Untuk itu, sebagai investor yang bijak sangat penting untuk mampu menjaga dan mengendalikan sisi psikologis diri, agar tetap tenang menghadapi volatilitas market yang hampir tidak dapat ditebak.

Beberapa tips yang dapat dilakukan sebagai investor:

  • Usahakan tetap rasional dan hindari rasa panik berlebihan. Salah satunya dengan mengurangi membaca headline berita yang bombastis berkenaan dengan perkembangan perang, baik itu di berita maupun media sosial.
  • Lakukan self assessment berulang. Misalnya analisis apakah emiten yang dipegang terdampak negatif secara langsung oleh perang? Jika tidak, maka tetaplah tenang.
  • Ubah cara berpikir menjadi: Wah ada kesempatan membeli nih. Ketimbang berpikir: Wah saham bakalan hancur. Cara berpikir yang positif ini akan membantu kita lebih bijak dan menemukan kesempatan yang tersembunyi.
  • Fokus terhadap apa yang dapat kita kontrol. Terutamanya dalam mengontrol emosi dan psikologis diri, dengan melakukan analisis terlebih dulu, memiliki emiten dengan fundamental yang baik, valuasi terdiskon, dan memiliki growth story yang baik dan unlock value.
  • Tetap fokus pada tujuan jangka panjang. Perlu diingat anjloknya market mungkin terjadi sementara. Namun dari berbagai macam pengalaman market selalu sama, yakni market akan kembali rebound.

 

###

 

DISCLAIMER ON:
Tulisan ini bukan rekomendasi jual dan beli. Semua data dan pendapat pada artikel adalah bersifat informasi yang mengedukasi pembaca, berdasarkan sudut pandang penulis pribadi. Risiko investasi berada pada tanggung jawab masing-masing investor. Do Your Own Research!

 

Temukan Artikel Analisa dan Edukasi Saham lainnya di Google News.

1
Pastikan rekan Investor tidak ketinggalan Informasi ter-update

Subscribe sekarang untuk mendapatkan update artikel terbaru setiap minggunya

reCaptcha v3
keyboard_arrow_leftPrevious
Nextkeyboard_arrow_right

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *